Tampilkan postingan dengan label Penyakit Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Oktober 2021

BOSAN

 AL-MALAL(BOSAN)

Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ، " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَتْ: فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، قَالَ: مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا، وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Hisyaam,ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ayahku, dari ‘Aaisyah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemuinya yang waktu itu di sebelahnya ada seorang wanita. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapakah ini ?”. ‘Aaisyah berkata : “Fulaanah”. Lalu ia (‘Aaisyah) menyebutkan tentang shalatnya (yang banyak dan lama). Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ah, wajib bagimu beramal sesuai sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 43].

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam menafsirkan al-malal (bosan) dalam hadits di atas.

Abu Ishaaq Al-Harbiy rahimahullah berkata :

قولـه : ((لا يَمَلُّ الله حتى تملوا)) : أخبرنا سلمة عن الفراء ؛ يقال : مللت أمَلُّ : ضجرت، وقال أبو زيد : ملَّ يَمَلُّ ملالة ، وأمللته إملالاً ، فكأنَّ المعنى لا يملُّ من ثواب أعمالكم حتى تملُّوا من العمل

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan’. Telah mengkhabarkan kepada kami Salamah, dari Al-Farraa’, dikatakan :  maliltu amallu, yaitu : aku bosan. Abu Zaid berkata : ‘malla yamallu malaalatan wa amlaltuhu imlaalan; maka seakan-akan maknanya Allah tidak bosan memberikan pahala dari amal-amal kalian hingga kalian bosan untuk beramal” [Ghariibul-Hadiits, 1/338].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

قوله: إن الله لا يمل حتى تملوا، معناه عند أهل العلم إن الله لا يمل من الثواب والعطاء على العمل حتى تملوا أنتم، ولا يسأم من أفضاله عليكم، إلا بسآمتكم عن العمل له

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan’; maknanya menurut para ulama adalah bahwa Allah tidak akan bosan memberikan pahala dan balasan terhadap amal hingga kalian bosan (untuk beramal). Allah tidak akan jemu untuk mencurahkan kebaikan-Nya kepada kalian, kecuali dengan kebosanan kalian untuk beramal untuk-Nya” [At-Tamhiid, 1/194].

Ad-Diinawariy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، نَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ: مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " اكْلَفُوا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ". وَتَأْوِيلُهُ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَمَلُّ إِذَا مَلِلْتُمْ، وَمِثَالُ هَذَا الْكَلامِ: قَوْلُكَ: هَذَا الْفَرَسُ لا يَفْتُرُ حَتَّى تَفْتُرَ الْخَيْلُ، يُرِيدُ أَنَّهُ لا يَفْتُرُ إِذَا فَتَرَتْ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (Ibnu Qutaibah), ia berkata : “Makna sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Bebanilah diri kalian amal-amal yang sanggup kalian lakukan, karena Allah ‘azza wa jalla tidak akan bosan hingga kalian bosan’Dan ta’wilnya adalah : Bahwasannya Allah ‘azza wa jalla tidak merasa bosan apabila kalian bosan. Yang semisal dengan perkataan ini adalah perkataanmu : ‘Kuda ini tidak akan lemah hingga penunggangnya merasa lemah’; maksudnya kuda itu tidaklah akan lemah apabila si penunggangnya lemah” [Al-Mujaalasah no. 1358].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

قوله: (لا يمل الله حتى تملوا) هو بفتح الميم في الموضعين، والملال استثقال الشيء ونفور النفس عنه بعد محبته، وهو محال على الله تعالى باتفاق. قال الإسماعيلي رحمه الله وجماعة من السلف المحققين : إنما أطلق هذا على جهة المقابلة اللفظية مجازا كما قال تعالى: {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan hingga kalian merasa bosan’; dengan difathah huruf mimnya di dalam dua tempat. Bosan adalah merasa berat atas sesuatu dan keengganan jiwa darinya setelah mencintainya. Sifat ini mustahil bagi Allah ta’ala dengan kesepakatan ulama.  Telah berkata Al-Ismaa’iiliy rahimahullah dan sekelompok ulama salaf muhaqqiqiin : ‘Sifat bosan ini hanyalah dimutlakkan dalam segi perbandingan lafdhiyyah secara majaz, sebagaimana firman Allah ta’ala ‘Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa’ (QS. Asy-Syuuraa : 40)” [Fathul-Baariy, 1/102].

Berkaitan dengan hal ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah pernah ditanya :

هل نستطيع أن نثبت صفة الملل والهرولة لله تعالى

“Bolehkah kita untuk menetapkan sifat al-malal (bosan) dan al-harwalah (berlari-lari kecil) bagi Allah ta’ala ?”.

Beliau rahimahullah menjawab :

جاء في الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم قولـه : ((فإنَّ الله لا يَمَلُّ حتى تملوا)).

فمن العلماء من قال : إنَّ هذا دليل على إثبات الملل لله ، لكن ؛ ملل الله ليس كملل المخلوق ؛ إذ إنَّ ملل المخلوق نقص ؛ لأنه يدل على سأمه وضجره من هذا الشيء ، أما ملل الله ؛ فهو كمال وليس فيه نقص ، ويجري هذا كسائر الصفات التي نثبتها لله على وجه الكمال وإن كانت في حق المخلوق ليست كمالاً.

ومن العلماء من يقول : إنَّ قولـه : ((لا يَمَلُّ حتى تملوا)) ؛ يراد به بيان أنه مهما عملت من عمل ؛ فإنَّ الله يجازيك عليه ؛ فاعمل ما بدا لك ؛ فإنَّ الله لا يمل من ثوابك حتى تمل من العمل ، وعلى هذا ، فيكون المراد بالملل لازم الملل.

ومنهم من قال : إنَّ هذا الحديث لا يدل على صفة الملل لله إطلاقاً ؛ لأنَّ قول القائل : لا أقوم حتى تقوم ؛ لا يستلزم قيام الثاني ، وهذا أيضاً : ((لا يمل حتى تملوا)) ؛ لا يستلزم ثبوت الملل لله عَزَّ وجَلَّ.

وعلى كل حال يجب علينا أن نعتقد أنَّ الله تعالى مُنَزَّه عن كل صفة نقص من الملل وغيره ، وإذا ثبت أنَّ هذا الحديث دليل على الملل ؛ فالمراد به ملل ليس كملل المخلوق.

“Terdapat dalam hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga engkau bosan[1]’.

Di antara ulama ada yang berkata : Sesungguhnya hadits ini merupakan dalil penetapan sifat al-malal (bosan) bagi Allah. Akan tetapi, sifat bosan Allah tidaklah seperti sifat bosan makhluk. Sifat bosan makhluk adalah kekurangan, karena hal itu menunjukkan kejemuan dan kebosanan akan sesuatu. Adapun sifat bosan Allah adalah sempurna tanpa ada padanya kekurangan. Sifat ini berjalan sebagaimana seluruh sifat-sifat yang kita tetapkan bagi Allah dalam kesempurnaan; meskipun jika itu ada pada makhluk tidak menunjukkan kesempurnaan.

Di antara ulama ada yang berkata : Sesungguhnya sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Allah tidak akan bosan hingga engkau bosan’, yang dimaksudkan dengannya adalah penjelasan bahwa apabila engkau melakukan suatu amalan, maka Allah akan memberikan balasan pahala atasnya. Maka beramallah selama kalian mampu, karena Allah tidak akan bosan untuk memberikan pahalanya, hingga engkau bosan untuk beramal. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan al-malal (bosan) adalah kelaziman al-malal itu sendiri.

Di antara ulama ada yang berkata : Sesungguhnya hadits ini tidak menunjukkan pada sifat bosan bagi Allah secara mutlak. Hal itu sebagaimana perkataan : laa aquumu hattaa taquumu (aku tidak akan berdiri hingga engkau berdiri) – tidaklah melazimkan berdiri yang kedua (dari si pengucap perkataan). Begitu juga dengan perkataan : Allah tidak bosan hingga engkau bosan’ ; tidaklah melazimkan penetapan sifat bosan bagi Allah ‘azza wa jalla.

Dengan demikian, wajib bagi kita untuk meyakini bahwasannya Allah ta’ala terhindar dari setiap sifat kurang dari sifat bosan atau yang lainnya. Dan apabila telah shahih bahwa hadits ini menunjukkan sifat bosan, maka maksud dari sifat bosan itu, tidaklah seperti sifat bosannya makhluk” [Majmuu’ah Duruus wa Fataawaa Al-Haram, 1/152].

Kesimpulan dalam kalimat terakhir Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah inilah yang raajih sesuai dengan dhahir hadits. Dan ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan yang dibawakan oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy dan Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah di atas, karena itu merupakan penjelasan dan tafsiran dhahirnya. Yaitu, Allah ta'ala tidaklah bosan memberikan pahala atas amal-amal manusia hingga mereka sendiri bosan untuk beramal dan menghentikannya.

Wallaahu a’lam.

Baca juga :Riya Terselubung


[1]      Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 43 & 1151 & 1970 & 5862, Muslim no. 782, Abu Daawud no. 1368, An-Nasaa’iy no. 762, Ibnu Maajah no. 4238, dan yang lainnya.





Rabu, 17 Mei 2017

RIYA YANG TERSELUBUNG

RIYA YANG TERSELUBUNG


Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa'. Sehingga sebagian orang "KREATIF" dalam melakukan riyaa', yaitu riyaa' yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa' tersebut adalah :

Pertama : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Model yang pertama ini adalah model riya' terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa', dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya
Kedua : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, "Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…"

Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa', agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan "Merendahkan diri demi meninggikan mutu"

Kelima : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah

Keenam : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.

Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

Ketujuh : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa'.

        Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa' terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa' akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.

Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.

Baca Juga : BOSAN