SIRAH NABI 1 : MEMPELAJARI SIRAH NABI ﷺ MERUPAKAN BAGIAN DARI AGAMA
Sesungguhnya mempelajari sirah
Nabi ﷺ merupakan bagian dari agama ini. Karenanya salaf terdahulu, mereka
memiliki ihtimām (perhatian besar) di dalam mempelajari sirah Nabi ﷺ. Dan
banyak nukilan-nukilan dari mereka yang menunjukkan betapa besar perhatian
mereka terhadap sejarah Nabi ﷺ.
Seperti yang dinukilkan dari
‘Ali bin al-Husain (anak dari Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thālib) yang dikenal
dengan sebutan Zaynal ‘Abidīn. Beliau pernah berkata:
كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَرَايَاهُ كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Kami dahulu diajari tentang
sejarah peperangan Nabi ﷺ baik yang Nabi ikut serta maupun tidak sebagaimana
kami diajari tentang surat Al-Qurān.” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab
as-Saami’ 2/195)
Ini menunjukkan bahwa para
salaf terdahulu benar-benar menaruh perhatian terhadap sejarah Nabi ﷺ, termasuk
peperangan-peperangan Nabi ﷺ, sebagaimana dahulu mereka mengajarkan tentang
surat-surat dalam Al-Qurān.
Hal yang sama juga ditunjukkan
oleh Al-Imām Az-Zuhriy rahimahullāh Ta’āla, beliau berkata :
فِي عِلْمِ الْمَغَازِي عِلْمُ
الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا
“Dalam ilmu sejarah Nabi ﷺ ada
ilmu akhirat dan ilmu dunia.” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab
as-Saami’ 2/195)
Demikian juga perkataan Ibnul
Jauzi rahimahullāh yang menunjukkan perhatian kepada Sirah Nabi ﷺ, beliau
berkata:
رَأَيْتُ الاِشْتِغَالَ بِالْفِقْهِ
وَسَمَاعِ الْحَدِيْثِ لاَ يَكَادُ يَكْفِي فِي صَلاَحِ الْقَلْبِ، إِلاَّ أَنْ يُمْزَجَ
بِالرَّقَائِقِ وَالنَّظْرِ فِي سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ.
“Aku memandang bahwa hanya
sibuk mempelajari fiqh dan hanya sibuk mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ (yaitu
yang berkaitan dengan fiqh) tidak cukup untuk memperbaiki hati kecuali apabila
digabungkan dengan mempelajari raqāiq (yang dapat melembutkan hati) dan juga
mempelajari sejarah para salafush shālih.” (Shaidul Khathir hal. 228)
Beliau juga berkata :
وَأَصْلُ الأُصُوْلِ الْعِلْمُ،
وَأَنْفَعُ الْعُلُوْمِ النَّظَرُ فِي سِيَرِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابِهِ: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ}
“Pokok dari perkara-perkara
yang pokok adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah memperhatikan
sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. “Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka ikutilah petunjuk
mereka” (QS Al-An’aam : 90)” (Shaidul Khathir hal. 80)
Perhatikan perkataan yang indah dari Ibnul Jauziy rahimahullāh Ta’āla ini. Beliau mengatakan bahwasanya meskipun kita butuh mempelajari ilmu fiqh dan hadits-hadits Nabi ﷺ untuk mempelajari bagian dari agama ini, tetapi hal ini tidak cukup untuk membersihkan dan meluruskan hati. Seseorang butuh untuk mempelajari ar-raqāiq, mengkhususkan waktu untuk mempelajari zuhud dan perkara yang berkaitan dengan akhiratnya. Sehingga dia semakin yakin bahwa dunia ini akan sirna. Dirinya akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dia akan dihadapkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan maut pun akan menjemputnya.
Oleh karena itu, hendaknya
seseorang mempelajari sirah (perjalanan hidup) orang-orang terdahulu. Sebab
ketika ia mempelajari sirah perjalanan orang-orang terdahulu termasuk bagaimana
ibadah mereka, maka hal ini akan meluruskan hatinya, apalagi jika yang
dipelajari adalah sirah Nabi ﷺ.
Selain itu, pada kenyataannya
seseorang tidak akan bisa menguasai ilmu fikih dengan baik dan sempurna jika ia
kurang menguasai sirah Nabi, karena banyaknya hukum-hukum yang berkaitan dengan
sirah dan peperangan-peperangan Nabi. Dengan mengetahui alur sejarah perjalanan
Nabi, hal tersebut akan lebih memudahkan untuk memahami fikih Nabi dan juga
tentang asbabun nuzul ayat dan asbabun wurud hadits yang lebih membantu
memahami fikih ayat dan hadits tersebut.
Al-Khathib al-Baghdadi
rahimahullah berkata :
تَتَعَلَّقُ بِمَغَازِي رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْكَامٌ كَثِيرَةٌ فَيَجِبُ كَتْبُهَا وَالْحِفْظُ
لَهَا
“Banyak hukum yang berkaitan
dengan peperangan-peperangan Nabi ﷺ, wajib untuk mencatat peperangan-peperangan
tersebut dan menjaganya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawi wa Aadaab
as-Saami’ 2/195)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, bahwa beliau memiliki waktu khusus untuk
mengajarkan sirah, padahal beliau adalah shāhabat yang merupakan ahli tafsir
(mufassir) dan orang yang ‘alim di kalangan shāhabat. Akan tetapi, beliau
mengkhususkan waktu untuk mengajarkan sirah Nabi ﷺ, sebagaimana yang diriwayatkan
oleh ‘Ubaidillāh bin ‘Utbah ketika menyifati majelis Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu
Ta’āla ‘anhumā, beliau mengatakan:
وَلَقَدْ كُنَّا نَحْضُرُ
عِنْدَهُ فَيُحَدِّثُنَا الْعَشِيَّةَ كُلَّهَا فِي الْمَغَازِي
“Kami menghadiri majelis Ibnu
‘Abbas pada suatu sore dan seluruh waktu beliau habiskan untuk mengajarkan
tentang sirah Nabi ﷺ (tentang peperangan Nabi ﷺ).” (Maghazi Rasulillah ﷺ li
Urwah bin Az-Zubair hal. 23)
Dengan kata lain, Ibnu ‘Abbas
radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā membuat pengajian khusus tentang sirah Nabi ﷺ.
Karena itulah, mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah perkara yang penting dan termasuk bagian dari agama.
Apabila kita perhatikan, sirah
Nabi ﷺ adalah sirah yang istimewa. Kita sedang mempelajari seorang tokoh yang
tidak sama dengan tokoh yang lain. Terdapat sebuah buku yang berjudul “100
Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah” [The 100, A Ranking to The Most
Influential People in History karya Michael H. Hart, ed]. Dalam buku ini
disebutkan. Ada 100 tokoh yang dianggap paling berpengaruh di dunia, termasuk
yang disebutkan adalah Hitler [Urutan No ke-39]. Penulis buku tersebut,
menjadikan Nabi ﷺ sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh. Selain
beliau ada Budha [Sidharta Gautama, urutan ke-4], Kong Hu Cu [Urutan ke-5] dan
yang lainnya.
Meskipun Michael H. Hart
menjadikan Nabi ﷺ sebagai tokoh nomor 1 paling berpengaruh di dunia, akan
tetapi membandingkan sejarah Nabi dengan sejarah orang-orang ini adalah tidak
pantas. Mengapa demikian? Karena Nabi ﷺ adalah manusia yang berbeda dengan manusia
lainnya. Beliau adalah manusia yang sangat mulia, manusia yang paling
dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Beliau telah mencapai suatu
kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh makhluk selain beliau. Diantaranya
ketika bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla (saat isrā mi’rāj), lalu naik
(mi’raj) ke tempat yang sangat tinggi (sidratul muntaha) untuk bertemu dengan
Allāh Subhānahu wa Ta’āla (dan beliau nyaris bertemu langsung dengan Allāh
Subhānahu wa Ta’āla).
Sampai-sampai sahabat Abu
Ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu bertanya kepada beliau:
هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ عَزَّ
وَجَلَّ؟
“Apakah engkau melihat Rabb-mu
azza wa jalla?”
Nabi ﷺ berkata:
نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ
“Ada cahaya, bagaimana saya
bisa melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” (HR Muslim no 178)
Artinya beliau berada di
tempat yang sangat dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang mana tidak
pernah ada yang sampai ke tempat tersebut. Bahkan menurut para ulama, Jibrīl
sekalipun belum pernah sampai ke tempat tersebut, melainkan hanya Nabi ﷺ saja.
Selain itu, Nabi ﷺ adalah
sosok manusia yang pernah melihat langsung surga dan neraka. Dalam sejumlah
hadits, Rasūlullāh ﷺ diperlihatkan surga dan neraka oleh Allāh Subhānahu wa
Ta’āla. Nabi pernah melihat surga bukan dengan pandangan hati akan tetapi
dengan melihatnya secara langsung, dan Allāh sendirilah yang memperlihatkannya.
Tentu saja seseorang yang pernah melihat surga dan neraka secara langsung akan
tertanam pada dirinya keimanan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sejarah
Nabi bukanlah layaknya sejarah tokoh biasa. Namun beliau hanya pantas
disandingkan dengan para Nabi yang lain. Tidak layak dibandingkan dengan
Hitler, Buddha, Kong Hu Cu atau tokoh-tokoh lainnya.
Selain itu, tokoh-tokoh
tersebut meskipun memiliki pengaruh dan sejarah, akan tetapi sejarah mereka
hanyalah dinilai hebat dalam sebagian sisi kehidupan saja, dan itupun tidak
sempurna. Berbeda dengan sejarah Nabi ﷺ yang menurut para ulama, sejarah beliaulah
satu-satunya yang sempurna dari seluruh sisi dan aspek kehidupan.
Demikian juga, sejarah Nabi ﷺ
adalah sejarah paling lengkap yang pernah ada dibandingkan tokoh-tokoh
tersebut. Sejarah Nabi ﷺ dihimpun mulai dari masa kecil, kemudian masa muda
beliau sebelum diangkat menjadi Nabi, hingga diutus menjadi Nabi, bahkan hingga
beliau ﷺ meninggal dunia. Sungguh, betapa langka sejarah yang ditulis secara
lengkap seperti ini dengan bukti dan kesaksian otentik yang dapat dibuktikan
secara sanad.
Sejarah hidup beliau sarat
dengan pelajaran dari segala sisi. Mulai dari semenjak beliau masih anak-anak,
sebelum diangkat menjadi Nabi, lalu dari sisi figur sebagai seorang kepala
keluarga, seorang ayah, seorang teman, seorang pemimpin (kepala negara), dan
lain-lain yang kesemuanya mengandung pelajaran yang bisa dipetik. Bahkan di
saat beliau berperang dan bermuamalah baik dengan sesama muslim, non muslim,
ataupun terhadap musuh dalam perang, semuanya lengkap terdokumentasi dalam
sejarah Nabi ﷺ. Hal Ini tidak akan bisa didapatkan dalam sejarah tokoh-tokoh
lain. Bahkan sekalipun tentang para Nabi (selain beliau), tidak akan dijumpai
secara lengkap sejarah mereka.
Misalnya, tentang Nabi ‘Isa
‘alayhis salām, apabila kita ingin mencari informasi bagaimana sosok beliau sebagai
seorang ayah, maka tidak akan kita dapati keterangan yang valid dalam sejarah
beliau. Bahkan di dalam kitab yang dianggap suci oleh orang nasrani sekalipun,
yaitu Kitab Injil, tidak akan kita dapati bagaimana sosok Nabi ‘Isa sebagai
seorang ayah. Demikian pula jika kita ingin mencontoh Nabi ‘Isa sebagai seorang
suami, tidak akan kita dapati informasinya di dalam buku-buku yang dianggap
suci oleh mereka.
Tidak berlebihan kiranya jika
dikatakan bahwa sejarah Nabi ﷺ adalah sejarah yang sangat spesial dan istimewa,
berbeda dengan sejarah tokoh-tokoh lain, karena sejarah beliau begitu lengkap
dan terperinci dari segala lini kehidupan. Dan di setiap lini kehidupan Nabi ﷺ
tersebut membuahkan keteladanan yang sangat luar biasa, baik beliau sebagai
seorang ayah, suami, teman, kepala negara, da’i, ataupun mufti (pemberi fatwa),
semuanya ada dan dicontohkan oleh Rasūlullāh ﷺ dalam sejarah beliau.
Pantas kiranya Allāh Subhānahu
wa Ta’āla mengatakan:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ
عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (wahai
Muhammad) benar-benar berada di atas perangai yang mulia.” (QS Al-Qalam 4)
Perhatikanlah bahwa yang
memuji Nabi ﷺ bukanlah manusia, namun yang memuji beliau ﷺ langsung adalah
Rabbul ‘ālamīn, Pencipta alam semesta ini. Dan pujian Allah tersebut diabadikan
dalam Al-Qurān yang dihafalkan oleh jutaan kaum Muslimin.
Dalam ayat di atas, terdapat
banyak penekanan yang Allāh berikan dengan menggunakan huruf taukîd (huruf yang
didatangkan untuk penekanan makna) yang menunjukkan sungguh-sungguh, yaitu :
⑴ wa innaka: sesungguhnya engkau
⑵ la’alā: sungguh-sungguh / benar-benar berada di atas
perangai yang mulia
Oleh karena itu, tidak ada
seorang pun yang kehidupannya dijadikan sumpah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
kecuali Nabi ﷺ. Sebagaimana sumpah Allah dalam surat Al-Hijr, Allāh Subhānahu
wa Ta’āla berfirman:
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي
سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Demi Umurmu (wahai Muhammad),
sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS. Al-Hijr : 72)
Dalam ayat di atas, Allāh
Subhānahu wa Ta’āla sebenarnya sedang menceritakan tentang kisah kaum Nabi Luth
‘alayhissalām yang terjerumus dalam praktek homoseksual, kemudian Nabi Luth
menasehati mereka agar mereka meninggalkannya, namun mereka menolak nasehat
tersebut. Nabi Luth mengatakan: Kalau kalian ingin menikah, maka
هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي إِنْ
كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ
“Inilah putri-putriku jika
kalian hendak berbuat (secara halal).” (QS al-Hijr : 71)
Luth mengatakan : “Janganlah
kalian mendatangi para lelaki, maka nikahilah putri-putriku.” Tetapi mereka
menolaknya. Kemudian di ayat setelahnya, Allah berfirman :
لَعَمْرُكَ …
“Demi umurmu (atau demi
kehidupanmu) (wahai Muhammad)… “
Para ulama menerangkan boleh
dibaca “la’umruka” atau “la’amruka“, keduanya sama maknanya. Akan tetapi, dalam
sumpah biasanya diucapkan dengan memfathahkan ‘ain (la’amruka) yang artinya
“demi kehidupanmu”. Namun bisa pula diucapkan dengan mendhammahkan ‘ain
(la’umruka) yang berarti “demi umurmu”.
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu
menafsirkan : “Demi kehidupanmu wahai Muhammad, sesungguhnya mereka (kaum Nabi
Lūth) benar-benar buta dalam kemaksiatan mereka”. Setelah dinasihati oleh Nabi
Lūth sampai-sampai beliau menawarkan anak-anak wanitanya, namun mereka
menolaknya dan tidak berminat.
Menurut para ulama, dalam ayat
di atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak bersumpah dengan kehidupan atau umur
Nabi Lūth, padahal ayat ini mengisahkan tentang Nabi Lūth ‘alaihis salam dan
kaumnya. Namun Allāh bersumpah dengan kehidupan atau umur Nabi Muhammad ﷺ.
Mengapa demikian? Hal ini karena Allāh tidak pernah bersumpah dengan umur
seseorang kecuali dengan umur Nabi Muhammad ﷺ.
Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhumaa berkata :
“Allah tidak pernah
menciptakan dan tidak pernah menghidupkan satu jiwapun yang lebih mulia dari
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku tidak pernah mendengar Allah
bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain kehidupan beliau ﷺ ” (Tafsir Ibnu
Katsir 4/542)
Mengapa Allāh Subhānahu wa
Ta’āla bersumpah dengan umur Nabi Muhammad ﷺ? Karena seluruh bagian dari umur
Nabi ﷺ adalah kehidupan yang penuh berkah. Hal ini menekankan kepada kita bahwa
sejarah Nabi ﷺ itu sangat spesial, tidak sama dengan sejarah-sejarah yang
lainnya.
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata :
أَقْسَمَ تَعَالَى بِحَيَاةِ
نَبِيِّهِ، صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَفِي هَذَا تَشْرِيفٌ عَظِيمٌ،
وَمَقَامٌ رَفِيعٌ وَجَاهٌ عَرِيضٌ
“Allah Ta’āla bersumpah dengan
kehidupan Nabi-Nya ﷺ, dan ini menunjukkan akan pemuliaan yang agung, kedudukan
beliau yang tinggi, dan martabat beliau yang besar kemuliaannya” (Tafsir Ibnu
Katsir 4/542)
Penulis : Abu Abdil Muhsin Firanda
- Kajian Siroh Nabawiyah, oleh Ustadz Firanda Andirja, MA.
- Hakikat Turunnya Wahyu, oleh Aslam Muhsin
- Hari-Hari Terberat Rasulullah, oleh Abu Zubeir al-Hawaary, Lc.
- Wasiat Sang Kekasih, oleh Abu Zubeir al-Hawaary, Lc.
- Dakwah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, oleh Ustadz Agus Hasan Bashori
- Kebenaran Kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
- Wasiat Dihari-Hari Menjelang Wafatnya Rosulullah, oleh Ustadz Abu Zubeir al-Hawaary, Lc.
- Wasiat Perpisahan, oleh Ustadz Yazid Jawas
- Wasiat Terakhir Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Ustadz Yazid Jawas
- Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah, oleh Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili