Barang siapa berharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.(Qur'an Surah, Al-Kahfi :110)
62.Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan
orang-orang Sabi’in siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan
hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya.
Tidaka ada rasa takut pada merekan dan mereka tidak bersedih hati.
ASBABUNNUZUL
Menurut
Al-Wahidi dari Mujahid,ayat ini berkaitan dengan Salman Al-Farisi ketika dia
bertanya kepada Rasulullah saw. tentang nasib sahabat-sahabatnya yang meninggal
sebelum Islam datang. Rasulullah saw. menjelaskan kepadanya tentang cara shalat
dan ibadah mereka. Lalu,Rasulullah saw. bersabda bahwa mereka akan dimasukkan
ke neraka. Maka dari itu, Salman berputus asa, Sungguh, Bumi telah
Kiamat." Atau, "Seolah-olah gunung menimpa kepalaku." Kemudian,
turunlah ayat ini sehingga Salman bersenang hati dan berkata, "Seakan
anugerah besar dilimpahkan kepadaku."(Lubäbun Nuqül: 9)
TAFSIR AT-TABARI
Yang
dimaksud Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah mereka yang membenarkan
ajaran Rasulullah saw: Sedangkan yang dimaksud (Hädü)pada ayat ini adalah orang-orang
Yahudi Menurut -Ibnu Juraij kata (Hädü) muncul dari pengakuan mereka sendiri
untuk menjadübangsa Yahudi. Lafadzh menurut riwayat .1bnu Juraij adalah Orang-orang
yang mula-mula mendiami suatu daerah yang bernama Nazaret Sedangkan daläm
riwayat Ibnu 'Abbäs yang dimaksud (Nasärä) ädalah orang-orang yang menjadi
penolong Nabi Isa as. Adapun yang dimaksud ($äbi'in) menurut Mujahid adalah
sekelompok orang yang tidak beragama Namun sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa
yang dimaksud {Säbi’in> adalah setiap orang yang keluar dari suatu agama dan
berpindah kepada agama yang lain.
Ayat ini
menerangkan bahwa orang orang Mukmin, Yahudi Nashrani ataupun Säbi’in yang
beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan mereka tidak mengganti dan mengubah keyakinan
mereka hingga mereka wafat dan mereka melakukan amal kebaikan sebagai bentuk
ketaatan pada-Nya maka mereka akan mendapatkan pahala atas amal kebaikan yang
telah mereka kerjakan dan mereka tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan
mereka hadapi pada hari Kiamat dan tidak akan bersedih hatidengan apa yang
telah mereka tinggalkan di dunia karena mereka yakin akan kenikmatan akhirat yang
kekal; demikian menurut At-Tabari (Tafsir At-Tabari Jilid I, 2001:32-46)
TAFSIR IBNU KASIR
Dalam
ayat Cini Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang senantiasa mendapat
rahmat dari Allah Swt. Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir
serta beramal saleh dengan mengikuti semua petunjuk yang dibawa para iasul-Nya,
niscaya akan mendapatkan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Mereka tidak
pernah merasa bersedih karena sepanjang hidup selalu dinaungi rahmat Allah Swt.
dan di akhirat ditempatkan di surga-Nya.
Rasulullah
saw. menegaskan, keimanan seorang Yahudi adalah mengimani Taurat dan mengikuti
syariat Nabi Musa sampai tangnya Nabi "Isa. Setelah itu, mereka harus mengikuti
syariat yang dibawa Nabi Isa karena syariatnya merupakan pelengkap syariat sebelumnya.
Jika tidak begitu, berarti mereka telah kufur Keimanan seorang Nasrani adalah mengimani
Injil dan mengikuti petunjuk Nabi Isa sampai datangnya Rasulullah Saw. Setelah itu,
mereka harus mengikuti petunjuk Rasulullah Saw. Jika tidakz mereka telah berbuat
kesalahan dan akan dimasukkan ke neraka (Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir
Ibnu Kasir, 1999: 53-54)
HADIS
SAHIH
Hadis riwayat Abu Hurairah rag, dia berkata, "Rasulullah saw,
"bersabda, 'Jangan/ah seorarong di antara kamu mengharapkan kematian
danjangan pula memohonnya sebe/urn kematian itu datang menjemputnya,
Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal
perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi
dirinya)." (HR Muslim, 4843)
KHAZANAH PENGETAHUAN
Niat,
Pikiran, Bicara, dan Perilaku Orang Beriman, Orang yang beriman mengatur seluruh
hidupnya sesuai dengan Al-Qur'an dan berjuang untuk melaksanakan dengan
hati-hati setiap hari apa yang telah dibaca dan dipelajarinya dari ayat-ayat
Al-Qur'an. Dalam segala perbuatannya sejak bangun pada pagi hari sampai tidur pada
malam hari, dia berniat untuk berpikir, berbicara, dan bertindak berdasarkan
ajaran Al-Qur'an (QS Al-An'äm, 6:162).
Bagi
orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada
memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha
mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya (QS Al-Mä'idah,
5: 35).
Sebagai
sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan
dalam Al-Qur'an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi cara untuk mencapai
kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian, bagi orang yang beriman, memberikan apa
yang dicintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah
sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah
orang yang taat dan cinta kepada Allah (QS At-Taubah, 9: 99). (Harun Yahya, 24
Jam dalam Kehidupan Seorang Muslim, 2003)
153.Wahai
orang-orang yang beriman! mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
sholat. Sunggung, Allah beserta orang-prang yang sabar
TAFSIR
AT-TABARI
Pada ayat ini Allah mendorong manusia untuk menaati-Nya dan menghadapi sesuatu
yang dirasa berat baik secara fisik maupun materia Maka seolah Dia berfirman,
I'VVahai orang beriman, hendaklah kamu minta tolong dengan cara sabar dan
sha/at dalam melaksanakan ketaatan kepada-Ku, menunaikan berbagai hukum yang
Aku tetapkan, baik hukum yang telah dihapus maupun hukum yang masih berlaku
sekalipun kamu merasa berat karena perkataan batil dari orang kafir yang dilontarkan
kepada kamu. Ataw terasa berat secara fisik dalam melaksanakannya, atau secara materi
dalam melawan musuh-musuhmu dijalan-Ku. HendaklafT kamu bersabar karena Aku
semata dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi dan dirasa berat oleh
kamu,
Kemudian, hendaklah kämu dari perkara-perkara yang mengerikan, dengan
cara melaksanakan shalat karena semata. Karena dengan kesabaran atas perkara-perkara
yang tidak disenangi, kamu akan mendapatkan keridhaan-Ku, dan den melaksanakan shalat
karena-Ku kamu akan meraih apa yang kamu cari dan akan menperoleh apa yang kamu
butuhkan di sisi-Ku sungguhnya Aku bersama orang-orang yang sabar dalam
menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Ku, dan sabar dalam meninggälkan maksiat
kepada-Ku Aku akan menolong,jaga, serta lindungi mereka, sehingga reka dapat
memperoleh apa yang dicari dan dicita-citakan” (Tafsir At-Tabari Jilid Il, 21 697-698)
TAFSIR
IBNU KASIR
Dalam ayat ini Allah Swt. memerintahkan umat manusia untuk selalu
meminta pertolongan kepada Allah Swt. dengan cara bersabar, dan menunaikan
shalat secara khusyuk. Sabar terbagi menjadi dua, yaitu sabar ketika
mendapatkan kesenangan dan sabar ketika mendapatkan kesusahan. Ketika menghadapi
permasalahan, hendaknya kita mengembalikan semua urusan kepada Allah Swt.
karena Dialah Zat yang menentukan semuanya.
Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut."Sebagai kejutan bagi
seorang mukmin Allah Swt. tidak akan menentukan sesuatu, kecuali Allah Swt
lebih tahu tentang yang lebih baik baginya”
Sabar mengandung tiga hal yaitu sabar untuk meninggalkan sesuatu yang haram,sabar
dalam menunaikan ibadah dan kewajiban, serta sabar dalam menerima musibah dari
Allah Swt. Semua musibah merupakankehendak
Allah Swt. telah disebutkan bahwa di balik kejadian yang menimpa,pasti terdapat
hikmah yang sangat agung. (Al-Misbäh Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir 1999:
92-93).
HADIS
SAHIH
Dari Anas bin Malik„ bahwasannya Rasulullah savu mendatangi seorang perempuan
tengah menangisi kematian anaknya. Beliau kemudian berkata kepadanya,
"Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”, Kemudian perempuan itu
menjawab, "Kamu tidak peduli dengan musibah yang menimpaku", tatkala
beliau pergi dikatakan kepada perempuan itu, tahukah kamu yang berkata barusan
adalah Rasulullah. Kemudian perempuan itu mentangi béliau dan berkata bahwä dia
tidak mengenalinya, Kemudian Rasulullah Saw: bersabda "Sesungguhnya yang
namanya sabar itu ada ketika di guncangan pertama”, (HR. Muslim,1535)
KHAZANAH
PENGETAHUAN
Seseorang yang berada dalam rangka meraih ridha Allah, memikirkan
bukti-bukti yang menuntun kepada iman, memelihara perintah Allah, akhirat, Kematian,
dan merenungkan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dalam kehidupan ini,
balasannya akan mendapatkan pertolongan Allah.
Orang beriman tidak pernah lupa bahwa Allah telah menciptakan setiap situasi
yang dialami manusia atau hamba di sepanjang hari-harinya. Tujuan penciptaan
tersebut adalah agar kita bersabar atau menggunakan pikiran kita untuk menyelesaikan
masalah dengan cara yang paling disukai Allah, keadaan apa pun yang kita
rasakan. Termasuk jika ada masalah yang tidak mampu diselesaikan seorang diri,
maka yang harus dilakukan adalah bersabar.
Salah jika ada orang yang menganggap bahwa cobaan hanya muncul dalam
bentuk kepedihan yang luar biasa dan tragedi sebagai ujian bagi kesabaran kita.
Allah menguji manusia sepanjang hari dengan berbagai cobaan, baik yang besar
maupun kecil.
Namun, dalam situasi ini, mereka yang hidup sesuai dengan ajaran
Al-Qur'an tidak merasa jengkel dan tetap bersabar tanpa berkeluhkesah. Dalam
Al-Qur'an, Allah menerangkan bahwa salah satu sifat orang beriman adalah tetap
bersabar dengan cobaan yang datang kepada mereka.
"(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati me reka
bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang
melaksanakan salat, dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami
karuniakan kepada mereka." (QS Al-Hajj, 22: 35). (Harun Yahya, 24 Jam
dalam Kehidupan Muslim, 2003)
19. Atau seperti (orang yang ditimpa)
hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan,petir, dan kilat. Mereka
menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena
takut mati. Allah meliputi orang-orang kafir.
ASBABUNNUZUL
Dari Abdullah Ibnu 'Abbäs dan Abdullah Ibnu Mas'ud
diceritakan bahwa ada segolongan kaum munafik yang telah masuk Islam setelah hijrahnya
Rasulullah saw. Keadaan mereka seperti seseorang yang terjebak dalam kegelapan.
Lalu, mereka berusaha mencari pencahayaan dengan menyalakan api. Akan tetapi, setiap
kali dia menyalakannya, api itu padam.
Perumpamaan mereka juga seperti orang yang ditimpa
hujan lebat yang disertai kilat, petir, dan guruh. Mere$a pun berusaha
berlindung karena takut bahaya menimpa. Perumpamaan ini selaras dengan tabiat mereka,
yaitu suatu ketika mereka syirik, kemudian mereka beriman, kemudian kembali
sesat dan kafir. Mereka berada dalam kesamaran antara halal dan haram, antara
yang baik dan yang buruk. Dua perumpamaan ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang akan
terungkap perbuatan nifaknya. (Lubäbun Nuqül: 8)
TAFSIR AT-TABARI
Lafadzh AS-saibu sinonim dari kata Al-qatru, Al-mataru,
dan Al-gaisu, yang semuanya mempunyai arti yang sama yaitu hujan. Melalui
perumpamaan hujan, ayat ini memperjelas ciri orang-orang munafik yang pura-pura
masuk Islam padahal mereka tetap tenggelam dalam kekafiran.
Menurut At-Tabari , hujan adalah gambaran umum
keimanan orang-orang munafik. Mereka secara dzahir mengaku beriman padahal hati
mereka mendustakan, Suasana gelap saat hujan terjadi adalah ibarat kesesatan
mereka yang bersumber dari kebutaan dan kebodohan mereka. Secercah cahaya kilat
adalah ibarat cahaya keimanan mereka yang hanya sekelebat. Sedangkan takutnya
mereka terhadap suara petir dengan menutupkan jari jemari mereka ke telinga
adalah ibarat ketakutan atau paranoid mereka yang disebabkan hati mereka lemah
akibat penyakit ragu, Mereka ragu apakah ancaman yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad saw, itu benar atau tidak. Mereka khawatir bila ternyata ancaman itu
bohong. Namun, mereka juga takut jangan-jangan ancaman yang dikatakan oleh Nabi
Muhammad saw. itu benar, bahwa siksa Allah akan turun di halaman rumah mereka.
Akan tetapi, walaupun orang-orang munafik di dunia
ini pandai bersandiwara menyembunyikan kekafirannya Allah tetap meliputi mereka
(Wallahu muhitum bilkafirin). Adapun makna Allah meliputismereka menurut Mujahid
dan Ibnu 'Abbäs adalah bahwa Allah Swt. akan menyiksa dan mengumpulkan mereka
seluruhnya di neraka jahanam. (Tafsir At-Tabari Jilid l, 2001:373-378)
TAFSIR IBNU KASIR
Dalam ayat init Allah Swt. memberikan perumpamaan
lain untuk orang munafik. Berawal dari keraguan mereka akan kebenaran yang
hakiki, mereka pun digiring ke dalam kesesatan. Hal inilah yang menyebabkan
hati mereka selalu diliputi rasa takut, khawatir, dan ragu-ragu.
Menurut Ibnu 'Abbäs dan Ibnu Mas'ud, kata (Ash-Shaibu)
dalam ayat ini bermakna hujan lebat. Pendapat yang sama dikemukakan Abu Aliyah,
Mujahid, Safid bin Jubair, Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, Athiyyah Al- Aufi,
Atha Al-Khurasani, As-Saddi, dan Rabi bin Anas. Sementara itu, Dhahhak mengartikannya
sebagai mendung. Pendapat pertama merupakan pendapat yang lebih masyhur di kalangan
ulama ahli tafsir. Ayat ini bisa juga berarti hujan lebat yang turun dalam
kegelapan.
Perumpamaan ini bukan hanya berwujud hujan lebat,
melainkan hujan lebat yang disertai dengan kegelapan, petir, dan kilat. Dalam
keadaan genting seperti itu, hati mereka diliputi rasa takut dan gemetar serta
takut akan kematian. Bahkan, mereka menutup telinga karena gelegar suara petir
yang bersahut-sahutan. Kilatan-kilatan yang disertai hujan ini semakin membuat mereka panik. Begitulah
yang terjadi jika Allah Swt. berkehendak. Tidak ada seorang pun yang bisa
menghalangi kehendak-Nya. (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999:
32-33)
HADIS SAHIH
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., "Bahwa
beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila
Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira dengan ketidakikutsertaan mereka
bersama Rasulullah saw. Lalu, apabila Nabi saw. telah kembali, mereka
mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian
dengan apa yang tidak mereka perbuat. Lalu, turunlah ayat, (Janganlah sekali-kali
kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka
kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka
kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa.)" (HR
Muslim, 4981)
KHAZANAH PENGETAHUAN
Menahan Diri dari Kemunafikan Seseorang yang
memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang sombong.
Dengan kehendak Allah,mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat seperti itu.
Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diber( pengetahuan yang ditanamkan
dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan mengetahui orang-orang
munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya dipikirkan dengan bersikap
munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari yang sebenarnya.
Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicara
dan penampilannya.Meskipun orangorang seperti ini tidak dapat dikenali oleh
mukmin sejati, Allah mengetahui kepura-puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha
Mendengar setiap ucapan dan kata-kata dan Dia Maha Melihat setiap tingkah lakunya.
Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam firman-Nya.
Oleh karena itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya.
la seharusnya menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang
mengarah pada kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan. (Harun Yahya, Keikhlasan
dalam Telaah Al-Qur'an, 2003)
44.Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri,padahal kamu membaca Kitab
(Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?
ASBABUNNUZUL
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan Yahudi di Madinah. Di antara mereka ada yang berkata kepada saudara
kandung, kerabat,dan saudara-saudara sesusunya dari kaum muslimin agar mereka
tetap dalam agama Muhammad yang telah dianutnya dan menaatinya. Mereka menyuruh
orang lain, tetapi diri mereka tidak melakukannya.(Lubäbun Nuqül: 9)
TAFSIR
AT-TABARI
Pada
dasarnya para ahli tafsir sepakat bahwa (Mengerjakan) kebajikan) berarti segala
bentuk ketäatan kepada Allah. Namun, ketaatan macam apa yang dimaksud kata (Mengerjakan)
dalam ayat ini? Para ahli tafsir berbeda pendapat Menurut Ibnu 'Abbäs, (mengerjakan)
kebajikan)dalam ayat ini ädalah iman kepada Nabi Muhammad saw. masuk agamanya
dan mengikuti ajarannya. Sedangkans menurut Ibnu Juraij adalah shalat dan puasa
Adapun menurut As-Saddi adalah taat kepada Allah, Sedangkan menurut Qatadah
adalah taat dan takwa kepada Allah serta berbuat kebaikan.
Walaupun para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata
(Mengerjakan) kebajikan) dalam ayat ini, menurut Tabari; Semuanya sepakat bahwa
ayat ini merupakan teguran kepada kaum (Bani Israil dan kaum mana pun termasuk
umat Islam) yang menyuru manusia kepada perkataan da perbuatan yang diridhai
Allah, tapi mereka melupakan diri sendiri, Karena itu menurut Ibnu Juraij
_sudah sepatutnya yang menyeru kepada kebaikan untuk terlebih dahulu
mengamalkan.
Kalimat Tidakkah kamu pada akhir ayat ini adalah celaan terhadap Bani Israil,
karena menyuruh orang lain berbuat kebaikan padahal mereka sendiri tidak melakukan.
Mereka melarang orang lain berbuat keburukan,tapi mereka sendiri suka melakukan.
Mereka menyeru manusia agar beriman kepada Nabi Muhammad dan risalahnya, namun
mereka sendiri mengingkari. Tidakkah merekä menyadari betapa buruknya perbuätan
itu (Tafsir At-Tabari Jilid I; 2001: 613-617)
TAFSIR IBNU KASIR
Dalam
ayat ini Allah Swt menegur Ahlul Kitab yang selalu memerintahkan kebaikan, tetapi
tidak pernah melakukannya. Mereka telah memahami kebenaran yang dianjurkan
Allah Swt., lalu mereka menyerukannya kepada orang lain, tetapi mereka justru melakukan
pembangkangan terhadap Allah Swt. Mereka ibarat orang buta, tetapi memerintahkan
orang lain untuk melihat.
Abdurrazzaq
meriwayatkan dari Qatadah bahwa dalam ayat ini Bani Israil memerintahkan orang
lain untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. dan melakukan kebaikam Akan tetapi,
mereka sendiri tidak konsisten dengan ucapan mereka ituw As-Saddi dan -Ibnu
Juraij menegaskane Ahlul Kitab dan kaum munafik memerintahkan umat manusia agar
menunaikan shalatj puasa, zakat, dan selalu menyerukan agar beramal shaleh, namun
mereka sendiri tidak melakukan semua itu.
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbäs bahwa mereka justru lalai dan melupakan
keadaan diri mereka yang telah melakukan pembangkangan terhadap syariat Allah
Swt. Mereka mengingkari kenabian dan melanggar syariat yang ada dalam kitab Taurat.
Intinya, mereka tidak konsisten dengan
seruan
mereka kepada orang lain.
Dengan
ayat init Allah Swt. mengecam tindakan yang mereka lakukan yang selalu menyerukan
amar makruf, tetapi mereka sendiri tidak membenahiö sikap mereka. Melakukan amar
makruf nahi mungkaradalah perbuatan mulia, tetapi menjadi tercela jika orang
yang melakukannya tersebut justru melakukan pembangkangan terhadap syatiat yang
mereka serukane (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahjib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 46-47)
HADIS SAHIH
Dari An
Nawwas bin Sam’an,ia berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan?
Beliau menjawab, "Kebajikan itu adalah akhlak yang mulia sedang, dosa itu
adalah apa yang beredar di dalam dadamu sedang kamu merasa benci orang-orang
mengetahuinya. (HR Muslimn4632)
KHAZANAH
PENGETAHUAN
Setan
Berusaha Menghalangi Manusia untuk Menyadari dan Berbuat Kebaikan Di dalam
Al-Qur&an, Allah mengatakan bahwa setan sangatlah kufur dan suka melawan.
Kita juga belajar dari Al-Qur'an bahwa setan akan mendekati manusia dari setiap
arah dan ia akan berusaha dengan segala cara untuk membawa manusia kepada
kebejatan moral. Metode yang paling sering dilakukan setan dalam rencana
jahatnya adalah menghalangi manusia dari melihat kebaikan dalam segala
peristiwa yang menimpanya.
Dengan cara demikian, ia juga berusaha untuk menyesatkan manusia kepada
pemberontakan dan kekufuran. Orang yang tidak mampu memahami keindahan akhlak
AlQuran akan jauh dari ajaran Islam dan mereka yang menghabiskan hidup mereka
untuk mengejar kesiasiaan dan melupakan akhirat akan mudah jatuh ke dalam
perangkap setan.
Seseorang harus melatih kesabarannya supaya ia dapat berusaha melihat kebaikan
dalam semua peristiwa, untuk menunjukkan ketundukan dan kepercayaannya kepada Allah.
Ketidakmampuan untuk melatih kesadaran seseorang hanya akan membawa kepada
sikap yang salah. (lihat QS Al-Baqarah, 2: 268, Al-A'räf,7: 200-201).
"Setan
menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji
(kikir),sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah
Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah, 2: 268). (Harun Yahya, Melihat
Kebaikan di Segala Hal,2004).
271.Jika
jkamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya
dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan
Allah akan menghapus Sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa
yang kamu kerjakan.
ASBABUNNUZUL
Dari Amir
Asy Sya'bi, pada suatu waktu Umar bin Khathab menyedekahkan separuh dari harta
kekayaannya kepada Rasulullah untuk keperluan agama, Rasulullah bertanya kepadanya,
"Apakah kamu memikirkan anak keturunanmu yang datang kemudian, wahai
Umar!" la menjawab, "Aku menyisihkan setengah dari harta kekayaanku
untuk mereka". Tapi kemudian Abu Bakar secara diam-diam telah
menyedekahkan seluruh harta nya kepada Rasulullah untuk kepentingan agama,
Rasulullah pun menanyakan hal yang sama kepadanya,Abu Bakar menjawab,
"Yang akan mencukupi keluargaku adalah Allah dan RasulNya." Mendengar
jawaban Abu Bakar, Umar menangis dan berkata, "Demi Allah! setiap aku berbuat
kebajikan selalu saja kamu tandingi, wahai Abu Bakar!" Ayat ini pada
dasarnya memuji Umar yang bersedekah secara terang-terangan agar dicontoh orang
lain, juga memuji Abu Bakar yang bersedekah secara rahasia, dan kedua perbuatan
itu patut dicontoh.(Asbabun
Nuzul, Studi Pendalaman Al-Qur'an: 123).
TAFSIR
AT-TABARI
Ayat ini
menjelaskan tentang baiknya mengumumkan sedekah yang akan diberikan. Akan
tetapi, jika menutupinya dan tidak mengumumkannya, yaitu memberikan sedekah
kepada orang fakir secara sembunyi-sembunyi, maka hal itu lebih baik lagi.
Namun,
hal ini hanya berlaku bagi sedekah yang sunat karena untuk ibadah wajib lebih utama
diumumkan.
Maksud
penggalan ayat (Dan Allah akan menghapus sebagiam kesalahan- kesalahanmu ) ini
mengandung berita dari Allah tentang Dzat-Nya, bahwa Dia akan memberikan
balasan berupa dihapuskannya kesalahan kepada orang yang bersedekah (sunnat)
secara sembunyi,Dan hanya mengharap ridhaNya. (Allah Mahateliti terhadap apa
yang kamu kerjakan) yaitu berupa sedekah
disembunyikarm dan ditampakkan, dirahasiakan dan yang disebutkan, dan hal-hal lain
dari amalan kalian. (Mahateliti) yaitu mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahwa
tidak akan ada yang 'tersembunyi dari-Nya sesuatu pun. Dia meliputi segala suatu,
dan setiap hal diketahuiNya, sehingga Dia akan memenuhi balasan segala Dia akan
memberikan balasan kepada yang sedikit dan kepada yang besar.(Tafsir At-Tabari
Jilid V, 2001;14-18)
TAFSIR
IBNU KASIR
Dalam
ayat ini Allah Swt. menegaskan, sedekah yang dikeluarkan secara rahasia jauh
lebih utama dibandingkan sedekah yang dikeluarkan secara terbuka
Rasulullah
saw. bersabda sebagai berikut,"Membaca Al-Qur’an dengan keras sama seperti
mengeluarkan sedekah dengan terbuka. Membaca Al-Qur’an dengan pelan sama seperti
bersedekah dengan cara tertutup."
Abu
Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut. "Tujuh
orang yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. di saat tidak ada
perlindungan kecuali perlindungan-Nya, yaitu (1) imam yang adil, (2) pemuda
yang selalu beribadah kepada Allah Swt., (3) dua orang yang saling mencintai
karena Allah, berkumpul dan berpisah atas dasar cinta kepada Allah Swt., (4)
orang yang hatinya selalu bergantung kepada masjid (ahli masjid),(5) laki-laki
yang didatangi dan dibujuk oleh seorang perempuan yang memiliki harta dan
kekuasaan, tetapi ia mengatakan, 'Aku takut kepada Allah Swt., ' (6) orang yang
bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui sedekah yang
dikeluarkan tangan kanannya, dan (7) orang yang selalu berzikir kepada Allah
Swt. sampai berlinang air mata. "
Di akhir
ayat dijelaskan, bersedekah secara rahasia dapat meninggikan derajat di hadapan
Allah Swts Semua dosanya pun akan diampuni oleh-Nya.
(Al-MisbahAl-Munir
fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999:153)
HADIS
SAHIH
Hadis
riwayat Abu Masud ra.,ia berkataj "'Ketika kami diperintahkan untuk
bersedekah, kami menjadi kuli angkut (dan kami bersedekah dari upah pekerjaan
Abu Aqil bersedekah dengan setengah sha Seseorang membawa sedekah sedikit lebih
banyak darinya, Orang-orang munafik berkata, 'Sesungguhnya Allah tidak butuh
sedekah orang init orang ini melakukan hal itu hanya untuk pamer.'Lalu turunlah
ayat yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah
dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak mendapatkan sesuatu untuk
disedekahkan selain sekadar jerih payahnya.” (HR Muslim, 1692)
KHAZANAH
PENGETAHUAN
Hikmah
Sedekah
Dalam
ayat 271 tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang
yang beriman dalam Al-Qur'an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda
mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surgaNya.
Namun,
menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam Al-Qur'an, mereka juga
mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan
hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan
dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas
mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak
untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah.(Harun Yahya,
Beberapa Rahasia Dalam Al-Qur'an, 2004)
Artinya, “(Ingat) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku ingin
menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan
orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana? Padahal, kami bertasbih
memuji dan menyucikan nama-Mu.’ Dia berkata, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang
tidak kalian ketahui,’” (Surat Al-Baqarah ayat 30).
TAFSIR IBNU KATSIR
Allah
memberitahukan ihwal penganugerahan karunia-Nya kepada anak cucu Adam, yaitu
berupa penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di hadapan “al
mala-ul a’laa” (para malaikat), sebelum mereka diciptakan. Dia berfirman: wa
idz qaala rabbuka lil malaa-ikati (“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada
para malaikat”) artinya, hai Muhammad, ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada
para malaikat, dan ceritakan pula hal itu kepada kaummu.
Innii jaa’ilun
fil ardli khaliifata (“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
bumi.”) Yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu kaum lainnya,kurun demi
kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana firman-Nya: Huwal ladzii
ja’alakum khalaa-ifa fil ardli (“Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai
khalifah-khalifah di bumi.”) (QS. A1-An’aam: 165).
Juga firman-Nya:
“Kalau Kami menghendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi
ini malaikat-malaikat yang turun temurun.” (QS. Az-Zukhruf: 60).
Yang jelas
bahwa Allah tidak hanya menghendaki Adam saja, karena jika yang dikehendaki
hanya Adam, niscaya tidak tepat pertanyaan malaikat, “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah.”
Artinya, para
malaikat itu bermaksud bahwa di antara jenis makhluk ini terdapat orang yang
akan melakukan hal tersebut. Seolah- olah para malaikat mengetahui hal itu
berdasarkan ilmu khusus, atau mereka memahami dari kata “Khalifah ” yaitu orang
yang memutuskan perkara di antara manusia tentang kezaliman yang terjadi di
tengah-tengah mereka, dan mencegah mereka dari perbuatan terlarang dan dosa.
Demikian yang dikemukakan oleh al-Qurthubi.
Atau mereka
membandingkan manusia dengan makhluk sebelumnya. Ucapan malaikat ini bukan
sebagai penentangan terhadap Allah atau kedengkian terhadap anak cucu Adam,
sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian mufassir. Mereka ini telah disifati
Allah swt. sebagai makhluk yang tidak mendahului-Nya dengan ucapan, yaitu tidak
menanyakan sesuatu yang tidak Dia izinkan.
Di sini
tatkala Allah swt telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan
makhluk di bumi, Qatadah mengatakan, “Para malaikat telah mengetahui bahwa
mereka akan melakukan kerusakan di muka bumi,” maka mereka bertanya, “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” Pertanyaan itu hanya dimaksudkan
untuk meminta penjelasan dan keterangan tentang hikmah yang terdapat di
dalamnya.
Maka untuk
memberikan jawaban atas pertanyaan para malaikat itu, Allah swt. berfirman,
innii a’lamu maa laa ta’lamuun (“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui.”) Artinya, Aku (Allah) mengetahui dalam penciptaan golongan ini
(manusia) terdapat kemaslahatan yang lebih besar daripada kerusakan yang kalian
khawatirkan, dan kalian tidak mengetahui, bahwa Aku akan menjadikan di antara
mereka para nabi dan rasul yang diutus ke tengah-tengah mereka. Dan di antara
mereka juga terdapat para shiddiqun, syuhada’, orang-orang shalih, orang-orang
yang taat beribadah, ahli zuhud, para wall, orang-orang yang dekat kepada
Allah, para ulama, orang-orang yang khusyu’, dan orang-orang yang cinta
kepada-Nya, serta orang-orang yang mengikuti para Rasul-Nya.
Dalam hadits
shahih telah ditegaskan bahwa jika para malaikat naik menghadap Rabb dengan
membawa amal hamba-hamba-Nya, maka Dia akan nanyakan kepada mereka, padahal Dia
lebih tahu tentang manusia, “Dalam keadaan bagaimana kalian meninggalkan
hamba-hamba Ku?” Mereka menjawab, “Kami datang kepada manusia ketika mereka
sedang mengerjakan shalat, kami tinggalkan dalam keadaan mengerjakan shalat
pula.” Yang demiki karena mereka datang silih berganti mengawasi kita berkumpul
dan bertemu pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Maka di antara mereka
ada, yang tetap tinggal mengawasi, sedang yang lain lagi naik menghadap Allah
dengan membawa amal para hamba-Nya. Ucapan para malaikat, “Kami datangi mereka
ketika sedang mengerjakan shalat dan kami tinggalkan mereka juga ketika dalam
keadaan mengerjakan shalat,” merupakan tafsiran firman Allah swt. kepada
mereka, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Ada juga
pendapat yang mengatakan, hal itu merupakan jawaban ucapan para malaikat, yaitu
firman-Nya: wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisulaka (“kami senantiasa
bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.”) Maka Dia pun berfirman,
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Yakni mengetahui
akan adanya Iblis di antara kalian, dan Iblis itu bukanlah seperti yang kalian
sifatkan untuk diri kalian sendiri. Ada juga yang berpendapat, ucapan para
malaikat yang terdapat dalam firman Allah: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
mengandung permohonan agar mereka diturunkan ke bumi untuk menggantikan Adam
as. dan keturunannya. Maka Allah berfirman kepada para malaikat: “innii a’lamu
maa laa ta’lamuun (“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”)
maksudnya tempat tinggal kalian di langit itu lebih baik bagi kalian. Demikian
yang dikemukakan oleh ar-Razi’.
Bersumber dari
Hasan al-Bashri dan Qatadah, Ibnu Jarir mengatakan: firman Allah: Innii
jaa’ilun fil ardli khaliifata (“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang
khalifah di bumi.”) maksudnya Allah berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku akan melakukan hal itu.” Artinya Dia memberitahukan hal itu
kepada para malaikat.
Ibnu Jarir
mengatakan: artinya Allah berfirman, “Aku akan menjadikan di muka bumi seorang
khalifah dari-Ku yang menjadi pengganti-Ku dalam memutuskan perkara secara adil
di antara semua makhluk-Ku. Khalifah tersebut adalah Adam dan mereka yang
menempati posisinya dalam ketaatan kepada Allah dan mengambil keputusan secara
adil di tengah-tengah umat manusia.”
Berkenaan
dengan firman Allah: “Padahal hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu
dan menyucikan Mu,” Abdurrazak, dari Mu’ammar, dari Qatadah, berkata: “Tasbih
adalah tasbih, sedang taqdis adalah shalat.”
Ibnu Jarir
mengatakan, taqdis berarti pengagungan dan penyucian. Misalnya ucapan mereka,
“subbuuhun qudduusun” artinya subbuuhun Allah dan qudduusun adalah menyucikan
serta pengagungan bagi-Nya. Demikian juga dikatakan untuk bumi, ardlun
muqaddasatun (tanah suci).
Dengan
demikian, firman-Nya, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu, ”
berarti, kami senantiasa menyucikan-Mu dan menjauhkan-Mu dari apa yang
dilakukan oleh orang-orang musyrik kepada-Mu. “Dan kami menyucikan-Mu,”
artinya, kami menisbatkan kepada-Mu sifat-sifat yang Engkau miliki, yaitu
kesucian dari berbagai kenistaan dan dari apa yang dikatakan kepada-Mu oleh
orang-orang kafir.
Dalam shahih
Muslim diriwayatkan hadits dari Abu Dzar ra: “Bahwa Rasulullah pernah ditanya,
‘Ucapan apa yang paling baik?’ Beliau menjawab, “Yaitu apa yang dipilih oleh
Allah bagi para malaikat-Nya; `Maha-suci Allah, segala puji bagi-Nya.”‘
Mengenai
firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” Qatadah
mengatakan, “Allah sudah mengetahui bahwa di antara khalifah itu akan ada Para
nabi, rasul, kaum yang shalih, dan para penghuni surga.”
Al-Qurthubi
dan ulama lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan keharusan
mengangkat pemimpin untuk memutuskan perkara di tengah-tengah umat manusia,
mengakhiri pertikaian mereka, menolong orang-orang teraniaya dari yang menzhalimi,
menegakkan hukum, mencegah berbagai perbuatan keji, dan berbagai hal yang
penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya pemimpin,
dan “Sesuatu yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya,
maka sesuatu itu sendiri merupakan hal wajib pula.”
Imamah itu
diperoleh melalui nash, sebagaimana yang dikatakan oleh segolongan ulama ahlus
sunnah terhadap Abu Bakar. Atau melalui pengisyaratan menurut pendapat lainnya.
Atau melalui penunjukkan pada akhir masa jabatan kepada orang lain, sebagaimana
yang pernah dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq terhadap Umar bin Khaththab. Atau
dengan menyerahkan permasalahan untuk dimusyawarahkan oleh orang-orang shalih,
sebagaimana yang pernah dilakukan Umar bin Khatthab. Atau dengan kesepakatan
bersama “ahlul halli wal ‘aqdi” untuk membai’atnya, atau dengan bai’at salah
seorang dari mereka kepadanya dan dengan demikian wajib diikuti oleh mayoritas
anggota. Hal tersebut menurut Imam al-Haramain merupakan ijma’ (konsensus),
wallaaHu a’lam. Atau dengan memaksa seseorang menjadi pemimpin untuk
selanjutnya taati. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perpecahan dan
perselisihan, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Syafi’i.
Apakah harus
ada saksi atas terbentuknya imamah ?
Mengenai
masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Di antara mereka ada yang menyatakan,
bahwasanya hal tersebut tidak disyaratkan. Dan juga yang menyatakan, hal itu
memang suatu keharusan dan cukup dua orang saksi saja.
Pemimpin harus
seorang laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muslim, mujtahid, berilmu, sehat
jasmani, memahami strategi perang dan berwawasan luas serta berasal dari suku
Quraisy, menurut pendapat yang shahih. Namun tidak disyaratkan harus berasal
dari keturunan al-Hasyimi dan tidak harus seorang ma’shum (terlindungi) dari
kesalahan. Hal terakhir berbeda dengan pendapat golongan ekstrim Rafidhah
(Syi’ah).
Jika seorang
imam berbuat kefasikan, apakah ia harus dicopot atau tidak?
Mengenai hal
ini terdapat perbedaan pendapat, tetapi yang shahih adalah bahwa pemimpin tersebut
tidak perlu dicopot. Berdasarkan sabda Rasulullah: “Kecuali jika kalian
menyaksikan kekufuran yang nyata sementara kalian memiliki bukti dari Allah
dalam hal itu.”
Apakah ia
berhak mengundurkan diri ?
Terdapat pula
perbedaan pendapat dalam masalah ini. Hasan bin Ali ra. telah mengundurkan diri
dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah, tetapi hal itu didasarkan pada
suatu alasan, dan karena tindakannya itu ia mendapatkan pujian. Sedangkan
pengangkatan dua imam (pemimpin) atau lebih di muka bumi (pada masa yang sama),
yang demikian sama sekali tidak diperbolehkan. Berdasarkan sabda Rasulullah:
“Barangsiapa yang mendatangi kalian sedangkan urusan kalian sudah menyatu,
dengan maksud akan memecahbelah kalian, maka bunuhlah ia, siapapun orangnya.”
(Kitab Zaadul Masiir)
Yang demikian
itu merupakan pendapat jumhurul (mayoritas) ulama. Adapun yang menyatakan ijma’
(konsensus) sebagaimana disebutkan oleh beberapa ulama seperti Imam
al-Haramain.
HADIST SAHIH
Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Salam, ia menyebut beberapa hadits diantaranya: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Allah 'azza wajalla menciptakan
Adam seperti wujudnya, panjangnya enampuluh dzira'. Setelah menciptakannya,
Allah berfirman: 'Pergilah lalu ucapkan salam pada mereka itu, mereka adalah
kelompok malaikat yang tengah duduk lalu dengarkan jawaban mereka, itulah
salammu dan salam keturunanmu." Beliau bersabda: "Adam pergi lalu
mengucapkan: 'ASSLAAMU'ALAIKUM? ' Mereka menjawab: 'ASSALAAMU 'ALAIKA WA RAHMATULLAAH'."
Beliau bersabda: "Mereka menambahi: 'WA RAHMATULLAAH'." Beliau
bersabda: "Setiap orang yang masuk surga wujudnya seperti Adam, panjangnya
enampuluh dzira' dan setelahnya (Adam) postur tubuh (manusia) terus berkurang
hingga sekarang ."( HR MUSLIM, 5075 )