Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Oktober 2021

NIAT, PIKIRAN, BICARA DAN PERILAKU ORANG BERIMAN

 Niat, Pikiran, Bicara, dan 

Perilaku Orang Beriman 

QS Al-Baqarah, 2: 62

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (٦٢)

 

62.Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya. Tidaka ada rasa takut pada merekan dan mereka tidak bersedih hati.

ASBABUNNUZUL

Menurut Al-Wahidi dari Mujahid,ayat ini berkaitan dengan Salman Al-Farisi ketika dia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang nasib sahabat-sahabatnya yang meninggal sebelum Islam datang. Rasulullah saw. menjelaskan kepadanya tentang cara shalat dan ibadah mereka. Lalu,Rasulullah saw. bersabda bahwa mereka akan dimasukkan ke neraka. Maka dari itu, Salman berputus asa, Sungguh, Bumi telah Kiamat." Atau, "Seolah-olah gunung menimpa kepalaku." Kemudian, turunlah ayat ini sehingga Salman bersenang hati dan berkata, "Seakan anugerah besar dilimpahkan kepadaku."(Lubäbun Nuqül: 9)

 
TAFSIR AT-TABARI

Yang dimaksud Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah mereka yang membenarkan ajaran Rasulullah saw: Sedangkan yang dimaksud (Hädü)pada ayat ini adalah orang-orang Yahudi Menurut -Ibnu Juraij kata (Hädü) muncul dari pengakuan mereka sendiri untuk menjadübangsa Yahudi. Lafadzh menurut riwayat .1bnu Juraij adalah Orang-orang yang mula-mula mendiami suatu daerah yang bernama Nazaret Sedangkan daläm riwayat Ibnu 'Abbäs yang dimaksud (Nasärä) ädalah orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa as. Adapun yang dimaksud ($äbi'in) menurut Mujahid adalah sekelompok orang yang tidak beragama Namun sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud {Säbi’in> adalah setiap orang yang keluar dari suatu agama dan berpindah kepada agama yang lain.

Ayat ini menerangkan bahwa orang orang Mukmin, Yahudi Nashrani ataupun Säbi’in yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan mereka tidak mengganti dan mengubah keyakinan mereka hingga mereka wafat dan mereka melakukan amal kebaikan sebagai bentuk ketaatan pada-Nya maka mereka akan mendapatkan pahala atas amal kebaikan yang telah mereka kerjakan dan mereka tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari Kiamat dan tidak akan bersedih hatidengan apa yang telah mereka tinggalkan di dunia karena mereka yakin akan kenikmatan akhirat yang kekal; demikian menurut At-Tabari (Tafsir At-Tabari Jilid I, 2001:32-46)

 
TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat Cini Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang senantiasa mendapat rahmat dari Allah Swt. Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir serta beramal saleh dengan mengikuti semua petunjuk yang dibawa para iasul-Nya, niscaya akan mendapatkan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Mereka tidak pernah merasa bersedih karena sepanjang hidup selalu dinaungi rahmat Allah Swt. dan di akhirat ditempatkan di surga-Nya.

Rasulullah saw. menegaskan, keimanan seorang Yahudi adalah mengimani Taurat dan mengikuti syariat Nabi Musa sampai tangnya Nabi "Isa. Setelah itu, mereka harus mengikuti syariat yang dibawa Nabi Isa karena syariatnya merupakan pelengkap syariat sebelumnya. Jika tidak begitu, berarti mereka telah kufur Keimanan seorang Nasrani adalah mengimani Injil dan mengikuti petunjuk Nabi Isa sampai datangnya Rasulullah Saw. Setelah itu, mereka harus mengikuti petunjuk Rasulullah Saw. Jika tidakz mereka telah berbuat kesalahan dan akan dimasukkan ke neraka (Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 53-54)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Hurairah rag, dia berkata, "Rasulullah saw, "bersabda, 'Jangan/ah seorarong di antara kamu mengharapkan kematian danjangan pula memohonnya sebe/urn kematian itu datang menjemputnya, Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya)." (HR Muslim, 4843)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Niat, Pikiran, Bicara, dan Perilaku Orang Beriman,  Orang yang beriman mengatur seluruh hidupnya sesuai dengan Al-Qur'an dan berjuang untuk melaksanakan dengan hati-hati setiap hari apa yang telah dibaca dan dipelajarinya dari ayat-ayat Al-Qur'an. Dalam segala perbuatannya sejak bangun pada pagi hari sampai tidur pada malam hari, dia berniat untuk berpikir, berbicara, dan bertindak berdasarkan ajaran Al-Qur'an (QS Al-An'äm, 6:162).

Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya (QS Al-Mä'idah, 5: 35).

Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam Al-Qur'an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi cara untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian, bagi orang yang beriman, memberikan apa yang dicintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah (QS At-Taubah, 9: 99). (Harun Yahya, 24 Jam dalam Kehidupan Seorang Muslim, 2003)

Baca Juga : Sabar Dalam Menghadapi Cobaan



 

Senin, 11 Oktober 2021

SABAR DALAM MENGHADAPI COBAAN

 SABAR  DALAM MENGHADAPI COBAAN

QS Al-Baqarah, 2: 153

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ  (١٥٣)

 153. Wahai orang-orang yang beriman! mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sunggung, Allah beserta orang-prang yang sabar

TAFSIR AT-TABARI

Pada ayat ini Allah mendorong manusia untuk menaati-Nya dan menghadapi sesuatu yang dirasa berat baik secara fisik maupun materia Maka seolah Dia berfirman, I'VVahai orang beriman, hendaklah kamu minta tolong dengan cara sabar dan sha/at dalam melaksanakan ketaatan kepada-Ku, menunaikan berbagai hukum yang Aku tetapkan, baik hukum yang telah dihapus maupun hukum yang masih berlaku sekalipun kamu merasa berat karena perkataan batil dari orang kafir yang dilontarkan kepada kamu. Ataw terasa berat secara fisik dalam melaksanakannya, atau secara materi dalam melawan musuh-musuhmu dijalan-Ku. HendaklafT kamu bersabar karena Aku semata dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi dan dirasa berat oleh kamu,

Kemudian, hendaklah kämu dari perkara-perkara yang mengerikan, dengan cara melaksanakan shalat karena semata. Karena dengan kesabaran atas perkara-perkara yang tidak disenangi, kamu akan mendapatkan keridhaan-Ku, dan den melaksanakan shalat karena-Ku kamu akan meraih apa yang kamu cari dan akan menperoleh apa yang kamu butuhkan di sisi-Ku sungguhnya Aku bersama orang-orang yang sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Ku, dan sabar dalam meninggälkan maksiat kepada-Ku Aku akan menolong,jaga, serta lindungi mereka, sehingga reka dapat memperoleh apa yang dicari dan dicita-citakan” (Tafsir At-Tabari Jilid Il, 21 697-698)

TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat ini Allah Swt. memerintahkan umat manusia untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah Swt. dengan cara bersabar, dan menunaikan shalat secara khusyuk. Sabar terbagi menjadi dua, yaitu sabar ketika mendapatkan kesenangan dan sabar ketika mendapatkan kesusahan. Ketika menghadapi permasalahan, hendaknya kita mengembalikan semua urusan kepada Allah Swt. karena Dialah Zat yang menentukan semuanya.

Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut."Sebagai kejutan bagi seorang mukmin Allah Swt. tidak akan menentukan sesuatu, kecuali Allah Swt lebih tahu tentang yang lebih baik baginya”

Sabar mengandung tiga hal yaitu sabar untuk meninggalkan sesuatu yang haram,sabar dalam menunaikan ibadah dan kewajiban, serta sabar dalam menerima musibah dari Allah Swt. Semua musibah merupakan  kehendak Allah Swt. telah disebutkan bahwa di balik kejadian yang menimpa,pasti terdapat hikmah yang sangat agung. (Al-Misbäh Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir 1999: 92-93).

HADIS SAHIH

Dari Anas bin Malik„ bahwasannya Rasulullah savu mendatangi seorang perempuan tengah menangisi kematian anaknya. Beliau kemudian berkata kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”, Kemudian perempuan itu menjawab, "Kamu tidak peduli dengan musibah yang menimpaku", tatkala beliau pergi dikatakan kepada perempuan itu, tahukah kamu yang berkata barusan adalah Rasulullah. Kemudian perempuan itu mentangi béliau dan berkata bahwä dia tidak mengenalinya, Kemudian Rasulullah Saw: bersabda "Sesungguhnya yang namanya sabar itu ada ketika di guncangan pertama”, (HR. Muslim,1535)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Seseorang yang berada dalam rangka meraih ridha Allah, memikirkan bukti-bukti yang menuntun kepada iman, memelihara perintah Allah, akhirat, Kematian, dan merenungkan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dalam kehidupan ini, balasannya akan mendapatkan pertolongan Allah.

Orang beriman tidak pernah lupa bahwa Allah telah menciptakan setiap situasi yang dialami manusia atau hamba di sepanjang hari-harinya. Tujuan penciptaan tersebut adalah agar kita bersabar atau menggunakan pikiran kita untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang paling disukai Allah, keadaan apa pun yang kita rasakan. Termasuk jika ada masalah yang tidak mampu diselesaikan seorang diri, maka yang harus dilakukan adalah bersabar.

Salah jika ada orang yang menganggap bahwa cobaan hanya muncul dalam bentuk kepedihan yang luar biasa dan tragedi sebagai ujian bagi kesabaran kita. Allah menguji manusia sepanjang hari dengan berbagai cobaan, baik yang besar maupun kecil.

Namun, dalam situasi ini, mereka yang hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur'an tidak merasa jengkel dan tetap bersabar tanpa berkeluhkesah. Dalam Al-Qur'an, Allah menerangkan bahwa salah satu sifat orang beriman adalah tetap bersabar dengan cobaan yang datang kepada mereka.

"(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati me reka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat, dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka." (QS Al-Hajj, 22: 35). (Harun Yahya, 24 Jam dalam Kehidupan Muslim, 2003)






Jumat, 08 Oktober 2021

KEMUNAFIKAN

 


MENAHAN DIRI DARI KEMUNAFIKAN

QS Al-Baqarah, 2: 19

 أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ . (١٩)

 

19. Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan,petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang kafir.

ASBABUNNUZUL

Dari Abdullah Ibnu 'Abbäs dan Abdullah Ibnu Mas'ud diceritakan bahwa ada segolongan kaum munafik yang telah masuk Islam setelah hijrahnya Rasulullah saw. Keadaan mereka seperti seseorang yang terjebak dalam kegelapan. Lalu, mereka berusaha mencari pencahayaan dengan menyalakan api. Akan tetapi, setiap kali dia menyalakannya, api itu padam.

Perumpamaan mereka juga seperti orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai kilat, petir, dan guruh. Mere$a pun berusaha berlindung karena takut bahaya menimpa. Perumpamaan ini selaras dengan tabiat mereka, yaitu suatu ketika mereka syirik, kemudian mereka beriman, kemudian kembali sesat dan kafir. Mereka berada dalam kesamaran antara halal dan haram, antara yang baik dan yang buruk. Dua perumpamaan ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang akan terungkap perbuatan nifaknya. (Lubäbun Nuqül: 8)

TAFSIR AT-TABARI

Lafadzh AS-saibu sinonim dari kata Al-qatru, Al-mataru, dan Al-gaisu, yang semuanya mempunyai arti yang sama yaitu hujan. Melalui perumpamaan hujan, ayat ini memperjelas ciri orang-orang munafik yang pura-pura masuk Islam padahal mereka tetap tenggelam dalam kekafiran. 

Menurut At-Tabari , hujan adalah gambaran umum keimanan orang-orang munafik. Mereka secara dzahir mengaku beriman padahal hati mereka mendustakan, Suasana gelap saat hujan terjadi adalah ibarat kesesatan mereka yang bersumber dari kebutaan dan kebodohan mereka. Secercah cahaya kilat adalah ibarat cahaya keimanan mereka yang hanya sekelebat. Sedangkan takutnya mereka terhadap suara petir dengan menutupkan jari jemari mereka ke telinga adalah ibarat ketakutan atau paranoid mereka yang disebabkan hati mereka lemah akibat penyakit ragu, Mereka ragu apakah ancaman yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, itu benar atau tidak. Mereka khawatir bila ternyata ancaman itu bohong. Namun, mereka juga takut jangan-jangan ancaman yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. itu benar, bahwa siksa Allah akan turun di halaman rumah mereka. 

Akan tetapi, walaupun orang-orang munafik di dunia ini pandai bersandiwara menyembunyikan kekafirannya Allah tetap meliputi mereka (Wallahu muhitum bilkafirin). Adapun makna Allah meliputismereka menurut Mujahid dan Ibnu 'Abbäs adalah bahwa Allah Swt. akan menyiksa dan mengumpulkan mereka seluruhnya di neraka jahanam. (Tafsir At-Tabari Jilid l, 2001:373-378)

TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat init Allah Swt. memberikan perumpamaan lain untuk orang munafik. Berawal dari keraguan mereka akan kebenaran yang hakiki, mereka pun digiring ke dalam kesesatan. Hal inilah yang menyebabkan hati mereka selalu diliputi rasa takut, khawatir, dan ragu-ragu.

Menurut Ibnu 'Abbäs dan Ibnu Mas'ud, kata (Ash-Shaibu) dalam ayat ini bermakna hujan lebat. Pendapat yang sama dikemukakan Abu Aliyah, Mujahid, Safid bin Jubair, Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, Athiyyah Al- Aufi, Atha Al-Khurasani, As-Saddi, dan Rabi bin Anas. Sementara itu, Dhahhak mengartikannya sebagai mendung. Pendapat pertama merupakan pendapat yang lebih masyhur di kalangan ulama ahli tafsir. Ayat ini bisa juga berarti hujan lebat yang turun dalam kegelapan.

Perumpamaan ini bukan hanya berwujud hujan lebat, melainkan hujan lebat yang disertai dengan kegelapan, petir, dan kilat. Dalam keadaan genting seperti itu, hati mereka diliputi rasa takut dan gemetar serta takut akan kematian. Bahkan, mereka menutup telinga karena gelegar suara petir yang bersahut-sahutan. Kilatan-kilatan yang disertai hujan ini semakin membuat mereka panik. Begitulah yang terjadi jika Allah Swt. berkehendak. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kehendak-Nya. (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 32-33)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., "Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah saw. Lalu, apabila Nabi saw. telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Lalu, turunlah ayat, (Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa.)" (HR Muslim, 4981)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Menahan Diri dari Kemunafikan Seseorang yang memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang sombong. Dengan kehendak Allah,mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat seperti itu. Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diber( pengetahuan yang ditanamkan dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan mengetahui orang-orang munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya dipikirkan dengan bersikap munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari yang sebenarnya. 

Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicara dan penampilannya.Meskipun orangorang seperti ini tidak dapat dikenali oleh mukmin sejati, Allah mengetahui kepura-puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha Mendengar setiap ucapan dan kata-kata dan Dia Maha Melihat setiap tingkah lakunya. Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam firman-Nya. 

Oleh karena itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya. la seharusnya menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang mengarah pada kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan. (Harun Yahya, Keikhlasan dalam Telaah Al-Qur'an, 2003)

 




Kamis, 07 Oktober 2021

SETAN BERUSAHA MENGHALANGI MANUSIA UNTUK MENYADARI DAN BERBUAT KEBAIKAN

 

SETAN BERUSAHA MENGHALANGI MANUSIA UNTUK MENYADARI DAN BERBUAT KEBAIKAN




QS Al-Baqarah, 2: 44

۞أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ   (٤٤)


44.Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri,  padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?

ASBABUNNUZUL

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan Yahudi di Madinah. Di antara mereka ada yang berkata kepada saudara kandung, kerabat,dan saudara-saudara sesusunya dari kaum muslimin agar mereka tetap dalam agama Muhammad yang telah dianutnya dan menaatinya. Mereka menyuruh orang lain, tetapi diri mereka tidak melakukannya.(Lubäbun Nuqül: 9)

TAFSIR AT-TABARI

Pada dasarnya para ahli tafsir sepakat bahwa (Mengerjakan) kebajikan) berarti segala bentuk ketäatan kepada Allah. Namun, ketaatan macam apa yang dimaksud kata (Mengerjakan) dalam ayat ini? Para ahli tafsir berbeda pendapat Menurut Ibnu 'Abbäs, (mengerjakan) kebajikan)dalam ayat ini ädalah iman kepada Nabi Muhammad saw. masuk agamanya dan mengikuti ajarannya. Sedangkans menurut Ibnu Juraij adalah shalat dan puasa Adapun menurut As-Saddi adalah taat kepada Allah, Sedangkan menurut Qatadah adalah taat dan takwa kepada Allah serta berbuat kebaikan.

Walaupun para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata
(Mengerjakan) kebajikan) dalam ayat ini, menurut Tabari; Semuanya sepakat bahwa ayat ini merupakan teguran kepada kaum (Bani Israil dan kaum mana pun termasuk umat Islam) yang menyuru manusia kepada perkataan da perbuatan yang diridhai Allah, tapi mereka melupakan diri sendiri, Karena itu menurut Ibnu Juraij _sudah sepatutnya yang menyeru kepada kebaikan untuk terlebih dahulu mengamalkan.

Kalimat Tidakkah kamu pada akhir ayat ini adalah celaan terhadap Bani Israil, karena menyuruh orang lain berbuat kebaikan padahal mereka sendiri tidak melakukan. Mereka melarang orang lain berbuat keburukan,tapi mereka sendiri suka melakukan. Mereka menyeru manusia agar beriman kepada Nabi Muhammad dan risalahnya, namun mereka sendiri mengingkari. Tidakkah merekä menyadari betapa buruknya perbuätan itu (Tafsir At-Tabari Jilid I; 2001: 613-617)


TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat ini Allah Swt menegur Ahlul Kitab yang selalu memerintahkan kebaikan, tetapi tidak pernah melakukannya. Mereka telah memahami kebenaran yang dianjurkan Allah Swt., lalu mereka menyerukannya kepada orang lain, tetapi mereka justru melakukan pembangkangan terhadap Allah Swt. Mereka ibarat orang buta, tetapi memerintahkan orang lain untuk melihat.

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Qatadah bahwa dalam ayat ini Bani Israil memerintahkan orang lain untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. dan melakukan kebaikam Akan tetapi, mereka sendiri tidak konsisten dengan ucapan mereka ituw As-Saddi dan -Ibnu Juraij menegaskane Ahlul Kitab dan kaum munafik memerintahkan umat manusia agar menunaikan shalatj puasa, zakat, dan selalu menyerukan agar beramal shaleh, namun mereka sendiri tidak melakukan semua itu.


Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbäs bahwa mereka justru lalai dan melupakan keadaan diri mereka yang telah melakukan pembangkangan terhadap syariat Allah Swt. Mereka mengingkari kenabian dan melanggar syariat yang ada dalam kitab Taurat. Intinya, mereka tidak konsisten dengan

seruan mereka kepada orang lain.

Dengan ayat init Allah Swt. mengecam tindakan yang mereka lakukan yang selalu menyerukan amar makruf, tetapi mereka sendiri tidak membenahiö sikap mereka. Melakukan amar makruf nahi mungkaradalah perbuatan mulia, tetapi menjadi tercela jika orang yang melakukannya tersebut justru melakukan pembangkangan terhadap syatiat yang mereka serukane (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahjib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 46-47)

HADIS SAHIH

Dari An Nawwas bin Sam’an,ia berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan? Beliau menjawab, "Kebajikan itu adalah akhlak yang mulia sedang, dosa itu adalah apa yang beredar di dalam dadamu sedang kamu merasa benci orang-orang mengetahuinya. (HR Muslimn4632)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Setan Berusaha Menghalangi Manusia untuk Menyadari dan Berbuat Kebaikan Di dalam Al-Qur&an, Allah mengatakan bahwa setan sangatlah kufur dan suka melawan. Kita juga belajar dari Al-Qur'an bahwa setan akan mendekati manusia dari setiap arah dan ia akan berusaha dengan segala cara untuk membawa manusia kepada kebejatan moral. Metode yang paling sering dilakukan setan dalam rencana jahatnya adalah menghalangi manusia dari melihat kebaikan dalam segala peristiwa yang menimpanya.

Dengan cara demikian, ia juga berusaha untuk menyesatkan manusia kepada pemberontakan dan kekufuran. Orang yang tidak mampu memahami keindahan akhlak AlQuran akan jauh dari ajaran Islam dan mereka yang menghabiskan hidup mereka untuk mengejar kesiasiaan dan melupakan akhirat akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan.

Seseorang harus melatih kesabarannya supaya ia dapat berusaha melihat kebaikan dalam semua peristiwa, untuk menunjukkan ketundukan dan kepercayaannya kepada Allah. Ketidakmampuan untuk melatih kesadaran seseorang hanya akan membawa kepada sikap yang salah. (lihat QS Al-Baqarah, 2: 268, Al-A'räf,7: 200-201).

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir),sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah, 2: 268). (Harun Yahya, Melihat Kebaikan di Segala Hal,2004).



 

Rabu, 06 Oktober 2021

SEDEKAH

 

SEDEKAH DITAMPAKKAN ATAU DISEMBUNYIKAN ?

QS Al-Baqarah, 2:271

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَئَِّاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ  . (٢٧١)

271.Jika jkamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus Sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

ASBABUNNUZUL

Dari Amir Asy Sya'bi, pada suatu waktu Umar bin Khathab menyedekahkan separuh dari harta kekayaannya kepada Rasulullah untuk keperluan agama, Rasulullah bertanya kepadanya, "Apakah kamu memikirkan anak keturunanmu yang datang kemudian, wahai Umar!" la menjawab, "Aku menyisihkan setengah dari harta kekayaanku untuk mereka". Tapi kemudian Abu Bakar secara diam-diam telah menyedekahkan seluruh harta nya kepada Rasulullah untuk kepentingan agama, Rasulullah pun menanyakan hal yang sama kepadanya,Abu Bakar menjawab, "Yang akan mencukupi keluargaku adalah Allah dan RasulNya." Mendengar jawaban Abu Bakar, Umar menangis dan berkata, "Demi Allah! setiap aku berbuat kebajikan selalu saja kamu tandingi, wahai Abu Bakar!" Ayat ini pada dasarnya memuji Umar yang bersedekah secara terang-terangan agar dicontoh orang lain, juga memuji Abu Bakar yang bersedekah secara rahasia, dan kedua perbuatan itu patut dicontoh.(Asbabun Nuzul, Studi Pendalaman Al-Qur'an: 123).

TAFSIR AT-TABARI

Ayat ini menjelaskan tentang baiknya mengumumkan sedekah yang akan diberikan. Akan tetapi, jika menutupinya dan tidak mengumumkannya, yaitu memberikan sedekah kepada orang fakir secara sembunyi-sembunyi, maka hal itu lebih baik lagi.

Namun, hal ini hanya berlaku bagi sedekah yang sunat karena untuk ibadah wajib lebih utama diumumkan.

Maksud penggalan ayat (Dan Allah akan menghapus  sebagiam kesalahan- kesalahanmu ) ini mengandung berita dari Allah tentang Dzat-Nya, bahwa Dia akan memberikan balasan berupa dihapuskannya kesalahan kepada orang yang bersedekah (sunnat) secara sembunyi,Dan hanya mengharap ridhaNya. (Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu  kerjakan) yaitu berupa sedekah disembunyikarm dan ditampakkan, dirahasiakan dan yang disebutkan, dan hal-hal lain dari amalan kalian. (Mahateliti) yaitu mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahwa tidak akan ada yang 'tersembunyi dari-Nya sesuatu pun. Dia meliputi segala suatu, dan setiap hal diketahuiNya, sehingga Dia akan memenuhi balasan segala Dia akan memberikan balasan kepada yang sedikit dan kepada yang besar.(Tafsir At-Tabari Jilid V, 2001;14-18)

TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat ini Allah Swt. menegaskan, sedekah yang dikeluarkan secara rahasia jauh lebih utama dibandingkan sedekah yang dikeluarkan secara terbuka

Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut,"Membaca Al-Qur’an dengan keras sama seperti mengeluarkan sedekah dengan terbuka. Membaca Al-Qur’an dengan pelan sama seperti bersedekah dengan cara tertutup."

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut. "Tujuh orang yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. di saat tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, yaitu (1) imam yang adil, (2) pemuda yang selalu beribadah kepada Allah Swt., (3) dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah atas dasar cinta kepada Allah Swt., (4) orang yang hatinya selalu bergantung kepada masjid (ahli masjid),(5) laki-laki yang didatangi dan dibujuk oleh seorang perempuan yang memiliki harta dan kekuasaan, tetapi ia mengatakan, 'Aku takut kepada Allah Swt., ' (6) orang yang bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui sedekah yang dikeluarkan tangan kanannya, dan (7) orang yang selalu berzikir kepada Allah Swt. sampai berlinang air mata. "

Di akhir ayat dijelaskan, bersedekah secara rahasia dapat meninggikan derajat di hadapan Allah Swts Semua dosanya pun akan diampuni oleh-Nya.

(Al-MisbahAl-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999:153)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Masud ra.,ia berkataj "'Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami menjadi kuli angkut (dan kami bersedekah dari upah pekerjaan Abu Aqil bersedekah dengan setengah sha Seseorang membawa sedekah sedikit lebih banyak darinya, Orang-orang munafik berkata, 'Sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah orang init orang ini melakukan hal itu hanya untuk pamer.'Lalu turunlah ayat yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan selain sekadar jerih payahnya.” (HR Muslim, 1692)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Hikmah Sedekah

Dalam ayat 271 tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam Al-Qur'an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surgaNya.

Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam Al-Qur'an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah.(Harun Yahya, Beberapa Rahasia Dalam Al-Qur'an, 2004)



 

Jumat, 01 Oktober 2021

KHALIFAH

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI



وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “(Ingat) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku ingin menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana? Padahal, kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu.’ Dia berkata, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,’” (Surat Al-Baqarah ayat 30).

TAFSIR IBNU KATSIR

Allah memberitahukan ihwal penganugerahan karunia-Nya kepada anak cucu Adam, yaitu berupa penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di hadapan “al mala-ul a’laa” (para malaikat), sebelum mereka diciptakan. Dia berfirman: wa idz qaala rabbuka lil malaa-ikati (“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat”) artinya, hai Muhammad, ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, dan ceritakan pula hal itu kepada kaummu.

Innii jaa’ilun fil ardli khaliifata (“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”) Yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu kaum lainnya,kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana firman-Nya: Huwal ladzii ja’alakum khalaa-ifa fil ardli (“Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.”) (QS. A1-An’aam: 165).

Juga firman-Nya: “Kalau Kami menghendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi ini malaikat-malaikat yang turun temurun.” (QS. Az-Zukhruf: 60).

Yang jelas bahwa Allah tidak hanya menghendaki Adam saja, karena jika yang dikehendaki hanya Adam, niscaya tidak tepat pertanyaan malaikat, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.”

Artinya, para malaikat itu bermaksud bahwa di antara jenis makhluk ini terdapat orang yang akan melakukan hal tersebut. Seolah- olah para malaikat mengetahui hal itu berdasarkan ilmu khusus, atau mereka memahami dari kata “Khalifah ” yaitu orang yang memutuskan perkara di antara manusia tentang kezaliman yang terjadi di tengah-tengah mereka, dan mencegah mereka dari perbuatan terlarang dan dosa. Demikian yang dikemukakan oleh al-Qurthubi.

Atau mereka membandingkan manusia dengan makhluk sebelumnya. Ucapan malaikat ini bukan sebagai penentangan terhadap Allah atau kedengkian terhadap anak cucu Adam, sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian mufassir. Mereka ini telah disifati Allah swt. sebagai makhluk yang tidak mendahului-Nya dengan ucapan, yaitu tidak menanyakan sesuatu yang tidak Dia izinkan.

Di sini tatkala Allah swt telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk di bumi, Qatadah mengatakan, “Para malaikat telah mengetahui bahwa mereka akan melakukan kerusakan di muka bumi,” maka mereka bertanya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” Pertanyaan itu hanya dimaksudkan untuk meminta penjelasan dan keterangan tentang hikmah yang terdapat di dalamnya.

Maka untuk memberikan jawaban atas pertanyaan para malaikat itu, Allah swt. berfirman, innii a’lamu maa laa ta’lamuun (“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”) Artinya, Aku (Allah) mengetahui dalam penciptaan golongan ini (manusia) terdapat kemaslahatan yang lebih besar daripada kerusakan yang kalian khawatirkan, dan kalian tidak mengetahui, bahwa Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi dan rasul yang diutus ke tengah-tengah mereka. Dan di antara mereka juga terdapat para shiddiqun, syuhada’, orang-orang shalih, orang-orang yang taat beribadah, ahli zuhud, para wall, orang-orang yang dekat kepada Allah, para ulama, orang-orang yang khusyu’, dan orang-orang yang cinta kepada-Nya, serta orang-orang yang mengikuti para Rasul-Nya.

Dalam hadits shahih telah ditegaskan bahwa jika para malaikat naik menghadap Rabb dengan membawa amal hamba-hamba-Nya, maka Dia akan nanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih tahu tentang manusia, “Dalam keadaan bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba Ku?” Mereka menjawab, “Kami datang kepada manusia ketika mereka sedang mengerjakan shalat, kami tinggalkan dalam keadaan mengerjakan shalat pula.” Yang demiki karena mereka datang silih berganti mengawasi kita berkumpul dan bertemu pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Maka di antara mereka ada, yang tetap tinggal mengawasi, sedang yang lain lagi naik menghadap Allah dengan membawa amal para hamba-Nya. Ucapan para malaikat, “Kami datangi mereka ketika sedang mengerjakan shalat dan kami tinggalkan mereka juga ketika dalam keadaan mengerjakan shalat,” merupakan tafsiran firman Allah swt. kepada mereka, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ada juga pendapat yang mengatakan, hal itu merupakan jawaban ucapan para malaikat, yaitu firman-Nya: wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisulaka (“kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.”) Maka Dia pun berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Yakni mengetahui akan adanya Iblis di antara kalian, dan Iblis itu bukanlah seperti yang kalian sifatkan untuk diri kalian sendiri. Ada juga yang berpendapat, ucapan para malaikat yang terdapat dalam firman Allah: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” mengandung permohonan agar mereka diturunkan ke bumi untuk menggantikan Adam as. dan keturunannya. Maka Allah berfirman kepada para malaikat: “innii a’lamu maa laa ta’lamuun (“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”) maksudnya tempat tinggal kalian di langit itu lebih baik bagi kalian. Demikian yang dikemukakan oleh ar-Razi’.

 

Bersumber dari Hasan al-Bashri dan Qatadah, Ibnu Jarir mengatakan: firman Allah: Innii jaa’ilun fil ardli khaliifata (“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”) maksudnya Allah berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan melakukan hal itu.” Artinya Dia memberitahukan hal itu kepada para malaikat.

Ibnu Jarir mengatakan: artinya Allah berfirman, “Aku akan menjadikan di muka bumi seorang khalifah dari-Ku yang menjadi pengganti-Ku dalam memutuskan perkara secara adil di antara semua makhluk-Ku. Khalifah tersebut adalah Adam dan mereka yang menempati posisinya dalam ketaatan kepada Allah dan mengambil keputusan secara adil di tengah-tengah umat manusia.”

Berkenaan dengan firman Allah: “Padahal hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan Mu,” Abdurrazak, dari Mu’ammar, dari Qatadah, berkata: “Tasbih adalah tasbih, sedang taqdis adalah shalat.”

Ibnu Jarir mengatakan, taqdis berarti pengagungan dan penyucian. Misalnya ucapan mereka, “subbuuhun qudduusun” artinya subbuuhun Allah dan qudduusun adalah menyucikan serta pengagungan bagi-Nya. Demikian juga dikatakan untuk bumi, ardlun muqaddasatun (tanah suci).

Dengan demikian, firman-Nya, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu, ” berarti, kami senantiasa menyucikan-Mu dan menjauhkan-Mu dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik kepada-Mu. “Dan kami menyucikan-Mu,” artinya, kami menisbatkan kepada-Mu sifat-sifat yang Engkau miliki, yaitu kesucian dari berbagai kenistaan dan dari apa yang dikatakan kepada-Mu oleh orang-orang kafir.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan hadits dari Abu Dzar ra: “Bahwa Rasulullah pernah ditanya, ‘Ucapan apa yang paling baik?’ Beliau menjawab, “Yaitu apa yang dipilih oleh Allah bagi para malaikat-Nya; `Maha-suci Allah, segala puji bagi-Nya.”‘

Mengenai firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” Qatadah mengatakan, “Allah sudah mengetahui bahwa di antara khalifah itu akan ada Para nabi, rasul, kaum yang shalih, dan para penghuni surga.”

Al-Qurthubi dan ulama lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan keharusan mengangkat pemimpin untuk memutuskan perkara di tengah-tengah umat manusia, mengakhiri pertikaian mereka, menolong orang-orang teraniaya dari yang menzhalimi, menegakkan hukum, mencegah berbagai perbuatan keji, dan berbagai hal yang penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya pemimpin, dan “Sesuatu yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu sendiri merupakan hal wajib pula.”

Imamah itu diperoleh melalui nash, sebagaimana yang dikatakan oleh segolongan ulama ahlus sunnah terhadap Abu Bakar. Atau melalui pengisyaratan menurut pendapat lainnya. Atau melalui penunjukkan pada akhir masa jabatan kepada orang lain, sebagaimana yang pernah dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq terhadap Umar bin Khaththab. Atau dengan menyerahkan permasalahan untuk dimusyawarahkan oleh orang-orang shalih, sebagaimana yang pernah dilakukan Umar bin Khatthab. Atau dengan kesepakatan bersama “ahlul halli wal ‘aqdi” untuk membai’atnya, atau dengan bai’at salah seorang dari mereka kepadanya dan dengan demikian wajib diikuti oleh mayoritas anggota. Hal tersebut menurut Imam al-Haramain merupakan ijma’ (konsensus), wallaaHu a’lam. Atau dengan memaksa seseorang menjadi pemimpin untuk selanjutnya taati. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perpecahan dan perselisihan, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Syafi’i.

Apakah harus ada saksi atas terbentuknya imamah ?

Mengenai masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Di antara mereka ada yang menyatakan, bahwasanya hal tersebut tidak disyaratkan. Dan juga yang menyatakan, hal itu memang suatu keharusan dan cukup dua orang saksi saja.

Pemimpin harus seorang laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muslim, mujtahid, berilmu, sehat jasmani, memahami strategi perang dan berwawasan luas serta berasal dari suku Quraisy, menurut pendapat yang shahih. Namun tidak disyaratkan harus berasal dari keturunan al-Hasyimi dan tidak harus seorang ma’shum (terlindungi) dari kesalahan. Hal terakhir berbeda dengan pendapat golongan ekstrim Rafidhah (Syi’ah).

Jika seorang imam berbuat kefasikan, apakah ia harus dicopot atau tidak?

Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat, tetapi yang shahih adalah bahwa pemimpin tersebut tidak perlu dicopot. Berdasarkan sabda Rasulullah: “Kecuali jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata sementara kalian memiliki bukti dari Allah dalam hal itu.”

Apakah ia berhak mengundurkan diri ?

Terdapat pula perbedaan pendapat dalam masalah ini. Hasan bin Ali ra. telah mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah, tetapi hal itu didasarkan pada suatu alasan, dan karena tindakannya itu ia mendapatkan pujian. Sedangkan pengangkatan dua imam (pemimpin) atau lebih di muka bumi (pada masa yang sama), yang demikian sama sekali tidak diperbolehkan. Berdasarkan sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang mendatangi kalian sedangkan urusan kalian sudah menyatu, dengan maksud akan memecahbelah kalian, maka bunuhlah ia, siapapun orangnya.” (Kitab Zaadul Masiir)

Yang demikian itu merupakan pendapat jumhurul (mayoritas) ulama. Adapun yang menyatakan ijma’ (konsensus) sebagaimana disebutkan oleh beberapa ulama seperti Imam al-Haramain.

HADIST SAHIH

Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, ia menyebut beberapa hadits diantaranya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Allah 'azza wajalla menciptakan Adam seperti wujudnya, panjangnya enampuluh dzira'. Setelah menciptakannya, Allah berfirman: 'Pergilah lalu ucapkan salam pada mereka itu, mereka adalah kelompok malaikat yang tengah duduk lalu dengarkan jawaban mereka, itulah salammu dan salam keturunanmu." Beliau bersabda: "Adam pergi lalu mengucapkan: 'ASSLAAMU'ALAIKUM? ' Mereka menjawab: 'ASSALAAMU 'ALAIKA WA RAHMATULLAAH'." Beliau bersabda: "Mereka menambahi: 'WA RAHMATULLAAH'." Beliau bersabda: "Setiap orang yang masuk surga wujudnya seperti Adam, panjangnya enampuluh dzira' dan setelahnya (Adam) postur tubuh (manusia) terus berkurang hingga sekarang       ."( HR MUSLIM, 5075 )