Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2021

NAUGAN ALLAH

 

NAUNGAN ALLAH

Berangkat dari pertanyaan yang ada di buku tamu, saya akan sedikit membahas apa yang dimaksud dengan naungan Allah yang kelak akan diberikan kepada tujuh golongan sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ"

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar Bundaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari ‘Ubaidullah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khubaib bin ‘Abdirrahmaan, dari Hafsh bin ‘Aashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Ada tujuh golongan yang kelak akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : (1) imam yang ‘adil; (2) pemuda yang menyibukkan diri beribadah kepada Rabb-Nya; (3) laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid; (4) dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dimana mereka berkumpul ataupun berpisah semata-mata karena-Nya; (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang kaya lagi cantik, lalu laki-laki itu menolak dan berkata : ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah’; (6) laki-laki yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan (7) laki-laki yang ingat kepada Allah di saat sunyi hingga mengalir kedua air matanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 660].

Dalam beberapa riwayat, lafadh dhill (ظِلٌّ) kadang disandarkan kepada Allah ta’ala, kadang disandarkan kepada ‘Arsy Allah ta’ala. Hadits di atas termasuk hadits dimana lafadh adh-dhill disandarkan kepada Allah ta’ala. Selain itu juga hadits berikut :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي 

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, dari Maalik bin Anas dalam riwayat yang telah dibacakan kepadanya, dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan bin Ma’mar, dari Abul-Hubaab Sa’iid bin Yasaar, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah berfirman kelak di hari kiamat : ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena ke-Agungan-Ku pada hari yang akan Aku naungi mereka di bawah naungan-Ku, yaitu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku ?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2566].

Sebagian ulama menjelaskan bahwa lafadh adh-dhill (naungan) termasuk bagian di antara sifat Allah ta’ala. Inilah pendapat yang diambil Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah ta’ala [lihat : http://binbaz.org.sa/mat/4234].

Al-Haafidh Ibnu Mandah rahimahullah dalam kitab At-Tauhiid, hal. 667 (no. 735-739; tahqiq : Dr. Muhammad Al-Wuhaibiy & Dr. Muusaa Al-Ghushn, Daarul-Hadyin-Nabawiy, Cet. 1/1428 H) berkata lain. Beliau mengatakan bahwa lafadh ‘naungan’ dalam hadits di atas merupakan bagian dari sifat ‘Arsy-Nya ta’ala. Atau dengan kata lain, makna naungan Allah tersebut adalah naungan ‘Arsy Allah ta’ala. Beliau rahimahullah berhujjah di antaranya dengan riwayat :

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مَيْمُونٍ، ثنا شُرَيْحُ بْنُ النُّعْمَانِ، ثنا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي طُوَالَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّ عَرْشِي، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي "

Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Al-Hasan bin Maimuun : Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaimaan, dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan Abu Thuwaalah, dari Sa’iid bin Yasaar, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah akan berfirman di hari Kiamat : ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena ke-Agungan-Ku ? Hari dimana Aku akan naungi mereka di bawah naungan ‘Arsy-Ku, yaitu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku” [Diriwayatkan Ibnu Mandah dalam At-Tauhiid, no. 735].

Dalam sanad riwayat di atas terdapat Fulaih bin Sulaimaan. Meskipun haditsnya dipakai oleh Syaikhaan, namun ia disifati banyak keliru. Akan tetapi hadits tersebut shahih (dengan keseluruhan jalannya), dengan penguat diantaranya :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ نَجْدَةَ، ثَنَا أَبِي، ثَنَا بَقِيَّةُ. ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي الْهَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عَيَّاشٍ، قَالا: ثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللَّهُ: " الْمُتَحَابُّونَ بِجَلالِي فِي ظِلِّ عَرْشِي يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلِّي"

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdil-Wahhaab bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah (ح). Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepadaku Al-Haitsam bin Khaarijah : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy; mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin ‘Amru, dari ‘Abdurrahmaan bin Maisarah, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Allah berfirman : ‘Orang yang saling mencintai karena ke-Agungan-Ku berada di bawah naungan ‘Arsy-Ku pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 959; shahih].

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ النَّضْرِ الْعَسْكَرِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ حَفْصٍ النُّفَيْلِيُّ، ثنا أَبُو الْمَلِيحِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي مَرْزُوقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْخَوْلانِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " الْمُتَحَابُّونَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ، عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ"

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr Al-‘Askariy : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Hafsh An-Nufailiy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Maliih, dari Habiib bin Abi Marzuuq, dari ‘Athaa’ bin Abi Rabaah, dari Abu Muslim Al-Khaulaaniy, dari Mu’aadz bin Jabal, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang saling mencintai berada di bawah naungan ‘Arsy pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yang kedudukan mereka membuat iri para Nabi dan orang-orang yang jujur” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir, 20/88 no. 168; shahih].

Selain itu, pendapat Ibnu Mandah itu juga dikuatkan oleh riwayat :

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا إِسْحَاق بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّازِيُّ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي صَالِحِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا، أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ"

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Sulaimaan Ar-Raaziy, dari Daawud bin Qais, dari Zaid bin Aslam, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menangguhkan tempo orang yang kesulitan dalam pembayaran hutang atau bahkan membebaskannya, maka kelak Allah akan memberikan naungan kepadanya pada hari kiamat di bawah naungan ‘Arsy-Nya, yaitu hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1306; shahih].

حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْخَطْمِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ نَفَّسَ عَنْ غَرِيمِهِ أَوْ مَحَا عَنْهُ، كَانَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"

 Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Al-Khathmiy, dari Muhammad bin Ka’b Al-Quradhiy, dari Abu Qataadah, ia berkata Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang meringankan tanggungan orang yang berhutang kepadanya atau bahkan menghapuskan hutangnya, kelak ia akan ada di bawah naungan ‘Arsy pada hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 2589; shahih].

فَوَجَدْنَا مُحَمَّدَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ زِيَادٍ الرَّازِيَّ قَدْ حَدَّثَنَا، أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، وَعَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، وَنُوحُ بْنُ حَبِيبٍ. وَوَجَدْنَا ابْنَ أَبِي دَاوُدَ قَدْ حَدَّثَنَا، قَالَ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالُوا: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَحْتَ عَرْشِهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَرَجُلانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ ذَاتُ حَسَبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ. وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، فَأَخْفَى يَسَارَهُ مَا أَنْفَقَتْ يَمِينُهُ"

Kami mendapatkan (kitab)[1] Muhammad bin Ibraahiim bin Ziyaad Ar-Raaziy yang telah menceritakan kepada kami : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah, ‘Amru bin ‘Aliy, dan Nuuh bin Habiib. Dan kami telah mendapatkan (kitab) Ibnu Abi Daawud yang telah menceritakan kepada kami, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Musaddad; mereka semua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Khubaib bin ‘Abdirrahmaan, dari Hafsh bin ‘Aashim, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada tujuh golongan yang kelak akan Allah naungi di bawah ‘Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : (1) imam yang ‘adil; (2) pemuda yang menyibukkan diri beribadah kepada Allah ta’ala; (3) dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dimana mereka berkumpul ataupun berpisah semata-mata karena-Nya; (4) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang kaya lagi cantik, lalu laki-laki itu menolak dan berkata : ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah’; (5) laki-laki yang ingat kepada Allah di saat sunyi hingga mengalir kedua air matanya karena takut kepada Allah; (6) laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid; dan (7) laki-laki yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar no. 5846; shahih].

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berlainan pendapat dengan Ibnu Mandah, yaitu setelah menyebutkan hadits tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah, berkata :

والظل في هذا الحديث يراد به الرحمة، والله أعلم، ومن رحمة الله الجنة، قال الله عز وجل : (أُكُلُهَا دَائِمٌ وظِلُّهَا)، وقال : (وَظِلٍِّ مَمْدُودٍ)، وقال : (فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ)

“Dan naungan dalam hadits ini, yang dimaksudkan dengannya adalah rahmat, wallaahu a’lam. Dan termasuk di antara rahmat Allah adalah surga. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula)’ (QS. Ar-Ra’d : 35), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (QS. Al-Waaqi’ah ; 30), dan juga firman-Nya : ‘dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air’ (QS. Al-Mursalaat : 41 )” [At-Tamhiid, 2/282 – melalui perantaraan kitab : Shifaatullaahi ‘azza wa jalla Al-Waaridah fil-Kitaab was-Sunnah oleh ‘Alawiy bin ‘Abdil-Qaadir As-Saqqaaf, hal. 240; Cet. 3/1426 H].

Tarjih

Melihat dalil-dalil yang diajukan masing-masing pendapat nampak bahwa yang tepat dalam hal ini adalah pendapat kedua; yaitu lafadh ‘naungan’ merujuk kepada naungan ‘Arsy Allah ta’ala, bukan naungan dzat Allah ta’ala. Bahkan sangat jelas dalam lafadh hadits Abu Hurairah yang dibawakan oleh Ath-Thahawiy tentang hadits tujuh golongan dengan penjelasan naungan di bawah ‘Arsy-Nya ta’ala. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa naungan tersebut adalah rahmat Allah, maka sangat jauh.

Ini saja yang dapat saya tuliskan secara singkat dan sederhana. Semoga dapat memberikan kejelasan.

Wallaahu a’lam.

[1] Yaitu dari jalan al-wijaadah. Para ulama berbeda pendapat tentang kebersambungan sanad melalui jalan wijaadah ini. Ada yang menghukumi bersambung, ada pula yang menghukumi terputus (munqathi’). Namun yang raajih dalam permasalahan ini adalah dihukumi bersambung dan shahih. Wallaahu a’lam.

BACA  JUGA : BOSAN




Senin, 04 Oktober 2021

UNTUK PARA AYAH YANG AKANMENIKAHKAN PUTRINYA

 

UNTUK PARA  AYAH YANG AKAN MENIKAHKAN PUTRINYA


Putri kita dilamar seseorang. Memang sudah waktunya ia menikah. Tentu kita tidak boleh gegabah dalam menerima atau menolak pinangan itu.

Nabi shollallahu alaihi wasallam memberikan patokan utama untuk menerima pinangan seorang laki-laki adalah kebaikan agama dan akhlaknya.

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوه

Jika ada seorang yang mengajukan lamaran kepada kalian (untuk wanita yang di bawah perwalian kalian), yang orang itu kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah dia…(H.R atTirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Baik agamanya, artinya berkomitmen kuat untuk menjalankan ajaran-ajaran agama Islam. Apa yang dia ketahui sebagai perintah, ia berusaha menjalankannya. Apa yang dia ketahui sebagai larangan, ia berusaha meninggalkannya. Ia pun bersemangat untuk terus mempelajari ajaran Islam.

Ia pun baik akhlaknya. Menjaga tutur kata dan sikapnya sehingga tidak menyakiti muslim lainnya. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Tidak suka berbuat zhalim kepada siapapun. Mudah menerima nasihat dan diarahkan pada kebaikan.

Memang tidak mungkin kita mendapat yang sempurna. Namun, setidaknya sisi kebaikannya masih lebih dominan.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika seseorang menunda menikahkan putrinya karena belum ada seorang yang dia ridhai agama dan akhlaknya, sesungguhnya (wali tersebut) tidaklah berdosa. Karena penundaan ini untuk kemaslahatan wanita itu. Karena sesungguhnya orang yang tidak diridhai agama dan akhlaknya akan menjadi bencana bagi sang istri di masa yang akan datang. Bisa jadi ia akan menghalangi sang istri dari (menjalankan) agamanya, atau akan bersikap terhadap istri dengan sikap yang buruk…(al-Liqaausy Syahri (1/475))

Mengapa kita harus begitu cermat dalam mempersiapkan calon suami bagi putri kita? Karena nantinya hak suami masih lebih besar dibandingkan hak orangtua. Demikian pendapat yang dipilih oleh al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad, dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumullah.

Nabi shollallahu alaihi wasallam mengibaratkan para istri adalah bagaikan tawanan bagi suaminya:

فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٍ

Sesungguhnya mereka (para istri) adalah tawanan kalian (H.R Ibnu Majah, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Artinya, kita harus selektif untuk memilih, kepada siapakah putri kita nantinya ‘ditawan’.

Sebagai seorang muslim yang cinta kepada saudaranya, kita juga jangan menutup informasi tentang putri kita, termasuk dalam hal-hal yang sangat perlu diketahui oleh calon suaminya. Jangan sampai sang calon suami hanya mendapat penilaian yang baik-baik saja tentang calon istrinya. Tentunya juga harus bersikap bijak dalam hal itu.

Meskipun nantinya hak suami lebih besar dibandingkan orangtua, namun sang ayah atau wali, maupun calon istri, memiliki hak untuk mempersyaratkan hal-hal tertentu yang harus dipatuhi oleh sang suami nantinya. Hal itu bisa disampaikan sebelum akad nikah. Baik secara lisan dengan adanya saksi jika diperlukan, ataukah secara tertulis. Ayah atau wali punya hak untuk mengadakan perjanjian pra nikah. Tentunya, poin-poin isi perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan syariat Allah. Tidak boleh bertentangan pula dengan tujuan pernikahan.

Contoh poin perjanjian yang tidak sah adalah: tidak boleh berduaan dengan istri, atau tidak boleh memiliki anak dari istri tersebut. Atau, mempersyaratkan agar sang laki-laki itu menceraikan istri sebelumnya. Ini contoh poin persyaratan yang tidak sah.

Sedangkan contoh poin perjanjian yang sah, di antaranya adalah: tidak boleh memindahkan sang istri dari kota tempatnya saat ini berdomisili. Syarat yang sah pula adalah: apabila orangtua sakit di rumah sakit, sang suami harus mengizinkan sang istri untuk merawat orangtuanya setidaknya selama beberapa hari tertentu. Atau sang calon istri mempersyaratkan bahwa ia ingin berada di rumah yang terpisah baik dengan orangtuanya sendiri maupun mertuanya. Ini termasuk contoh persyaratan yang sah.

Persyaratan-persyaratan yang sah itu haruslah dipenuhi. Bahkan termasuk persyaratan yang paling layak untuk dipenuhi. Berdasarkan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam:

أَحَقُّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

Persyaratan-persyaratan yang paling layak untuk dipenuhi adalah yang dengannya dihalalkan farji (melalui pernikahan, pent)(H.R al-Bukhari)

Karena itu dalam penentuan poin-poin itu sebelum akad nikah ada diskusi dan tawar menawar. Kedua pihak punya pilihan untuk lanjut atau tidak lanjut. Mereka tidak ada yang dipaksa harus lanjut. Masih ada pilihan untuk tidak lanjut. Kalau mau berlanjut, berarti ada komitmen yang harus dijalankan. Perjanjian atau persyaratan-persyaratan tersebut bisa diajukan pada saat akad atau sebelum akad.

Apabila ternyata dalam pelaksanaannya sang suami melanggar komitmen pada poin-poin perjanjian atau persyaratan itu, sang istri berhak untuk membatalkan pernikahan (faskh).

Semoga Allah Ta’ala memberkahi dan menolong upaya baik kaum muslimin yang ingin menikah sesuai dengan tuntunan syariat.

Wallaahu A’lam

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman








Jumat, 01 Oktober 2021

KEAJAIBAN ISTIGHFAR

 KEAJAIBAN ISTIGHFAR


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak mengucapkan istighfar dan bertaubat padahal beliau seorang rasul yang telah diampuni dosa yang telah lalu maupun akan datang.  hal ini terdapat pada firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)

Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristighfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristighfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristighfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud.)

Salah satu kunci kebahagiaan hidup adalah beristighfar dan memohon ampun serta bertaubat kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah karena dosa atau kemaksiatan yang telah dilakukan. Istighfar tak hanya sekedar ucapan dengan lisan namun disertai perbuatan. Mengakui kesalahan dan berusaha bersungguh-sungguh agar Allah melimpahkan rahmat serta ampunan-Nya. Istighfar juga pembuka pintu kesulitan kehidupan seperti kekurangan makanan atau kemiskinan, belum dikaruniai rezeki berupa anak, saat musim paceklik serta berbagai problem lainnya. Bahkan dalam kondisi lapang atau sempit pun sebagai perwujudan kecintaan hamba pada Rabb-nya, istighfar tetap dibutuhkan karena manusia yang beriman tetap tergantung pada Allah Ta’ala. Hidup pun lebih berkah dengan memperbanyak istighfar. Firman Allah Ta’ala:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh:10-12).

Allahu Akbar! Sungguh agung dan besarnya buah serta pahala istighfar. Melafadzkannya dengan dipahami maknanya dalam hati. Meresapinya bahwa ia memohon pada Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Mengabulkan Doa. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berhusnudzon bahwa Allah akan menerima istighfar yang dilakukan dengan keinginan kuat, harapan besar serta menggantungkan pengkabulan doa tersebut kepada ilmu Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يقل أحدكم: اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة فإن الله لا مكره له

Janganlah salah seorang di antara kamu berdoa, ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki’ atau berdoa, ‘Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepadaku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah ia berkeinginan kuat dalam permohonan itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu (HR. Al- Bukhori [XI/6339], Muslim [2679]).
Subhanallah! Selayaknya seorang mukmin selalu menghiasi hari-harinya dengan memperbanyak istighfar, sebagaimana dzikir sesudah sholat pun disunnahkan untuk beristighfar. Dzikir pagi dan sore hari juga tak terlepas dari permohonan ampun pada-Nya. Sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wassalam:

أستغفر الله و أتوب إليه

Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya” (dibaca 100 x) (HR. Al Bukhori [11/101], Muslim [4/2075]).

Saudaraku … Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)

Semoga Allah mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.

Semoga bermanfaat..

Rabu, 12 Desember 2018

SAAT KISWAH KA'BAH DIGANTI

SAAT KISWAH KA’BAH DIGANTI



Kabah merupakan tempat yang paling disucikan bagi umat muslim di seluruh dunia. Bangunan yang dijadikan kiblat ketika salat oleh seluruh umat muslim ini identik dengan kiswah yang menutupinya.

Kiswah sendiri adalah kain penutup kabah berwarna hitam yang dihiasi rajutan benang emas. Kain penutup ini berfungsi untuk melindungi Kabah dari kotoran, debu serta panas yang dapat merusaknya. Selain itu, kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Kabah.

Meski terlihat biasa, sebenarnya kiswah bukanlah kain penutup biasa. Dari proses pembuatan hingga pemasangannya dilakukan secara istimewa. Tak heran jika banyak yang tertarik dengan sejarah hingga proses penggantian kiswah. Hal ini terbukti dari kunjungan ribuan jamaah haji ke pabrik pembuatan kiswah setiap tahunnya.

Ka'bah berdiri gagah, berselimbutkan kain berwarna hitam. bagian atas sampai hampir ke tengahnya dihiasi tulisan berwarna kuning emas, kutipan ayat-ayat Al-Quran. Kiswah, itulah nama kain pembungkus Ka'bah itu, terbuat dari sutra pilihan dan bersulam benang emas murni. Ukuran kiswah adalah 14 meter tinggi, 47 meter panjang dengan berat sekitar 650 kilogram.

Yang pertama kali memberikan kiswah untuk Ka'bah adalah Raja Asad Tubba dari Yaman Selatan. Kiswah pada saat itu dibuat dari kain brukat sutra berkualitas sangat baik. Setiap tahun, pada saat kiswah diganti, kaum Quraisyi yang ketika itu menguasa Mekah, mengadakan upacara yang juga diikuti semua kaum atau suku yang berkaitan dengan kepentingan Ka'bah.

Kemudian Nabi Muhammad SAW tercatat sebagai yang pertama menggunakan kiswah dari kain sutra yang dihiasi dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Hal ini diikuti pula oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, Ibnu al-Zubair dan Abdul Malik. Tulisan itu membentuk angka V (angka tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di kiswah Ka`bah adalah, "Allah Jalla Jalalah, La Ilaha Illaallah, Muhammad Rasulullah".

Terutama pada musim haji, bagian kain kiswah yang berada di bawah disingkap dengan tali ke atas, sehingga tidak dapat dijangkau oleh jamaah. Setiap kiswah diganti dengan yang baru, kiswah lama harus dibakar, karena khawatir disalahgunakan oleh mereka yang memanfaatkannya untuk keperluan yang bersifat syirik, misalnya memperlakukannya sebagai benda keramat atau azimat yang mempunyai kekuatan atau kesaktian.

Kiswah ini diganti setiap tahun sekali pada waktu upacara haji. Pada saat pergantian, Kiswah dipasang lapisan dan disambung dengan kain putih untuk menjadi tanda bahwa Ka’bah dalam keadaan Ihram. Pada tanggal 10 Zulhijah, ketika Mekah kosong karena jamaah haji masih berada di Mina, kiswah dan penutup maqam Ibrahim diganti dengan yang baru.

Sebelum dibuat sendiri di Mekah, kiswah biasanya dibuat di Mesir dan India dan diberikan kepada pemerintah Saudi sebagai hadiah. Kiswah terdiri dari lima bagian, empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka`bah dan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu Ka`bah.

Di balik kiswah hitam, ada kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu untuk meresap uap dari dinding Ka`bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain kiswah yang hitam. Kain ini mengandung daya serap untuk menghindarkan panas yang berlebihan dan mencegah dinding Ka`bah retak.

Pada Ka’bah kita sering melihat adanya kiswah (kain/selimut hitam penutup Ka’bah). Tujuan dari pemasangan kain itu adalah untuk melindungi dinding Ka’bah dari kotoran, debu, serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Ka’bah.

Menurut sejarah, Ka’bah sudah diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail a.s., putra Nabi Ibrahim a.s.. Namun tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah terbuat dari kain tenun.

Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail a.s. diikuti oleh para penerusnya. Pada masa Qusay Ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafaur Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas. Sementara itu, pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman.

Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan pada masa Khalifah Mamun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.

Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.





SHALAT ARBA'IN


SHALAT ARBAIN

Sebagian besar para jamaah haji dijadwalkan untuk mengunjungi kota Madinah sebelum atau sesudah penyelenggaraan ibadah haji. Mereka sangat bersemangat berkunjung ke Madinah meski ziarah ini tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Hal ini tidak aneh karena Madinah memiliki kedudukan yang tinggi dalam sejarah penyebaran Islam. Ke tempat inilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah untuk kemudian menghabiskan umur beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyemai dakwah Islam di sana. Oleh karena itu, meski ibadah haji tetap sah tanpa ziarah ke Madinah, namun para jamaah haji selalu merasa ada yang kurang jika tidak berkunjung ke sana. Di antara ibadah yang biasa dilakukakan para jamaah haji selama di kota ini adalah shalat arba’in di Masjid Nabawi.

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi Shalat di Masjid Nabawi tidaklah seperti shalat di masjid lain. Allâh Azza wa Jalla telah menyematkan padanya keutamaan yang besar, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah melebihkan sebagian amalan di atas sebagian yang lain.

Hadits berikut dengan tegas menjelaskan hal ini:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ المَسْجِدَ الحَرَامَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” [HR. al-Bukhari no.1190 dan Muslim no. 505]

Sungguh keutamaan yang besar! Ini berarti satu kali shalat fardhu di sana lebih baik dari shalat fardhu yang kita lakukan dalam dua ratus hari di tempat yang lain. Maka sungguh merugi orang yang sudah sampai di Madinah tapi tidak sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan besar ini. Hadits yang muttafaq ‘alaih sehingga tidak diragukan lagi keshahihannya ini sudah cukup sebagai penggelora semangat kita dan kita tidak butuh lagi hadits-hadits yang lemah.

Apa itu Shalat Arba’in? Arba’in atau arba’un dalam bahasa Arab berarti empat puluh. Yang dimaksud dengan shalat arba’in adalah melakukan shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam.

Para jamaah haji meyakini bahwa amalan ini akan membuat mereka terbebas dari neraka dan kemunafikan. Karenanya jamaah haji Indonesia dan banyak negara lain diprogramkan untuk menginap di Madinah selama minimal 8 hari agar bisa menjalankan shalat arba’in.

Dasar keyakinan ini adalah sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan. [HR. Ahmad no. 12.583 dan ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 5.444]


Perjuangan berat jamaah haji dalam melaksanakan sholat Arbain di Masjid Nabawi 
salah satunya adalah Antri di Lift Hotel

Rabu, 27 Desember 2017

BERJUANG MELAWAN UJUB

BAHAYA PENYAKIT UJUB

Sesungguhnya Iblis selalu berusaha menjauhkan anak cucu
Adam dari amalan sholeh dan menjerumuskan mereka dalam beragam kemaksiatan, tidak lain agar anak cucu Adam bisa menemaninya di neraka Jahanam abadi salama-lamanya.

Jika Iblis tidak berhasil melakukannya pada sebagian anak cucu Adam dan melihat mereka samangat beribadah dan jauh dari kemaksiatan maka Iblis tidak putus asa…ia tetap terus berusaha agar para pelaku amal sholeh tersebut tetap bisa menemaninya di neraka?.
Iblis memiliki dua senjata yang sangat ampuh untuk menjerat mereka yang rajin beribadah, senjata riyaa' dan senjata ujub. Iblis selalu menyerang mereka dengan dua senjata ini, dan ia tidak peduli apakah ia berhasil menjerat mereka dengan dua senjata ini atau salah satunya.

Maka sungguh binasa orang yang terjerat dua senjata ini…ia beramal dalam keadaan riyaa' sehingga amalannya tidak diterima oleh Allah, dan pada waktu yang sama iapun ujub dan ta'jub dengan amalan sholehnya yang pada hakekatnya tidak diterima oleh Allah. Ia bangga dengan sesuatu yang semu dan fatamorgana…!!!

Ada orang yang selamat dari senjata riyaa' akan tetapi terkena tembakan senjata ujub, sehingga gugurlah pula amalannya.

Sungguh dua senjata Iblis yang sangat berbahaya…senjata yang hanya ditodongkan kepada orang-orang yang rajin beribadah…orang-orang yang rajin, puasa, sedekah, dan sholat.

Karenanya para pelaku kriminal, kejahatan, dan kemaksiatan tidak kawatir dengan dua senjata ini. Justru orang-orang yang sholehlah yang dikhawatirkan terjangkiti penyakit riyaa' dan ujub.
Ibnul Mubaarok rahimahullah berkata :

وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ

"Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub" 
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy'abul Iman no 8260).


BAHAYA UJUB


Sebagaimana riyaa' merupakan syirik kecil, demikian pula ujub merupakan syirik kecil. Riyaa' merupakan syirik dari sisi orang yang beramal sholeh menyertakan orang lain bersama Allah dalam mencari ganjaran (berupa pujian dan sanjungan), adapun ujub merupakan kesyirikan dari sisi orang yang beramal sholeh menyertakan dirinya sendiri bersama Allah dalam keberhasilannya beramal sholeh. Seakan-akan bukan hanya Allah semata yang menjadikannya berhasil beramal sholeh, akan tetapi ia juga turut andil dalam keberhasilannya beramal sholeh (lihat penjelasan Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu' Al-Fataawa 10/277).

Karenanya ujub merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan akan bahaya tersebut dalam sabdanya :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

"Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri"
 (HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Demikian pula sabda beliau :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

"Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !" (HR Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami' no 5303)

Al-Munaawi berkata :

كَرَّرَهُ زِيَادَةً فِي التَّنْفِيْرِ وَمُبَالَغَةً فِي التَّحْذِيْرِ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْعَاصِي يَعْتَرِفُ بِنَقْصِهِ فَيُرْجَى لَهُ التَّوْبَةُ وَالْمُعْجَبُ مَغْرُوْرٌ بِعَمَلِهِ فَتَوْبَتُهُ بَعِيْدَةٌ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulangi-ngulanginya (*ujub !, ujub !) sebagai tambahan (penekanan) untuk menjauhkan (*umatnya) dan sikap berlebih-lebihan dalam mengingatkan (*umatnya). Hal ini dikarenakan pelaku maksiat mengakui kekurangannya maka masih diharapkan ia akan bertaubat, adapun orang yang ujub maka ia terpedaya dengan amalannya, maka jauh/sulit baginya untuk bertaubat"
 (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606)

Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata :

الْهَلاَكُ فِي اثْنَيْنِ الْقُنُوْطُ وَالْعُجْبُ

"Kebinasaan pada dua perkara, putus asa dan ujub"

Al-Munaawi berkata, "Ibnu Mas'uud mengumpulkan dua perkara ini karena orang yang putus asa tidak akan mencari kebahagiaan karena dia sudah putus asa, dan demikian juga orang yang ujub tidak akan mencari-cari kebahagiaan karena dia menyangka bahwa ia telah meraihnya" (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606)

Dikatakan kepada Aisyah مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً (Kapan seseorang dikatakan buruk)?, maka beliau berkata, إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ  (Jika ia menyangka bahwa ia adalah orang baik)" (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606)

Ada seseorang melihat kepada Bisyr Al-Haafi yang dalam keadaan lama dan indah ibadahnya. Maka Bisyr berkata kepadanya :

لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ

"Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun kemudian dia menjadi kafir kepada Allah" (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606)

Tanda-tanda terjangkiti ujub

Al-Munaawi As-Syafii menyebutkan bahwasanya diantara tanda-tanda orang yang ujub adalah:

Pertama : Dia merasa heran jika doanya tidak dikabulkan oleh Allah (*Dia merasa bahwa ketakwaannya dan amalannya mengharuskan doanya dikabulkan oleh Allah, yang hal ini menunjukkan ujubnya dengan amalan sholehnya. Karenanya tatkala doanya tidak dikabulkan maka iapun heran)

Kedua : Dia merasa heran jika orang yang menyakitinya dalam keadaan istiqomah

Ketiga : Jika orang yang mengganggunya ditimpa dengan musibah maka dia merasa bahwa itu merupakan karomahnya, lalu ia berkata, "Tidakkah kalian melihat apa yang telah Allah timpakan kepadanya", atau ia berkata, "Kalian akan melihat apa yang akan Allah timpakan kepadanya"

Al-Munaawi menimpali dengan perkataannya, "Orang dungu (*yang ujub) ini tidak tahu bahwasanya sebagian orang-orang kafir memukul sebagian para nabi lalu mereka diberi kenikmatan hidup di dunia, dan bisa jadi mereka kemudian masuk islam lalu akhir kehidupan mereka adalah kebahagiaan. Maka orang yang ujub ini seakan-akan merasa dirinya lebih baik dari pada para nabi. (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606)

Mengobati penyakit ujub

Allah telah menegur sebagian sahabat yang tertimpa penyakit ujub dalam perang Hunain. Allah berfirman :

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥)

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kalian ujub karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
 (QS At-Taubah : 25)

Ibnu Hajar berkata : "Yunus bin Bukair meriwayatkan dalam "Ziadaat Al-Maghoozi" dari Ar-Robii' bin Anas ia berkata,

قَالَ رَجُل يَوْم حُنَيْنٍ : لَنْ نُغْلَب الْيَوْم مِنْ قِلَّة , فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ الْهَزِيمَة ..

"Tatkala perang Hunain seseorang berkata : "Kita tidak akan kalah hari ini karena sedikitnya pasukan (*karena jumlah pasukan kaum muslimin banyak)", maka hal inipun memberatkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka terjadilah kekalahan" (Fathul Baari 8/27)

Ibnul Qoyiim rahimahullah berkata, "Dengan hikmah Allah maka pada awalnya Allah menjadikan kaum muslimin merasakan pahitnya kekalahan padahal jumlah pasukan mereka banyak dengan persiapan tempur yang kuat. Hal ini agar Allah menundukkan kepala-kepala yang ditinggikan tatkala peristiwa Fathu Makkah, yang kepala-kepala tersebut tidak masuk dalam kota Mekah sebagaimana sikap Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam yang dalam kondisi menundukkan kepalanya dan merendahkan tubuhnya di atas kudanya, bahkan sampai-sampai dagu beliau hampir mengenai pelana beliau, semua itu karena tawadhu' kepada Allah dan tunduk kepada keagunganNya dan rendah kepada keperkasaan Allah …

Dan agar Allah menjelaskan kepada orang yang telah berkata, "Kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit" bahwasanya kemenangan hanyalah dari Allah, dan Allah menolong siapa yang menolong-Nya, maka tidak ada yang bisa mengalahkannya, dan barangsiapa yang dihinakan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menolongnya. Dan Allahlah yang telah memberikan kemenangan kepada RasulNya dan agamaNya dan bukan jumlah kalian yang banyak yang membuat kalian ujub. Sesungguhnya banyaknya pasukan kalian tidak memberi manfaat sama sekali, bahkan kalianpun lari ke belakang dengan bercerai berai" (Zaadul Ma'aad 3/477)

Setelah hilang sifat ujub dari hati-hati mereka dan mereka sadar bahwasanya kemenangan mereka semata-mata karunia dari Allah dan tidak ada andil sama sekali dari mereka, maka Allahpun memberikan pertolongan kepada mereka dengan menurunkan ketenangan pada mereka dan pasukan malaikat yang tidak dilihat oleh mereka.

Padahal ujub yang menimpa para sahabat bukanlah ujub terhadap amal sholeh, akan tetapi ujub terhadap jumlah pasukan yang banyak yang mereka andalkan untuk mengalahkan musuh-musuh Islam.

Untuk mengobati penyakit ujub maka silahkan membaca kembali artikel ini (Kenapa Mesti Ujub?)

Diantara perkara-perkara lain yang membantu kita menolak penyakit ujub adalah :

Pertama : Menyadari bahwasanya mampunya kita beramal sholeh adalah semata-mata kemudahan dan karunia dari Allah.

Allah berfirman :

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya
 (QS An-Nuur : 21)

Allah menceritakan tentang kaum mukminin yang masuk ke dalam surga, di mana mereka mengakui bahwasanya hidayah mereka semata-mata dari Allah.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk". (QS Al-A'raaf : 43)

Dari Al-Baroo' bin 'Aazib radhiallahu 'anhu berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْقُلُ التُّرَابَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى اغْمَرَّ بَطْنُهُ أَوْ اغْبَرَّ بَطْنُهُ يَقُوْلُ : وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat tanah tatkala peristiwa penggalian khondak hingga perut beliau tertutup/terkotori tanah, seraya berkata :

"Demi Allah, kalau bukan karena Allah tidaklah kami mendapatkan hidayah, dan tidak juga kami bersedekah dan sholat”
 (HR Al-Bukhari no 4104 dan Muslim 1802)


Kedua : Banyak ibadah yang agung yang disyari'atkan untuk diakhiri dengan istighfar, hal ini agar para pelaku ibadah-ibadah tersebut tidak merasa ujub dengan ibadah-ibadah yang telah mereka lakukan, akan tetapi tetap merasa dan sadar bahwa ibadah yang mereka lakukan tetap ada kekurangannya.

Diantara ibadah-ibadah agung tersebut adalah :

Pertama : Sholat lima waktu. Dari Tsaubaan radhiallahu 'anhu ia berkata :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika selesai dari sholatnya maka beliau beristighfar tiga kali" (HR Muslim no 591)

Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang sholatnya begitu khusyuu' namun setelah selesai sholat tetap beristighfar, maka bagaimana dengan kita??.

Al-Aluusiy rahimahullah berkata :

"Kemungkinan istighfarnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena ma'rifah (ilmu) beliau tentang keagungan dan kemuliaan Allah, maka meskipun ibadah beliau lebih mulia dari pada ibadahnya para ahli ibadah namun beliau memandangnya rendah dan tidak layak dengan kemuliaan dan keagungan Allah tersebut yang jauh di luar jangkauan pikiran seseorang. Maka Nabipun malu dan bersegera untuk beristighfar. Dan telah valid bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari semalam.

Dan untuk memberi isyarat akan kurangnya seorang yang beribadah untuk bisa melakukan ibadah yang layak dengan kemuliaan Allah meskipun ia telah berusaha semaksimal mungkin maka disyari'atkanlah istighfar setelah banyak ketaatan-ketaatan" (Ruuhul Ma'aani 30/259)


Kedua : Sholat malam/tahajjud yang merupakan ibadah yang sangat mulia dan merupakan kebiasaannya kaum sholihin.

Allah menyebutkan bahwasanya diantara sifat-sifat kaum mukminin yang dijanjikan surga bagi mereka adalah beristighfar setelah sholat malam. Allah berfirman :

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (١٥) الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٦)الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ (١٧)

Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.

(yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka,"

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS Ali Imroon : 15-17)

Lihatlah…mereka adalah orang-orang yang memenuhi siang hari mereka dengan ibadah, dengan sabar, senantiasa taat, sedekah, dan berbagai macam ketaatan…dan di malam hari mereka sholat malam hingga menjelang subuh…dan mereka menutup ibadah siang dan malam mereka dengan istighfar.

As-Syaikh As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya berkata :

لَمَّا بَيَّنَ صِفَاتِهِمْ الْحَمِيْدَةِ ذَكَرَ احتقارَهم لأنفسهم وأنهم لا يرون لأنفسهم، حالاً ولا مقامًا، بل يَرَوْنَ أنفسَهم مُذْنِبِين مُقَصِّرين فيستغفرون ربهم، ويتوقعون أوقات الإجابة وهي السحر، قال الحسن: مدوا الصلاة إلى السحر، ثم جلسوا يستغفرون ربهم

"Tatkala Allah menjelaskan sifat-sifat mereka (*yaitu kaum muttaqiin yang dijanjikan surga oleh Allah), maka Allah menyebutkan bagaimana mereka memandang hina diri mereka, dan mereka tidak memandang bahwasanya mereka memiliki kedudukan, bahkan mereka memandang bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdosa, yang banyak kekurangan, maka merekapun beristighfar kepada Rob mereka, serta mereka memilih waktu-waktu yang mustajab (*untuk beristighfar) yaitu waktu sahur. Al-Hasan Al-Bashri berkata : Mereka memanjangkan sholat (*malam/tahajjud) hingga waktu sahur lalu mereka duduk beristghfar kepada Allah" (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 124)

Ketiga : Ibadah haji. Allah berfirman :

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٩٩)

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Baqoroh : 199)

Lihatlah…inti dari ibadah haji adalah wuquf di padang arofah sebagaimana sabda Nabi الْحَجُّ عَرَفَةُ (Haji adalah Arofah). Dan di padang arofahlah para jama'ah haji berdoa dan memohon kepada Allah dengan menampakkan seluruh kehinaan dan perendahan. Dan sangatlah jelas jika wuquf di padang arofah merupakan ibadah yang sangat agung, bahkan Allah menjanjikan ampunanNya bagi orang-orang yang wuquf di padang Arofah. Akan tetapi setelah wuquf di padang Arofah Allah memerintahkan para jama'ah haji untuk beristighfar kepada Allah.

Keempat : Istighfarnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah beliau menyempurnakan dakwah yang beliau bangun selama 23 tahun dan berhasil memperoleh kemenangan dan menyebabkan berbondong-bondongnya manusia masuk Islam.

Ibnu Abbaas radhiallahu 'anhumaa berkata :

كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ فَكَأَنَّ بَعْضَهُمْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ فَقَالَ : لِمَ تُدْخِلُ هَذَا مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ؟ فَقَالَ عُمَرُ : إِنَّهُ مَنْ قَدْ عَلِمْتُمْ، فَدَعَاهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُمْ فَمَا رُئِيْتُ أَنَّهُ دَعَانِي يَوْمَئِذٍ إِلاَّ لِيُرِيَهُمْ، قَالَ : مَا تَقُوْلُوْنَ فِي قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أَمَرَنَا أَنْ نَحْمَدَ اللهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا وَسَكَتَ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَقلْ شَيْئًا فَقَالَ لِي أَكَذَاكَ تَقُوْلُ يَا ابِنَ عَبَّاسٍ؟ فَقُلْتُ لاَ، قَالَ فَمَا تَقُوْلُ؟ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ لَهُ، قَالَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ وَذَلِكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ { فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا } فَقَالَ عُمَرُ : مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا تَقُوْلُ

"Umar bin Al-Khottoob memasukan (menyertakan) aku (*untuk bermusyawarah) bersama para sesepuh sahabat yang pernah ikut perang Badar, maka seakan-akan ada diantara mereka merasakan sesuatu di hatinya, lalu berkata : Kenapa engkau menyertakan anak muda ini bersama kita, dan kita juga memiliki anak-anak sepertinya?. Maka Umar berkata :  Sesungguhnya dia (*yaitu Ibnu Abbaas) sebagaimana yang telah kalian ketahui (*yaitu Umar memberi isyarat akan kekerabatan Ibnu Abbas dengan Nabi yang telah diketahui bersama, atau kepintaran Ibnu Abbas yang telah diketahui bersama –lihat Fathul Baari 8/735).

Maka Umar memanggil orang tersebut dan menyertakannya bersama para sesepuh perang Badar, dan aku tidak memandang Umar memanggilku (*untuk hadir menyertai mereka) kecuali untuk memperlihatkan (*kelebihanku) kepada mereka.

Umar berkata kepada mereka : "Apa pendapat kalian tentang firman Allah "Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan"?. Maka sebagian mereka berkata : Allah memerintahkan kita untuk memujinya dan beristighfar jika kita tertolong dan menang. Sebagian mereka yang lain hanya terdiam dan tidak mengucapkan apapun. Lalu Umar berkata kepadaku, "Apakah demikian pendapatmu wahai Ibnu Abbaas?", aku berkata : Tidak. Umar berkata : Apa pendapatmu?. Aku berkata : Itu adalah ajalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah memberitahukannya kepadanya, Allah berkata : "Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan", dan hal itu adalah tanda ajal (kematian)mu, "Maka hendaknya engkau bertasbih kepada Robmu dengan memujiNya dan beristighfarlah kepadanya, sesungguhnya Robmu maha penerima taubat". Umar berkata : Aku tidak mengetahui tentang ayat ini kecuali sebagaimana pendapatmu. (HR Al-Bukhari no 4970)

Ibnu Abbas memahami ayat ini sebagai pertanda akan wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena agama telah sempurna, pertolongan dan kemenangan dari Allah telah tiba, dan disusul dengan masuknya manusia secara berbondong-bondong dalam Islam. Hal ini semua menunjukkan akan keberhasilan dakwah Nabi selama kurang lebih 23 tahun.

Setelah menyebutkan tentang banyaknya ibadah yang diakhiri dan ditutup dengan istighfar Al-Aluusi rahimahullah berkata :

فَفِي الْأَمْرِ بِالاِسْتِغْفَارِ رَمْزٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ عَلَى مَا قِيْلَ إِلَى مَا فُهِمَ مِنَ النَّعْيِ وَالْمَشْهُوْرِ أَنَّ ذَلِكَ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى مُشَارَفَةِ تَمَامِ أَمْرِ الدَّعْوَةِ وَتَكَامُلِ أَمْرِ الدِّيْنِ

"Maka dalam perintah untuk beristighfar ada bentuk dari sisi ini (*menutup ibadah dengan istighfar) sebagaimana yang dikatakan terhadap apa yang dipahami dari pemberitaan tentang wafatnya Nabi. Dan yang masyhuur pemberitaan ini menunjukan bahwa telah menjelang kesempurnaan urusan dakwah dan sempurnanya agama" (Tafsiir Ruuhul Ma'aani 30/258)

Hal ini menunjukkan bagaimana jauhnya Nabi shallallahu 'alaihi dari sifat ujub, hal ini berbeda dengan sebagian dai yang baru sedikit berdakwah dan sedikit berhasil sudah berkoar-koar dengan berkata, "Sayalah yang membuka ladang dakwah di sana…!!", "Kalau bukan karena saya maka dakwah tidak akan berkembang hingga  seperti ini…!!" dan ungkapan-ungkapan yang lain yang menunjukkan ujubnya sang da'i dan pandangannya terhadap dakwah yang telah ia jalankan dengan pandangan ta'jub. Lihatlah Nabi yang berdakwah selama 23 tahun dengan berbagai cobaan dan rintangan…dan seluruh gerakan beliau karena Allah…, adapaun sang da'i…??

Ketiga : Membaca sejarah hidup orang-orang sholeh dari para imam kaum muslimin. Kita bisa melihat luar biasanya ibadah mereka, bagaimana sholat malam mereka.., bagaimana puasa mereka…, bagaimana bacaan Qur'an mereka…, bagaimana sedekah mereka…, bagaimana jihad mereka…, bagaimana dakwah mereka…, dan bagaimana keikhlasan mereka..??

Ternyata meskipun ibadah mereka begitu luar biasa namun mereka memiliki rasa takut dan khosyah kepada Allah yang sangat luar biasa. Mereka tidak terpedaya dan ujub dengan besarnya ibadah mereka.

Lantas apakah sebagian kita yang ibadahnya sangat minim…sholat malam sangat jarang…bahkan hampir-hampir tidak pernah…, tidak pernah berjihad., pelit untuk bersedekah…, jarang mengkhatamkan Al-Qur'an…, kemudian banyak terjerumus dalam kemaksiatan…maka apakah pantas bagi kita untuk ujub??!!. Amalan kita dibandingkan amalan mereka para imam kaum muslimin seperti sebuah kerikil dibandingkan gunung yang menjulang tinggi. Jika kondisi amalan kita demikian lantas apa yang hendak kita banggakan?, apa yang hendak kita ujubkan??