Kiswah sendiri adalah kain
penutup kabah berwarna hitam yang dihiasi rajutan benang emas. Kain penutup ini
berfungsi untuk melindungi Kabah dari kotoran, debu serta panas yang dapat
merusaknya. Selain itu, kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Kabah.
Meski terlihat biasa,
sebenarnya kiswah bukanlah kain penutup biasa. Dari proses pembuatan hingga
pemasangannya dilakukan secara istimewa. Tak heran jika banyak yang tertarik
dengan sejarah hingga proses penggantian kiswah. Hal ini terbukti dari
kunjungan ribuan jamaah haji ke pabrik pembuatan kiswah setiap tahunnya.
Ka'bah berdiri gagah, berselimbutkan
kain berwarna hitam. bagian atas sampai hampir ke tengahnya dihiasi tulisan
berwarna kuning emas, kutipan ayat-ayat Al-Quran. Kiswah, itulah nama kain
pembungkus Ka'bah itu, terbuat dari sutra pilihan dan bersulam benang emas
murni. Ukuran kiswah adalah 14 meter tinggi, 47 meter panjang dengan berat
sekitar 650 kilogram.
Yang pertama kali memberikan
kiswah untuk Ka'bah adalah Raja Asad Tubba dari Yaman Selatan. Kiswah pada saat
itu dibuat dari kain brukat sutra berkualitas sangat baik. Setiap tahun, pada
saat kiswah diganti, kaum Quraisyi yang ketika itu menguasa Mekah, mengadakan
upacara yang juga diikuti semua kaum atau suku yang berkaitan dengan
kepentingan Ka'bah.
Kemudian Nabi Muhammad SAW
tercatat sebagai yang pertama menggunakan kiswah dari kain sutra yang dihiasi
dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Hal ini diikuti pula oleh Khalifah Abu Bakar,
Umar, Ibnu al-Zubair dan Abdul Malik. Tulisan itu membentuk angka V (angka
tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di kiswah Ka`bah adalah,
"Allah Jalla Jalalah, La Ilaha Illaallah, Muhammad Rasulullah".
Terutama pada musim haji,
bagian kain kiswah yang berada di bawah disingkap dengan tali ke atas, sehingga
tidak dapat dijangkau oleh jamaah. Setiap kiswah diganti dengan yang baru,
kiswah lama harus dibakar, karena khawatir disalahgunakan oleh mereka yang
memanfaatkannya untuk keperluan yang bersifat syirik, misalnya memperlakukannya
sebagai benda keramat atau azimat yang mempunyai kekuatan atau kesaktian.
Kiswah ini diganti setiap
tahun sekali pada waktu upacara haji. Pada saat pergantian, Kiswah dipasang
lapisan dan disambung dengan kain putih untuk menjadi tanda bahwa Ka’bah dalam
keadaan Ihram. Pada tanggal 10 Zulhijah, ketika Mekah kosong karena jamaah haji
masih berada di Mina, kiswah dan penutup maqam Ibrahim diganti dengan yang
baru.
Sebelum dibuat sendiri di
Mekah, kiswah biasanya dibuat di Mesir dan India dan diberikan kepada
pemerintah Saudi sebagai hadiah. Kiswah terdiri dari lima bagian, empat bagian
untuk menutupi empat sisi Ka`bah dan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu
Ka`bah.
Di balik kiswah hitam, ada
kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu untuk meresap uap
dari dinding Ka`bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain kiswah yang
hitam. Kain ini mengandung daya serap untuk menghindarkan panas yang berlebihan
dan mencegah dinding Ka`bah retak.
Pada Ka’bah kita sering
melihat adanya kiswah (kain/selimut hitam penutup Ka’bah). Tujuan dari
pemasangan kain itu adalah untuk melindungi dinding Ka’bah dari kotoran, debu,
serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu kiswah juga
berfungsi sebagai hiasan Ka’bah.
Menurut sejarah, Ka’bah sudah
diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail a.s., putra Nabi Ibrahim a.s.. Namun
tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari
apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr
dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah terbuat dari kain tenun.
Kebijakan Raja Himyar untuk
memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail a.s. diikuti
oleh para penerusnya. Pada masa Qusay Ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi
Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab
masyarakat Arab dari suku Quraisy.
Nabi Muhammad SAW sendiri juga
pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman.
Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafaur
Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas. Sementara itu,
pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya
kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah
didatangkan dari Mesir dan Yaman.
Menurut catatan sejarah,
kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang
dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur.
Sedangkan pada masa Khalifah Mamun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar
putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir
dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna
kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang
berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun
dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah
itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah
diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar