Rabu, 12 Desember 2018

SAAT KISWAH KA'BAH DIGANTI

SAAT KISWAH KA’BAH DIGANTI



Kabah merupakan tempat yang paling disucikan bagi umat muslim di seluruh dunia. Bangunan yang dijadikan kiblat ketika salat oleh seluruh umat muslim ini identik dengan kiswah yang menutupinya.

Kiswah sendiri adalah kain penutup kabah berwarna hitam yang dihiasi rajutan benang emas. Kain penutup ini berfungsi untuk melindungi Kabah dari kotoran, debu serta panas yang dapat merusaknya. Selain itu, kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Kabah.

Meski terlihat biasa, sebenarnya kiswah bukanlah kain penutup biasa. Dari proses pembuatan hingga pemasangannya dilakukan secara istimewa. Tak heran jika banyak yang tertarik dengan sejarah hingga proses penggantian kiswah. Hal ini terbukti dari kunjungan ribuan jamaah haji ke pabrik pembuatan kiswah setiap tahunnya.

Ka'bah berdiri gagah, berselimbutkan kain berwarna hitam. bagian atas sampai hampir ke tengahnya dihiasi tulisan berwarna kuning emas, kutipan ayat-ayat Al-Quran. Kiswah, itulah nama kain pembungkus Ka'bah itu, terbuat dari sutra pilihan dan bersulam benang emas murni. Ukuran kiswah adalah 14 meter tinggi, 47 meter panjang dengan berat sekitar 650 kilogram.

Yang pertama kali memberikan kiswah untuk Ka'bah adalah Raja Asad Tubba dari Yaman Selatan. Kiswah pada saat itu dibuat dari kain brukat sutra berkualitas sangat baik. Setiap tahun, pada saat kiswah diganti, kaum Quraisyi yang ketika itu menguasa Mekah, mengadakan upacara yang juga diikuti semua kaum atau suku yang berkaitan dengan kepentingan Ka'bah.

Kemudian Nabi Muhammad SAW tercatat sebagai yang pertama menggunakan kiswah dari kain sutra yang dihiasi dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Hal ini diikuti pula oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, Ibnu al-Zubair dan Abdul Malik. Tulisan itu membentuk angka V (angka tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di kiswah Ka`bah adalah, "Allah Jalla Jalalah, La Ilaha Illaallah, Muhammad Rasulullah".

Terutama pada musim haji, bagian kain kiswah yang berada di bawah disingkap dengan tali ke atas, sehingga tidak dapat dijangkau oleh jamaah. Setiap kiswah diganti dengan yang baru, kiswah lama harus dibakar, karena khawatir disalahgunakan oleh mereka yang memanfaatkannya untuk keperluan yang bersifat syirik, misalnya memperlakukannya sebagai benda keramat atau azimat yang mempunyai kekuatan atau kesaktian.

Kiswah ini diganti setiap tahun sekali pada waktu upacara haji. Pada saat pergantian, Kiswah dipasang lapisan dan disambung dengan kain putih untuk menjadi tanda bahwa Ka’bah dalam keadaan Ihram. Pada tanggal 10 Zulhijah, ketika Mekah kosong karena jamaah haji masih berada di Mina, kiswah dan penutup maqam Ibrahim diganti dengan yang baru.

Sebelum dibuat sendiri di Mekah, kiswah biasanya dibuat di Mesir dan India dan diberikan kepada pemerintah Saudi sebagai hadiah. Kiswah terdiri dari lima bagian, empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka`bah dan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu Ka`bah.

Di balik kiswah hitam, ada kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu untuk meresap uap dari dinding Ka`bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain kiswah yang hitam. Kain ini mengandung daya serap untuk menghindarkan panas yang berlebihan dan mencegah dinding Ka`bah retak.

Pada Ka’bah kita sering melihat adanya kiswah (kain/selimut hitam penutup Ka’bah). Tujuan dari pemasangan kain itu adalah untuk melindungi dinding Ka’bah dari kotoran, debu, serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu kiswah juga berfungsi sebagai hiasan Ka’bah.

Menurut sejarah, Ka’bah sudah diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail a.s., putra Nabi Ibrahim a.s.. Namun tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah terbuat dari kain tenun.

Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail a.s. diikuti oleh para penerusnya. Pada masa Qusay Ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafaur Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas. Sementara itu, pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman.

Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan pada masa Khalifah Mamun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.

Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar