إِنَّا
فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا
مُسْتَقِيمًا (2)
“Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya
Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang
akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu
kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)
Walaupun dosa-dosa
beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah
orang yang paling banyak beristighfar di setiap waktu. Para sahabat telah
menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam terlihat paling banyak beristigfar.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ
إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ
سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah.
Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih
dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ
مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian
manusia. Taubatlah (beristighfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat
kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ
غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Tidaklah aku
berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku
beristighfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh
Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)
Dari Ibnu Umar,
beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,
رَبِّ اغْفِرْ لِى
وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
‘Robbigfirliy wa
tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan
terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud.)
Salah satu kunci
kebahagiaan hidup adalah beristighfar dan memohon ampun serta bertaubat kepada
Allah Ta’ala. Seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah karena
dosa atau kemaksiatan yang telah dilakukan. Istighfar tak hanya sekedar ucapan
dengan lisan namun disertai perbuatan. Mengakui kesalahan dan berusaha
bersungguh-sungguh agar Allah melimpahkan rahmat serta ampunan-Nya. Istighfar
juga pembuka pintu kesulitan kehidupan seperti kekurangan makanan atau
kemiskinan, belum dikaruniai rezeki berupa anak, saat musim paceklik serta
berbagai problem lainnya. Bahkan dalam kondisi lapang atau sempit pun sebagai
perwujudan kecintaan hamba pada Rabb-nya, istighfar tetap dibutuhkan karena
manusia yang beriman tetap tergantung pada Allah Ta’ala. Hidup pun
lebih berkah dengan memperbanyak istighfar. Firman Allah Ta’ala:
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ
لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“Maka aku
katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh:10-12).
Allahu
Akbar! Sungguh agung dan besarnya buah serta pahala
istighfar. Melafadzkannya dengan dipahami maknanya dalam hati. Meresapinya
bahwa ia memohon pada Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Mengabulkan Doa.
Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berhusnudzon bahwa Allah akan menerima
istighfar yang dilakukan dengan keinginan kuat, harapan besar serta
menggantungkan pengkabulan doa tersebut kepada ilmu Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا
يقل أحدكم: اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة فإن الله لا
مكره له
“Janganlah salah
seorang di antara kamu berdoa, ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki’
atau berdoa, ‘Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepadaku jika Engkau
menghendaki’, tetapi hendaklah ia berkeinginan kuat dalam permohonan itu,
karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat
sesuatu (HR. Al- Bukhori [XI/6339], Muslim [2679]).
Subhanallah! Selayaknya seorang mukmin selalu menghiasi hari-harinya
dengan memperbanyak istighfar, sebagaimana dzikir sesudah sholat pun
disunnahkan untuk beristighfar. Dzikir pagi dan sore hari juga tak terlepas
dari permohonan ampun pada-Nya. Sebagaimana sabda Beliau shalallahu
alaihi wassalam:
أستغفر
الله و أتوب إليه
“Aku mohon ampun
kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya” (dibaca 100 x) (HR. Al Bukhori
[11/101], Muslim [4/2075]).
Saudaraku … Jika
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah
lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak
dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk
bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan
tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
يَا
عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai
hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku
mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku
mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)
Semoga Allah
mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang
baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.
Semoga bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar