Jumat, 08 Oktober 2021

KEMUNAFIKAN

 


MENAHAN DIRI DARI KEMUNAFIKAN

QS Al-Baqarah, 2: 19

 أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ . (١٩)

 

19. Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan,petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang kafir.

ASBABUNNUZUL

Dari Abdullah Ibnu 'Abbäs dan Abdullah Ibnu Mas'ud diceritakan bahwa ada segolongan kaum munafik yang telah masuk Islam setelah hijrahnya Rasulullah saw. Keadaan mereka seperti seseorang yang terjebak dalam kegelapan. Lalu, mereka berusaha mencari pencahayaan dengan menyalakan api. Akan tetapi, setiap kali dia menyalakannya, api itu padam.

Perumpamaan mereka juga seperti orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai kilat, petir, dan guruh. Mere$a pun berusaha berlindung karena takut bahaya menimpa. Perumpamaan ini selaras dengan tabiat mereka, yaitu suatu ketika mereka syirik, kemudian mereka beriman, kemudian kembali sesat dan kafir. Mereka berada dalam kesamaran antara halal dan haram, antara yang baik dan yang buruk. Dua perumpamaan ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang akan terungkap perbuatan nifaknya. (Lubäbun Nuqül: 8)

TAFSIR AT-TABARI

Lafadzh AS-saibu sinonim dari kata Al-qatru, Al-mataru, dan Al-gaisu, yang semuanya mempunyai arti yang sama yaitu hujan. Melalui perumpamaan hujan, ayat ini memperjelas ciri orang-orang munafik yang pura-pura masuk Islam padahal mereka tetap tenggelam dalam kekafiran. 

Menurut At-Tabari , hujan adalah gambaran umum keimanan orang-orang munafik. Mereka secara dzahir mengaku beriman padahal hati mereka mendustakan, Suasana gelap saat hujan terjadi adalah ibarat kesesatan mereka yang bersumber dari kebutaan dan kebodohan mereka. Secercah cahaya kilat adalah ibarat cahaya keimanan mereka yang hanya sekelebat. Sedangkan takutnya mereka terhadap suara petir dengan menutupkan jari jemari mereka ke telinga adalah ibarat ketakutan atau paranoid mereka yang disebabkan hati mereka lemah akibat penyakit ragu, Mereka ragu apakah ancaman yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, itu benar atau tidak. Mereka khawatir bila ternyata ancaman itu bohong. Namun, mereka juga takut jangan-jangan ancaman yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. itu benar, bahwa siksa Allah akan turun di halaman rumah mereka. 

Akan tetapi, walaupun orang-orang munafik di dunia ini pandai bersandiwara menyembunyikan kekafirannya Allah tetap meliputi mereka (Wallahu muhitum bilkafirin). Adapun makna Allah meliputismereka menurut Mujahid dan Ibnu 'Abbäs adalah bahwa Allah Swt. akan menyiksa dan mengumpulkan mereka seluruhnya di neraka jahanam. (Tafsir At-Tabari Jilid l, 2001:373-378)

TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat init Allah Swt. memberikan perumpamaan lain untuk orang munafik. Berawal dari keraguan mereka akan kebenaran yang hakiki, mereka pun digiring ke dalam kesesatan. Hal inilah yang menyebabkan hati mereka selalu diliputi rasa takut, khawatir, dan ragu-ragu.

Menurut Ibnu 'Abbäs dan Ibnu Mas'ud, kata (Ash-Shaibu) dalam ayat ini bermakna hujan lebat. Pendapat yang sama dikemukakan Abu Aliyah, Mujahid, Safid bin Jubair, Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, Athiyyah Al- Aufi, Atha Al-Khurasani, As-Saddi, dan Rabi bin Anas. Sementara itu, Dhahhak mengartikannya sebagai mendung. Pendapat pertama merupakan pendapat yang lebih masyhur di kalangan ulama ahli tafsir. Ayat ini bisa juga berarti hujan lebat yang turun dalam kegelapan.

Perumpamaan ini bukan hanya berwujud hujan lebat, melainkan hujan lebat yang disertai dengan kegelapan, petir, dan kilat. Dalam keadaan genting seperti itu, hati mereka diliputi rasa takut dan gemetar serta takut akan kematian. Bahkan, mereka menutup telinga karena gelegar suara petir yang bersahut-sahutan. Kilatan-kilatan yang disertai hujan ini semakin membuat mereka panik. Begitulah yang terjadi jika Allah Swt. berkehendak. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kehendak-Nya. (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 32-33)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., "Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah saw. Lalu, apabila Nabi saw. telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Lalu, turunlah ayat, (Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa.)" (HR Muslim, 4981)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Menahan Diri dari Kemunafikan Seseorang yang memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang sombong. Dengan kehendak Allah,mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat seperti itu. Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diber( pengetahuan yang ditanamkan dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan mengetahui orang-orang munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya dipikirkan dengan bersikap munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari yang sebenarnya. 

Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicara dan penampilannya.Meskipun orangorang seperti ini tidak dapat dikenali oleh mukmin sejati, Allah mengetahui kepura-puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha Mendengar setiap ucapan dan kata-kata dan Dia Maha Melihat setiap tingkah lakunya. Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam firman-Nya. 

Oleh karena itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya. la seharusnya menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang mengarah pada kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan. (Harun Yahya, Keikhlasan dalam Telaah Al-Qur'an, 2003)

 




1 komentar: