Minggu, 17 Oktober 2021

IMAN DAN AMAL

 

IMAN DAN AMAL

Ahlus-Sunnah telah mencapai titik kesepakatan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan, amal oleh anggota badan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

اتفقت الصحابة والتابعون، فمن بعدهم من علماء السنة على أن الأعمال من الإيمان، لقوله سبحانه وتعالى : (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ .....) إلى قوله (وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ) [الأنفال : ٢-٣] فجعل الأعمال كلها إيمانا، وكما نطق به حديث أبي هريرة.

وقالوا : إن الإيمان قولٌ وعملٌ وعقيدةٌ، يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية.......

“Para shahabat, taabi’iin, dan para ulama sunnah setelah mereka telah bersepakat bahwa amal termasuk bagian dari iman berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa : ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka’ (QS. Al-Anfaal : 2-3). Allah telah menjadikan amal secara keseluruhan (bagian dari) iman, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah.

Mereka berkata : ‘Sesungguhnya iman itu perkataan, perbuatan, dan ‘aqiidah; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan….” [Syarhus-Sunnah, 1/38-39, tahqiq : Zuhair Syaawiisy & Syu’aib Al-Arna’uth; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403].

قال أبو عمر ابن عبد البر في ‏[‏التمهيد‏]‏‏:‏ أجمع أهل الفقه والحديث على أن الإيمان قول وعمل، ولا عمل إلا بنية، والإيمان عندهم يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية، والطاعات كلها عندهم إيمان

“Telahberkata Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid : ‘Para ahli fiqh dan ahli hadits telah bersepakat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Tidak amal kecuali dengan niat. Iman di sisi mereka dapat bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Seluruh amal ketaatan  di sisi mereka termasuk iman” [Al-Iimaan oleh Ibnu Taimiyyah, hal. 208, tahqiq : Al-Albaaniy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 5/416].

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku (Ahmad bin Hanbal – Abul-Jauzaa’) rahimahullaahu : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan[1] : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’[2], ia berkata : Maalik bin Anas berkata : ‘Iman adalah perkataan dan perbuatan, Allah telah berbicara kepada Muusaa, dan Allah berada di atas langit sedangkan ilmu-Nya – tidak ada sesuatu yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532, tahqiq : Dr. Muhammad bin Sa’iid bin Saalim Al-Qahthaaniy; Daaru ‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H – sanadnya hasan atau shahih].

حدثني أبو عبد الرحمن سلمة بن شبيب قبل سنة ثلاثين ومائتين حدثنا عبد الرزاق قال كان معمر وابن جريج والثوري ومالك وابن عيينة يقولون الايمان قول وعمل يزيد وينقص قال عبدالرزاق وأنا أقول ذلك الايمان قول وعمل والايمان يزيد وينقص فان خالفتهم فقد ضللت إذا وما أنا من المهتدين

Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdirrahmaan Salamah bin Syabiib[3] sebelum tahun 230 : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq[4], ia berkata : “Ma’mar, Ibnu Juraij, Ats-Tsauriy, Maalik, dan Ibnu ‘Uyainah berkata : ‘Iman adalah perkataan dan perbuatan; (dapat) bertambah dan berkurang”. ‘Abdurrazzaaq berkata : “Dan akupun mengatakan hal itu, yaitu iman adalah perkataan dan perbuatan. Iman (dapat) bertambah dan berkurang. Apabila aku menyelisihi mereka, sungguh aku telah tersesat dan aku bukan termasuk orang-orang yang diberi petunjuk” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 342-343 no. 726; shahih].

حدثنا محمد بن عبد الرحمن حدثني أبو أحمد حاتم بن عبد الله الجهاري، قال: سمعت الربيع بن سليمان يقول: سمعت الشافعي يقول: الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية، ثم تلا هذه الآية:  وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا   المدثر 31  الآية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdirrahmaan : Telah menceritakan kepadaku Abu Ahmad Haatim bin ‘Abdillah Al-Jihaariy, ia berkata : Aku mendengar Ar-Rabii’ bin Sulaimaan[5] berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena (melakukan) kemaksiatan”. Kemudian ia (Asy-Syaafi’iy) membaca ayat ini : “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya’ (QS. Al-Mudatstsir : 31)” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 9/114-115; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1409].

وأخبرنا أبو بكر المروذي قال : سمعت أبا عبد الله يقول : قال الله عز وجل : (فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ) وقال تعالى : (وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ). وقال : هذا الإيمان. ثم قال أبو عبد الله : فالإيمان قول وعمل.

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata : “Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama’.[6] Allah ta’ala juga berfirman : ‘Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat’[7]; lalu ia (Ahmad) berkata : ”Inilah iman !. Iman adalah perkataan dan perbuatan” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah, 3/589 no. 1035, tahqiq : Dr. ’Athiyyah Az-Zahraaniy; Daarur-Rayyah, Cet. 1/1410 - shahih].

وأخبرنا أبو بكر المروذي وعبد الملك الميموني وأبو داود السجستاني وحرب بن إسماعيل الكرماني ويوسف بن موسى ومحمد بن أحمد بن واصل والحسن بن محمد، كلهم يقول : إنه سمع أحمد بن حنبل قال : الإيمان : قول وعمل يزيد وينقص.

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ‘Abdul-Malik Al-Maimuuniy[8], Abu Daawud As-Sijistaaniy[9], Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy[10], Yuusuf bin Muusaa, Muhammad bin Ahmad bin Waashil, dan Al-Hasan bin Muhammad; semuanya berkata bahwasannya mereka mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah, 3/582 no. 1010; shahih].

Dalil-dalil yang mereka (para ulama salaf) pakai untuk membangun ‘aqidah ini antara lain adalah :

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

“Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik” [QS. Ar-Ra’d : 29].

وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ

“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seijin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah ‘salaam" [QS. Ibraahiim : 23].

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal” [QS. Al-Kahfiy : 107].

Allah ta’ala dalam ayat-ayat di atas telah menggandengkan antara iman dan amal sehingga dua hal ini sangat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Bahkan, Allah ta’ala telah berfirman bahwa manusia akan dimasukkan ke dalam surga dengan sebab amal-amal yang mereka kerjakan.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan” [11] [QS. Az-Zukhruf : 72].

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb : Telah menceritakan kepada kami Jariir bin Suhail, dari ‘Abdullah bin Diinaar dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Iman itu ada tujuh puluh, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan : Laa ilaha illallaah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah salah satu cabang dari iman” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 35].

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah; keduanya (Sufyaan dan Syu’bah) dari Qais bin Muslim, dari Thaariq bin Syihaab – dan ini adalah hadits Abu Bakr - , ia (Thaariq) berkata : Orang pertama yang berkhutbah pada hari raya (‘Ied) sebelum shalat didirikan adalah Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya : "Shalat (‘Ied) hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah". Marwan menjawab : "Sungguh, khutbah ini telah ditinggalkan". Kemudian Abu Sa’iid berkata : "Adapun orang ini telah menunaikan kewajibannya. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 49].

Dua hadits di atas memberi faedah bahwa iman mempunyai beberapa cabang dan tingkatan yang tidak sama kedudukannya. Begitu pula keadaan pemiliknya. Ada yang keimanannya tinggi (kuat), ada pula yang keimanannya rendah (lemah). Dan perkataan serta perbuatan termasuk bagian dari iman.

Para ulama telah menjelaskan bahwa perkataan itu terdiri dari perkataan hati dan anggota badan (lisan). Begitu juga dengan perbuatan, ia terdiri dari perbuatan hati dan anggota badan.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

والمقصود هنا أن من قال من السلف‏:‏ الإيمان قول وعمل، أراد قول القلب واللسان وعمل القلب والجوارح

“Dan yang dimaksudkan di sini dari perkataan salaf : ‘qaulun wa ‘amalun (perkataan dan perbuatan)’; yaitu perkataan hati dan lisan, serta amal hati dan anggota badan” [Al-Iimaan, hal. 137, takhriij : Al-Albaaniy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 5/1416].

ومن أصول أهل السنة أن الدين والإيمان قول وعمل ، قول القلب واللسان وعمل القلب واللسان والجوارح

“Dan termasuk prinsip pokok Ahlus-Sunnah bahwasannya agama dan iman adalah perkataan dan perbuatan. Perkataan hati dan lisan, serta amal hati, lisan, dan anggota badan” [Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – melalui At-Tanbiihaat Al-Lathiifah oleh ‘Abdurrahmaan As-Sa’diy, hal. 89; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1 /1414].

Asy-Syaikh As-Sa’diy memberikan komentar terhadap perkataan Ibnu Taimiyyah di atas sebagai berikut :

قد دل الكتاب والسنة على ما قاله الشيخ ، وأجمع على ذلك سلف الأمة ، فكم من آية قرآنية وأحاديث نبوية أطلقت على كثير من الأقوال والأعمال اسم الإيمان ، فالإيمان المطلق يدخل فيه جميع الدين ، ظاهره وباطنه ، أصوله وفروعه ، ويدخل فيه العقائد التي يجب اعتقادها في كل ما احتوت عليه من هذا الكتاب ، ويدخل أعمال القلوب كالحب لله ورسوله.

والفرق بين أقوال القلب وبين أعماله: أن أقواله هي العقائد التي يعترف بها القلب ويعتقدها ، وأما أعمال القلب فهي حركته التي يحبها الله ورسوله ، وضابطها محبة الخير وإرادته الجازمة ، وكراهية الشر والعزم على تركه ، وهذه الأعمال القلبية تنشأ عنها أعمال الجوارح ، فالصلاة والزكاة والصوم والحج والجهاد- من الإيمان ، وبر الوالدين وصلة الأرحام والقيام بحقوق الله وحقوق خلقه المتنوعة- كلها من الإيمان. وكذلك الأقوال؛ فقراءة القرآن وذكر الله والثناء عليه والدعوة إلى الله والنصيحة لعباد الله وتعلم العلوم النافعة - كلها داخلة في الإيمان

“Sesungguhnya yang dikatakan Syaikhul-Islaam telah ditunjukkan dalilnya melalui Al-Kitaab dan As-Sunnah. Dan salaful-ummah pun telah bersepakat akan hal itu. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang memutlakkan kebanyakan dari perkataan dan perbuatan dalam nama iman. Iman mutlak (al-iimaanul-muthlaq) masuk padanya semua urusan agama, baik yang dhaahir maupun baathin, pokok maupun cabangnya. Dan masuk pula padanya i'tiqad-i'tiqad yang wajib diyakini dari setiap yang terkandung dalam kitab ini. Dan masuk pula padanya amal-amal hati seperti : cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Perbedaan antara perkataan-perkataan hati dengan amal-amal hati adalah : Bahwasannya perkataan-perkataan hati adalah i'tiqad-i'tiqad yang diketahui dan diyakini oleh hati. Sedangkan amal-amal hati adalah gerakan hati dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketentuannya adalah, mencintai dan keinginan yang pasti akan kebaikan, serta kebencian terhadap kejelekan dan keinginan yang kuat untuk meninggalkannya. Inilah yang disebut amal-amal hati yang kemudian mendorong amal-amal anggota badan, seperti : shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad – dimana hal termasuk iman. Berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahim, menegakkan hak-hak Allah dan makhluk-Nya yang bermacam-macam; kesemuanya termasuk iman. Begitu juga dengan perkataan-perkataan. Membaca Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, memuji-Nya, berdakwah/menyeru di jalan Allah, menasihati sesama manusia, serta belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat – kesemuanya juga termasuk iman” [At-Tanbiihaat Al-Lathiifah, hal. 89-90].[12]

Allah ta’ala telah berfirman tentang keadaan orang-orang yang bertambah keimanannya :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”[13] [QS. Al-Anfaal : 2].

Dan ketika dikatakan iman dapat bertambah (dengan ketaatan), maka ia pun dapat berkurang (dengan kemaksiatan).

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ فَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ الْقَلْبُ عَلَى قَلْبَيْنِ أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا لَا يَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرِ أَسْوَدَ مُرْبَدٍّ كَالْكُوزِ مُخْجِيًا وَأَمَالَ كَفَّهُ لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun[14] : Telah menceritakan kepada kami Abu Maalik[15], dari Rib’iy bin Hiraasy[16], dari Hudzaifah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Fitnah dibentangkan di hati seperti dibentangkannya tikar. Setiap hati yang mengingkarinya maka diberi satu titik putih dan setiap hatinya menyerapnya maka diberi satu titik hitam, hingga hati pun menjadi dua macam : (1) hati putih seperti benda jernih dimana fitnah tidak akan membahayakannya selama langit dan bumi masih ada, dan yang lainnya (2) hati hitam berdebu seperti panci kotor - beliau memiringkan telapak tangan - ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali sesuatu yang terserap dari hawa nafsunya" [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/386; shahih. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 144].

Hadits Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu di atas menjelaskan tentang naik turunnya iman dalam hati seorang manusia. Ketika seseorang mengerjakan amal ketaatan dengan menolak fitnah, maka akan ditambah titik putih dalam hatinya. Sebaliknya, jika ia seseorang mengerjakan kemaksiatan dengan menerima dan mengikuti fitnah, maka akan ditambah titik hitam dalam hatinya. Banyak sedikitnya amal ketaatan dan kemaksiatan akan mempengaruhi dominasi titik putih dan hitam dalam hatinya. Siapa yang Allah ta’ala rahmati untuk dimudahkan mengerjakan amal-amal ketaatan, maka hatinya akan putih bersih karena terkumpulnya cahaya iman. Merekalah orang-orang yang beruntung…..

Siapapun yang menetapkan bahwa amal/perbuatan termasuk bagian dari iman dan iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan; maka ia berlepas diri dari ‘aqidah Murji’ah dari awal hingga akhirnya.

Al-Imam Al-Barbahaariy rahimahullah berkata :

ومن قال الإيمان قول وعمل يزيد وينقص فقد خرج من الإرجاء كلِّه، أوَّله وآخره.

“Barangsiapa yang berkata : ‘Iman itu perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang’; sungguh ia telah berlepas diri dari pemahaman irja’ secara keseluruhan, dari awal hingga akhirnya” [Syarhus-Sunnah, hal. 129, tahqiq : ‘Abdurrahmaan bin Ahmad Al-Jumaiziy; Maktabah Daaril-Minhaaj, Cet. 1/1426 H].

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang mengatakan : ‘iman  itu bisa bertambah dan berkurang’ , maka beliau menjawab :

هذا برئَ من الإرجاء.

“Orang ini telah berlepas diri dari (bid’ah) irjaa’“ [As-Sunnah oleh Al-Khalaal 3/581 no.1009].

Selebihnya dari permasalahan meninggalkan amal-amal dhaahir/jawaarih, maka itu termasuk khilaf yang terjadi di kalangan ulama Ahlus-Sunnah.[17]

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Semoga ada manfaatnya.

----------------------------------------------------------------------

[1]     Suraij bin An-Nu’maan bin Marwaan Al-Jauhariy, Abul-Hasan (atau Abul-Husain) Al-Baghdaadiy; seorang yang tsiqah, sedikit melakukan kekeliruan. Wafat tahun 117 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 366 no. 2231].

[2]     ‘Abdullah bin Naafi’ bin Abi Naafi’ Ash-Shaaigh Al-Makhzuumiy, Abu Muhammad Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, shahiihul-kitaab, namun pada hapalannya terdapat kelemahan (layyin). Wafat tahun 206 H [idem, hal. 552, no. 3683].

[3]     Salamah bin Syabiib Al-Mas’amiy An-Naisaabuuriy; seorang yang tsiqah. Wafat tahun 240-an H [idem, hal. 400 no. 2507].

[4]     ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam bin Naafi’ Al-Humairiy Al-Yamaaniy, Abu Bakr Ash-Shan’aaniy; seorang yang tsiqah lagi haafidh, penulis terkenal, mengalami kebutaan di akhir umurnya sehingga hapalannya berubah. Wafat tahun 211 H [idem, hal. 607 no. 4092].

[5]     Ar-Rabii’ bin Sulaimaan bin Daawud Al-Jiiziy, Abu Muhammad Al-Azdiy; seorang perawi yang tsiqah. Wafat tahun 256 H [idem, hal. 320 no. 1903].

[6]     QS. At-Taubah : 11.

[7]     QS. Al-Baqarah : 43.

[8]     ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-Hamiid bin ‘Abdil-Hamiid bin Maimuun bin Mihraan Al-Jazariy, Abul-Hasan Al-Maimuuniy; seorang yang tsiqah lagi mempunyai keutamaan. Wafat tahun 274 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 624 no. 4218].

[9]     Sulaimaan bin Al-Asy’ats bin Ishaaq bin Basyiir bin Syaddaad Al-Azdiy As-Sijistaaniy, Abu Daawud; seorang yang tsiqah, haafidh, penulis kitab Sunan dan yang lainnya. Wafat tahun 275 H [idem, hal. 404, no. 2548].

[10]    Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy, Abu Muhammad; seorang imam, al-‘allamah, dan faqiih. Wafat tahun 280 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 13/244-245 no. 127].

[11]    Ibnu Katsiir rahimahullah saat mengomentari ayat ini berkata :

أي : أعمالكم الصالحة كانت سببا لشمول رحمة الله إياكم، فإنه لا يدخل أحدًا عمله الجنة، ولكن بفضل من الله ورحمته. وإنما الدرجات تفاوتها بحسب عمل الصالحات.

“Yaitu : amal-amal shaalih kalian yang menjadi sebab kalian diliputi rahmat. Karena, tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya semata, akan tetapi (ia masuk surga) karena rahmat dan karunia Allah. Hanya saja perbedaan derajat dapat diperoleh berdasarkan amal-amal shaalihnya” [Tafsir Ibni Katsiir, 7/239-240].

[12]    Perkataan beliau ini menjelaskan kekeliruan sebagian orang yang hanya mengartikan amal dalam iman adalah amal anggota badan/jawaarih.

[13]    Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

وقد استدل البخاري وغيره من الأئمة بهذه الآية وأشباهها، على زيادة الإيمان وتفاضله في القلوب، كما هو مذهب جمهور الأمة، بل قد حكى الإجماع على ذلك غير واحد من الأئمة، كالشافعي، وأحمد بن حنبل، وأبي عبيد، كما بينا ذلك مستقصى في أول الشرح البخاري، ولله الحمد والمنة.

“Al-Bukhaariy dn yang lainnya dari kalangan imam telah berdalil dengan ayat ini dan yang semisalnya, akan bertambahnya iman dan tingkatannya di dalam hati yang berbeda-beda – sebagaimana madzhab jumhur umat. Bahkan telah dikatakan terjadi ijma’ (kesepakatan) atas hal itu oleh lebih dari seorang dari kalangan para imam, seperti : Asy-Syaafi’iy, Ahmad bin Hanbal, dan Abu ‘Ubaid – sebagaimana telah kami jelaskan secara panjang lebar di awal syarh Al-Bukhaariy. Wa lillaahil-hamd wal-minnah” [Tafsiir Ibni Katsiir, 4/12].

[14]    Yaziid bin Haaruun bin Zaadziy/Zaadzaan bin Tsaabit As-Sulamiy Abu Khaalid Al-Waasithiy; seorang yang tsiqah, mutqin, lagi ‘aabid (117/118-206 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1084 no. 7842].

[15]    Ia adalah Sa’d bin Thaariq bin Usyaim Abu Maalik Al-Asyja’iy; seorang yang tsiqah (w. akhir tahun 140 H). Dipakai oleh Muslim dalam Shahih-nya [idem, 369 no. 2253].

[16]    Rib’iy bin Khiraasy bin Jahsy bin ‘Amru bin ‘Abdillah Al-Ghaththafaaniy Abu Maryam Al-Kuufiy (); seorang yang tsiqah lagi ‘aabid (w. 100/101/104 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 318 no. 1889].

[17]    Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut :

العُلماءُ الذينَ قَلوا بعدم كُفْرِ مَنْ تَرَكَ أَعمالَ الْجوارح - مع تَلَفُّظِهِ  بالشهادتين، ووجودِ أصلِ الْإيمان القلبي؛ هل هم من المُرجئة ؟!

“Ulama yang berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan amal-amal jawaarih (anggota badan) yang bersamaan dengan orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan keberadaan ashlul-iimaan di hatinya; apakah mereka (ulama tersebut) termasuk golongan Murji’ah ?”.

Beliau menjawab :

هذا من أهل السنة والجماعة؛ فمن ترك الصيام، أو الزكاة، أو الحج : لا شك أڽَّ ذلك كبيرة عند العلماء؛ ولكن على الصواب : لا يكفر كفرا أكبر.

أما تركُ الصلاة : فالراجح : أنه كافر كفرا أكبر إذا تعمد تركها.

وأما تركُ الزكاة والصيام والحج : فإنه كفر دون كفر.

Mereka ini termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Barangsiapa yang meninggalkan puasa, zakat, atau haji; maka tidak diragukan bahwa hal itu termasuk dosa besar menurut para ulama. Akan tetapi yang benar dalam permasalahan ini : Tidak dikafirkan dengan kufur akbar (murtad).

Adapun permasalahan meninggalkan shalat, yang raajih : Ia dihukumi kafir akbar apabila sengaja meninggalkannya. Sedangkan meninggalkan zakat, puasa, dan haji; maka ia adalah kufrun duuna kufrin (kufur ashghar)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/144-145].








Selasa, 12 Oktober 2021

NIAT, PIKIRAN, BICARA DAN PERILAKU ORANG BERIMAN

 Niat, Pikiran, Bicara, dan 

Perilaku Orang Beriman 

QS Al-Baqarah, 2: 62

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (٦٢)

 

62.Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya. Tidaka ada rasa takut pada merekan dan mereka tidak bersedih hati.

ASBABUNNUZUL

Menurut Al-Wahidi dari Mujahid,ayat ini berkaitan dengan Salman Al-Farisi ketika dia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang nasib sahabat-sahabatnya yang meninggal sebelum Islam datang. Rasulullah saw. menjelaskan kepadanya tentang cara shalat dan ibadah mereka. Lalu,Rasulullah saw. bersabda bahwa mereka akan dimasukkan ke neraka. Maka dari itu, Salman berputus asa, Sungguh, Bumi telah Kiamat." Atau, "Seolah-olah gunung menimpa kepalaku." Kemudian, turunlah ayat ini sehingga Salman bersenang hati dan berkata, "Seakan anugerah besar dilimpahkan kepadaku."(Lubäbun Nuqül: 9)

 
TAFSIR AT-TABARI

Yang dimaksud Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah mereka yang membenarkan ajaran Rasulullah saw: Sedangkan yang dimaksud (Hädü)pada ayat ini adalah orang-orang Yahudi Menurut -Ibnu Juraij kata (Hädü) muncul dari pengakuan mereka sendiri untuk menjadübangsa Yahudi. Lafadzh menurut riwayat .1bnu Juraij adalah Orang-orang yang mula-mula mendiami suatu daerah yang bernama Nazaret Sedangkan daläm riwayat Ibnu 'Abbäs yang dimaksud (Nasärä) ädalah orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa as. Adapun yang dimaksud ($äbi'in) menurut Mujahid adalah sekelompok orang yang tidak beragama Namun sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud {Säbi’in> adalah setiap orang yang keluar dari suatu agama dan berpindah kepada agama yang lain.

Ayat ini menerangkan bahwa orang orang Mukmin, Yahudi Nashrani ataupun Säbi’in yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan mereka tidak mengganti dan mengubah keyakinan mereka hingga mereka wafat dan mereka melakukan amal kebaikan sebagai bentuk ketaatan pada-Nya maka mereka akan mendapatkan pahala atas amal kebaikan yang telah mereka kerjakan dan mereka tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari Kiamat dan tidak akan bersedih hatidengan apa yang telah mereka tinggalkan di dunia karena mereka yakin akan kenikmatan akhirat yang kekal; demikian menurut At-Tabari (Tafsir At-Tabari Jilid I, 2001:32-46)

 
TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat Cini Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang senantiasa mendapat rahmat dari Allah Swt. Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir serta beramal saleh dengan mengikuti semua petunjuk yang dibawa para iasul-Nya, niscaya akan mendapatkan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Mereka tidak pernah merasa bersedih karena sepanjang hidup selalu dinaungi rahmat Allah Swt. dan di akhirat ditempatkan di surga-Nya.

Rasulullah saw. menegaskan, keimanan seorang Yahudi adalah mengimani Taurat dan mengikuti syariat Nabi Musa sampai tangnya Nabi "Isa. Setelah itu, mereka harus mengikuti syariat yang dibawa Nabi Isa karena syariatnya merupakan pelengkap syariat sebelumnya. Jika tidak begitu, berarti mereka telah kufur Keimanan seorang Nasrani adalah mengimani Injil dan mengikuti petunjuk Nabi Isa sampai datangnya Rasulullah Saw. Setelah itu, mereka harus mengikuti petunjuk Rasulullah Saw. Jika tidakz mereka telah berbuat kesalahan dan akan dimasukkan ke neraka (Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 53-54)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Hurairah rag, dia berkata, "Rasulullah saw, "bersabda, 'Jangan/ah seorarong di antara kamu mengharapkan kematian danjangan pula memohonnya sebe/urn kematian itu datang menjemputnya, Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya)." (HR Muslim, 4843)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Niat, Pikiran, Bicara, dan Perilaku Orang Beriman,  Orang yang beriman mengatur seluruh hidupnya sesuai dengan Al-Qur'an dan berjuang untuk melaksanakan dengan hati-hati setiap hari apa yang telah dibaca dan dipelajarinya dari ayat-ayat Al-Qur'an. Dalam segala perbuatannya sejak bangun pada pagi hari sampai tidur pada malam hari, dia berniat untuk berpikir, berbicara, dan bertindak berdasarkan ajaran Al-Qur'an (QS Al-An'äm, 6:162).

Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya (QS Al-Mä'idah, 5: 35).

Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam Al-Qur'an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi cara untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian, bagi orang yang beriman, memberikan apa yang dicintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah (QS At-Taubah, 9: 99). (Harun Yahya, 24 Jam dalam Kehidupan Seorang Muslim, 2003)

Baca Juga : Sabar Dalam Menghadapi Cobaan