Jumat, 08 Oktober 2021

MADINAH LIVE



Assalamu ‘alaika Ya Rasullallah, assalamu ‘alaika Ya Nabiyallah, assalamu ‘alaika Ya Khiyaratallah, assalamu ‘alaika Ya Habiballah, assalamu ‘alaika Ya Sayyidal Mursalin wa Khataman Nabiyyin, assalamu ‘alaika Ya Khoirol kholaiki ajma’in, assalamu ‘alaika wa ‘ala alik wa ahli baitika wa azawajika wa ashabika ajma’in, assalamu ‘alaika wa ‘ala sa-irin nabiyyin wa jami’i ‘ibadillahish sholihin.

Sinar matahari mulai tampak memerah di timur, ujung-ujung payung raksasa di pelataran Masjid Nabawi itu mulai memerah terkena sinar matahari. Saya dengan keras melambaikan tangan berkali-kali ke kubah hijau, kubah yang tepat diatas peristirahatan Rasulullah. Mata saya hanya melihat bangunan hijau itu, mata saya penuh airmata, namun rasa hati merasa Rasullulah di ujung sana, tengah melambaikan tangannya. Jadilah kami menangis sejadinya. “Ya Allah, beri kesempatan lagi, kami kembali bersama Rasullullah.” Air mata itu terus menerus menetes.

“Ya Rasullullah, kenalilah kami nanti saat di Padang Mahsyar, panggil kami nanti saat dalam kebingungan.” Hati ini seperti direngkuh dengan kuat oleh perasaan yang justru tak mau meninggalkan Masjid Nabawi.