Barang siapa berharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.(Qur'an Surah, Al-Kahfi :110)
Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari
Hisyaam,ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ayahku, dari ‘Aaisyah :
Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk
menemuinya yang waktu itu di sebelahnya ada seorang wanita. Beliau shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : “Siapakah ini ?”. ‘Aaisyah berkata :
“Fulaanah”. Lalu ia (‘Aaisyah) menyebutkan tentang shalatnya (yang banyak dan
lama). Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ah, wajib
bagimu beramal sesuai sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak akan
bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang
dirutinkan oleh pelakunya” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 43].
Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama
dalam menafsirkan al-malal (bosan) dalam hadits di atas.
Abu Ishaaq
Al-Harbiy rahimahullah berkata :
قولـه
: ((لا يَمَلُّ الله حتى تملوا)) : أخبرنا سلمة عن الفراء ؛ يقال : مللت أمَلُّ :
ضجرت، وقال أبو زيد : ملَّ يَمَلُّ ملالة ، وأمللته إملالاً ، فكأنَّ المعنى لا
يملُّ من ثواب أعمالكم حتى تملُّوا من العمل
“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa
sallam : ‘Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan’. Telah
mengkhabarkan kepada kami Salamah, dari Al-Farraa’, dikatakan : maliltu
amallu, yaitu : aku bosan. Abu Zaid berkata : ‘malla yamallu malaalatan
wa amlaltuhu imlaalan; maka seakan-akan maknanya Allah tidak bosan
memberikan pahala dari amal-amal kalian hingga kalian bosan untuk beramal” [Ghariibul-Hadiits,
1/338].
Ibnu
‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :
قوله:
إن الله لا يمل حتى تملوا، معناه عند أهل العلم إن الله لا يمل من الثواب والعطاء
على العمل حتى تملوا أنتم، ولا يسأم من أفضاله عليكم، إلا بسآمتكم عن العمل له
“Sabda beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga
kalian bosan’; maknanya menurut para ulama adalah bahwa Allah tidak akan
bosan memberikan pahala dan balasan terhadap amal hingga kalian bosan (untuk
beramal). Allah tidak
akan jemu untuk mencurahkan kebaikan-Nya kepada kalian, kecuali dengan
kebosanan kalian untuk beramal untuk-Nya” [At-Tamhiid, 1/194].
Telah menceritakan kepada kami
Ahmad : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (Ibnu
Qutaibah), ia berkata : “Makna sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam : ‘Bebanilah diri kalian amal-amal yang sanggup kalian
lakukan, karena Allah ‘azza wa jalla tidak akan bosan hingga kalian bosan’. Dan ta’wilnya adalah : Bahwasannya
Allah ‘azza wa jalla tidak merasa bosan apabila kalian bosan.
Yang semisal dengan perkataan ini adalah perkataanmu : ‘Kuda ini tidak akan
lemah hingga penunggangnya merasa lemah’; maksudnya kuda itu tidaklah akan
lemah apabila si penunggangnya lemah” [Al-Mujaalasah no. 1358].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata
:
قوله:
(لا يمل الله حتى تملوا) هو بفتح الميم في الموضعين، والملال استثقال الشيء ونفور
النفس عنه بعد محبته، وهو محال على الله تعالى باتفاق. قال الإسماعيلي رحمه الله
وجماعة من السلف المحققين : إنما أطلق هذا على جهة المقابلة اللفظية مجازا كما قال
تعالى: {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}
“Sabda beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan merasa
bosan hingga
kalian merasa bosan’; dengan
difathah huruf mimnya di dalam dua tempat. Bosan adalah merasa berat atas sesuatu dan
keengganan jiwa darinya setelah mencintainya. Sifat ini mustahil bagi
Allah ta’ala dengan kesepakatan ulama. Telah
berkata Al-Ismaa’iiliy rahimahullah dan sekelompok ulama
salaf muhaqqiqiin : ‘Sifat bosan ini hanyalah dimutlakkan
dalam segi perbandingan lafdhiyyah secara majaz,
sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Dan balasan suatu
kejahatan adalah kejahatan yang serupa’ (QS. Asy-Syuuraa
: 40)” [Fathul-Baariy, 1/102].
Berkaitan
dengan hal ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah pernah
ditanya :
هل
نستطيع أن نثبت صفة الملل والهرولة لله تعالى
“Bolehkah kita untuk menetapkan sifat al-malal (bosan)
dan al-harwalah (berlari-lari kecil) bagi Allah ta’ala ?”.
Beliau rahimahullah menjawab :
جاء في
الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم قولـه : ((فإنَّ الله لا يَمَلُّ حتى تملوا)).
فمن
العلماء من قال : إنَّ هذا دليل على إثبات الملل لله ، لكن ؛ ملل الله ليس كملل
المخلوق ؛ إذ إنَّ ملل المخلوق نقص ؛ لأنه يدل على سأمه وضجره من هذا الشيء ، أما
ملل الله ؛ فهو كمال وليس فيه نقص ، ويجري هذا كسائر الصفات التي نثبتها لله على
وجه الكمال وإن كانت في حق المخلوق ليست كمالاً.
ومن
العلماء من يقول : إنَّ قولـه : ((لا يَمَلُّ حتى تملوا)) ؛ يراد به بيان أنه مهما
عملت من عمل ؛ فإنَّ الله يجازيك عليه ؛ فاعمل ما بدا لك ؛ فإنَّ الله لا يمل من
ثوابك حتى تمل من العمل ، وعلى هذا ، فيكون المراد بالملل لازم الملل.
ومنهم
من قال : إنَّ هذا الحديث لا يدل على صفة الملل لله إطلاقاً ؛ لأنَّ قول القائل :
لا أقوم حتى تقوم ؛ لا يستلزم قيام الثاني ، وهذا أيضاً : ((لا يمل حتى تملوا)) ؛
لا يستلزم ثبوت الملل لله عَزَّ وجَلَّ.
وعلى
كل حال يجب علينا أن نعتقد أنَّ الله تعالى مُنَزَّه عن كل صفة نقص من الملل وغيره
، وإذا ثبت أنَّ هذا الحديث دليل على الملل ؛ فالمراد به ملل ليس كملل المخلوق.
“Terdapat dalam hadits Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : ‘Sesungguhnya Allah tidak akan
bosan hingga engkau bosan[1]’.
Di antara ulama ada yang berkata : Sesungguhnya
hadits ini merupakan dalil penetapan sifat al-malal (bosan)
bagi Allah. Akan tetapi, sifat bosan Allah tidaklah seperti sifat bosan
makhluk. Sifat bosan makhluk adalah kekurangan, karena hal itu menunjukkan
kejemuan dan kebosanan akan sesuatu. Adapun sifat bosan Allah adalah sempurna
tanpa ada padanya kekurangan. Sifat ini berjalan sebagaimana seluruh
sifat-sifat yang kita tetapkan bagi Allah dalam kesempurnaan; meskipun jika itu
ada pada makhluk tidak menunjukkan kesempurnaan.
Di antara ulama ada yang berkata :
Sesungguhnya sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Allah
tidak akan bosan hingga engkau bosan’, yang dimaksudkan dengannya adalah
penjelasan bahwa apabila
engkau melakukan suatu amalan, maka Allah akan memberikan balasan pahala
atasnya. Maka beramallah selama kalian mampu, karena Allah tidak akan bosan
untuk memberikan pahalanya, hingga engkau bosan untuk beramal. Oleh karena itu,
yang dimaksud dengan al-malal (bosan) adalah kelaziman al-malal itu
sendiri.
Di antara ulama ada yang berkata : Sesungguhnya
hadits ini tidak menunjukkan pada sifat bosan bagi Allah secara mutlak. Hal itu
sebagaimana perkataan : laa aquumu hattaa taquumu (aku tidak
akan berdiri hingga engkau berdiri) – tidaklah melazimkan berdiri yang kedua
(dari si pengucap perkataan). Begitu juga dengan perkataan : Allah
tidak bosan hingga engkau bosan’ ; tidaklah melazimkan penetapan sifat
bosan bagi Allah ‘azza wa jalla.
Dengan demikian, wajib bagi kita untuk
meyakini bahwasannya Allah ta’ala terhindar dari setiap sifat
kurang dari sifat bosan atau yang lainnya. Dan apabila telah shahih bahwa
hadits ini menunjukkan sifat bosan, maka maksud dari sifat bosan itu, tidaklah
seperti sifat bosannya makhluk” [Majmuu’ah Duruus wa Fataawaa Al-Haram,
1/152].
Kesimpulan dalam kalimat terakhir Asy-Syaikh
Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah inilah yang raajih sesuai
dengan dhahir hadits. Dan ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan yang
dibawakan oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy dan Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah di
atas, karena itu merupakan penjelasan dan tafsiran dhahirnya. Yaitu,
Allah ta'ala tidaklah bosan memberikan pahala atas amal-amal
manusia hingga mereka sendiri bosan untuk beramal dan menghentikannya.
[1] Diriwayatkan oleh
Al-Bukhaariy no. 43 & 1151 & 1970 & 5862, Muslim no. 782, Abu
Daawud no. 1368, An-Nasaa’iy no. 762, Ibnu Maajah no. 4238, dan yang lainnya.
Ahlus-Sunnah telah mencapai titik
kesepakatan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan, amal
oleh anggota badan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
اتفقت الصحابة والتابعون، فمن بعدهم من
علماء السنة على أن الأعمال من الإيمان، لقوله سبحانه وتعالى : (إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ .....) إلى
قوله (وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ) [الأنفال : ٢-٣] فجعل الأعمال كلها
إيمانا، وكما نطق به حديث أبي هريرة.
وقالوا : إن الإيمان قولٌ وعملٌ
وعقيدةٌ، يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية.......
“Para shahabat, taabi’iin, dan
para ulama sunnah setelah mereka telah bersepakat bahwa amal termasuk bagian
dari iman berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa : ‘Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rezeki yang Kami berikan kepada mereka’ (QS. Al-Anfaal : 2-3). Allah telah
menjadikan amal secara keseluruhan (bagian dari) iman, sebagaimana dijelaskan
dalam hadits Abu Hurairah.
Mereka berkata : ‘Sesungguhnya
iman itu perkataan, perbuatan, dan ‘aqiidah; bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan….” [Syarhus-Sunnah, 1/38-39, tahqiq : Zuhair
Syaawiisy & Syu’aib Al-Arna’uth; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403].
قال أبو عمر ابن عبد البر في
[التمهيد]: أجمع أهل الفقه والحديث على أن الإيمان قول وعمل، ولا عمل إلا
بنية، والإيمان عندهم يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية، والطاعات كلها عندهم إيمان
“Telahberkata Abu ‘Umar Ibnu
‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid : ‘Para ahli fiqh dan ahli hadits telah bersepakat
bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Tidak amal kecuali dengan niat. Iman
di sisi mereka dapat bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.
Seluruh amal ketaatandi sisi mereka
termasuk iman” [Al-Iimaan oleh Ibnu Taimiyyah, hal. 208, tahqiq : Al-Albaaniy;
Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 5/416].
حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن
النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول
كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء
Telah menceritakan kepadaku
ayahku (Ahmad bin Hanbal – Abul-Jauzaa’) rahimahullaahu : Telah menceritakan
kepada kami Suraij bin An-Nu’maan[1] : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah
bin Naafi’[2], ia berkata : Maalik bin Anas berkata : ‘Iman adalah perkataan
dan perbuatan, Allah telah berbicara kepada Muusaa, dan Allah berada di atas
langit sedangkan ilmu-Nya – tidak ada sesuatu yang luput dari-Nya”
[Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532,
tahqiq : Dr. Muhammad bin Sa’iid bin Saalim Al-Qahthaaniy; Daaru
‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H – sanadnya hasan atau shahih].
حدثني أبو عبد الرحمن سلمة بن شبيب قبل
سنة ثلاثين ومائتين حدثنا عبد الرزاق قال كان معمر وابن جريج والثوري ومالك وابن
عيينة يقولون الايمان قول وعمل يزيد وينقص قال عبدالرزاق وأنا أقول ذلك الايمان
قول وعمل والايمان يزيد وينقص فان خالفتهم فقد ضللت إذا وما أنا من المهتدين
Telah menceritakan kepadaku Abu
‘Abdirrahmaan Salamah bin Syabiib[3] sebelum tahun 230 : Telah menceritakan
kepada kami ‘Abdurrazzaaq[4], ia berkata : “Ma’mar, Ibnu Juraij, Ats-Tsauriy,
Maalik, dan Ibnu ‘Uyainah berkata : ‘Iman adalah perkataan dan perbuatan;
(dapat) bertambah dan berkurang”. ‘Abdurrazzaaq berkata : “Dan akupun
mengatakan hal itu, yaitu iman adalah perkataan dan perbuatan. Iman (dapat)
bertambah dan berkurang. Apabila aku menyelisihi mereka, sungguh aku telah
tersesat dan aku bukan termasuk orang-orang yang diberi petunjuk” [Diriwayatkan
oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 342-343 no. 726; shahih].
حدثنا محمد بن عبد الرحمن حدثني أبو
أحمد حاتم بن عبد الله الجهاري، قال: سمعت الربيع بن سليمان يقول: سمعت الشافعي
يقول: الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية، ثم تلا هذه الآية:وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًاالمدثر 31الآية
Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin ‘Abdirrahmaan : Telah menceritakan kepadaku Abu Ahmad Haatim bin
‘Abdillah Al-Jihaariy, ia berkata : Aku mendengar Ar-Rabii’ bin Sulaimaan[5]
berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Iman adalah perkataan dan
perbuatan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena (melakukan)
kemaksiatan”. Kemudian ia (Asy-Syaafi’iy) membaca ayat ini : “Dan supaya orang
yang beriman bertambah imannya’ (QS. Al-Mudatstsir : 31)” [Diriwayatkan oleh
Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 9/114-115; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet.
1/1409].
وأخبرنا أبو بكر المروذي قال : سمعت
أبا عبد الله يقول : قال الله عز وجل : (فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ
وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ) وقال تعالى : (وَأَقِيمُوا
الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ). وقال : هذا الإيمان. ثم قال أبو عبد الله :
فالإيمان قول وعمل.
Dan telah mengkhabarkan kepada
kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata :
“Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama’.[6] Allah
ta’ala juga berfirman : ‘Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat’[7];
lalu ia (Ahmad) berkata : ”Inilah iman !. Iman adalah perkataan dan perbuatan”
[Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah, 3/589 no. 1035, tahqiq : Dr.
’Athiyyah Az-Zahraaniy; Daarur-Rayyah, Cet. 1/1410 - shahih].
وأخبرنا أبو بكر المروذي وعبد الملك
الميموني وأبو داود السجستاني وحرب بن إسماعيل الكرماني ويوسف بن موسى ومحمد بن
أحمد بن واصل والحسن بن محمد، كلهم يقول : إنه سمع أحمد بن حنبل قال : الإيمان :
قول وعمل يزيد وينقص.
Dan telah mengkhabarkan kepada
kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ‘Abdul-Malik Al-Maimuuniy[8], Abu Daawud
As-Sijistaaniy[9], Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy[10], Yuusuf bin Muusaa,
Muhammad bin Ahmad bin Waashil, dan Al-Hasan bin Muhammad; semuanya berkata
bahwasannya mereka mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Iman adalah perkataan
dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal
dalam As-Sunnah, 3/582 no. 1010; shahih].
Dalil-dalil yang mereka (para ulama salaf) pakai untuk
membangun ‘aqidah ini antara lain adalah :
“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal
shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya dengan seijin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu
ialah ‘salaam" [QS. Ibraahiim : 23].
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih,
bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal” [QS. Al-Kahfiy : 107].
Allah ta’ala dalam ayat-ayat di atas telah menggandengkan
antara iman dan amal sehingga dua hal ini sangat berkaitan dan tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya. Bahkan, Allah ta’ala telah berfirman bahwa
manusia akan dimasukkan ke dalam surga dengan sebab amal-amal yang mereka
kerjakan.
Telah menceritakan kepada kami
Zuhair bin Harb : Telah menceritakan kepada kami Jariir bin Suhail, dari
‘Abdullah bin Diinaar dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah
bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Iman itu ada tujuh puluh,
atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan : Laa ilaha
illallaah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah salah satu
cabang dari iman” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 35].
Telah menceritakan kepada kami
Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan.
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami
Syu’bah; keduanya (Sufyaan dan Syu’bah) dari Qais bin Muslim, dari Thaariq bin
Syihaab – dan ini adalah hadits Abu Bakr - , ia (Thaariq) berkata : Orang
pertama yang berkhutbah pada hari raya (‘Ied) sebelum shalat didirikan adalah
Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya : "Shalat (‘Ied)
hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah". Marwan menjawab :
"Sungguh, khutbah ini telah ditinggalkan". Kemudian Abu Sa’iid
berkata : "Adapun orang ini telah menunaikan kewajibannya. Aku pernah
mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa di
antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia cegah dengan tangannya. Jika
tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya,
dan itulah selemah-lemah iman" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 49].
Dua hadits di atas memberi faedah
bahwa iman mempunyai beberapa cabang dan tingkatan yang tidak sama
kedudukannya. Begitu pula keadaan pemiliknya. Ada yang keimanannya tinggi
(kuat), ada pula yang keimanannya rendah (lemah). Dan perkataan serta perbuatan
termasuk bagian dari iman.
Para ulama telah menjelaskan
bahwa perkataan itu terdiri dari perkataan hati dan anggota badan (lisan).
Begitu juga dengan perbuatan, ia terdiri dari perbuatan hati dan anggota badan.
والمقصود هنا أن من قال من السلف:
الإيمان قول وعمل، أراد قول القلب واللسان وعمل القلب والجوارح
“Dan yang dimaksudkan di sini
dari perkataan salaf : ‘qaulun wa ‘amalun (perkataan dan perbuatan)’; yaitu
perkataan hati dan lisan, serta amal hati dan anggota badan” [Al-Iimaan, hal.
137, takhriij : Al-Albaaniy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 5/1416].
ومن أصول أهل السنة أن الدين والإيمان
قول وعمل ، قول القلب واللسان وعمل القلب واللسان والجوارح
“Dan termasuk prinsip pokok
Ahlus-Sunnah bahwasannya agama dan iman adalah perkataan dan perbuatan.
Perkataan hati dan lisan, serta amal hati, lisan, dan anggota badan”
[Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – melalui At-Tanbiihaat Al-Lathiifah oleh
‘Abdurrahmaan As-Sa’diy, hal. 89; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1 /1414].
Asy-Syaikh As-Sa’diy memberikan komentar terhadap perkataan
Ibnu Taimiyyah di atas sebagai berikut :
قد دل الكتاب والسنة على ما قاله الشيخ
، وأجمع على ذلك سلف الأمة ، فكم من آية قرآنية وأحاديث نبوية أطلقت على كثير من الأقوال
والأعمال اسم الإيمان ، فالإيمان المطلق يدخل فيه جميع الدين ، ظاهره وباطنه ،
أصوله وفروعه ، ويدخل فيه العقائد التي يجب اعتقادها في كل ما احتوت عليه من هذا
الكتاب ، ويدخل أعمال القلوب كالحب لله ورسوله.
والفرق بين أقوال القلب وبين أعماله:
أن أقواله هي العقائد التي يعترف بها القلب ويعتقدها ، وأما أعمال القلب فهي حركته
التي يحبها الله ورسوله ، وضابطها محبة الخير وإرادته الجازمة ، وكراهية الشر
والعزم على تركه ، وهذه الأعمال القلبية تنشأ عنها أعمال الجوارح ، فالصلاة
والزكاة والصوم والحج والجهاد- من الإيمان ، وبر الوالدين وصلة الأرحام والقيام
بحقوق الله وحقوق خلقه المتنوعة- كلها من الإيمان. وكذلك الأقوال؛ فقراءة القرآن
وذكر الله والثناء عليه والدعوة إلى الله والنصيحة لعباد الله وتعلم العلوم
النافعة - كلها داخلة في الإيمان
“Sesungguhnya yang dikatakan
Syaikhul-Islaam telah ditunjukkan dalilnya melalui Al-Kitaab dan As-Sunnah. Dan
salaful-ummah pun telah bersepakat akan hal itu. Betapa banyak ayat-ayat
Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang memutlakkan kebanyakan dari perkataan dan
perbuatan dalam nama iman. Iman mutlak (al-iimaanul-muthlaq) masuk padanya
semua urusan agama, baik yang dhaahir maupun baathin, pokok maupun cabangnya.
Dan masuk pula padanya i'tiqad-i'tiqad yang wajib diyakini dari setiap yang
terkandung dalam kitab ini. Dan masuk pula padanya amal-amal hati seperti :
cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Perbedaan antara
perkataan-perkataan hati dengan amal-amal hati adalah : Bahwasannya
perkataan-perkataan hati adalah i'tiqad-i'tiqad yang diketahui dan diyakini
oleh hati. Sedangkan amal-amal hati adalah gerakan hati dicintai oleh Allah dan
Rasul-Nya. Ketentuannya adalah, mencintai dan keinginan yang pasti akan
kebaikan, serta kebencian terhadap kejelekan dan keinginan yang kuat untuk
meninggalkannya. Inilah yang disebut amal-amal hati yang kemudian mendorong
amal-amal anggota badan, seperti : shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad –
dimana hal termasuk iman. Berbakti kepada kedua orang tua, menyambung
silaturahim, menegakkan hak-hak Allah dan makhluk-Nya yang bermacam-macam;
kesemuanya termasuk iman. Begitu juga dengan perkataan-perkataan. Membaca
Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, memuji-Nya, berdakwah/menyeru di jalan
Allah, menasihati sesama manusia, serta belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat –
kesemuanya juga termasuk iman” [At-Tanbiihaat Al-Lathiifah, hal. 89-90].[12]
Allah ta’ala telah berfirman tentang keadaan orang-orang
yang bertambah keimanannya :
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman
mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”[13] [QS. Al-Anfaal :
2].
Dan ketika dikatakan iman dapat
bertambah (dengan ketaatan), maka ia pun dapat berkurang (dengan kemaksiatan).
Telah menceritakan kepada kami
Yaziid bin Haaruun[14] : Telah menceritakan kepada kami Abu Maalik[15], dari
Rib’iy bin Hiraasy[16], dari Hudzaifah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda : “Fitnah dibentangkan di hati seperti dibentangkannya
tikar. Setiap hati yang mengingkarinya maka diberi satu titik putih dan setiap
hatinya menyerapnya maka diberi satu titik hitam, hingga hati pun menjadi dua
macam : (1) hati putih seperti benda jernih dimana fitnah tidak akan
membahayakannya selama langit dan bumi masih ada, dan yang lainnya (2) hati
hitam berdebu seperti panci kotor - beliau memiringkan telapak tangan - ia
tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali sesuatu yang
terserap dari hawa nafsunya" [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/386; shahih.
Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 144].
Hadits Hudzaifah radliyallaahu
‘anhu di atas menjelaskan tentang naik turunnya iman dalam hati seorang
manusia. Ketika seseorang mengerjakan amal ketaatan dengan menolak fitnah, maka
akan ditambah titik putih dalam hatinya. Sebaliknya, jika ia seseorang
mengerjakan kemaksiatan dengan menerima dan mengikuti fitnah, maka akan
ditambah titik hitam dalam hatinya. Banyak sedikitnya amal ketaatan dan
kemaksiatan akan mempengaruhi dominasi titik putih dan hitam dalam hatinya.
Siapa yang Allah ta’ala rahmati untuk dimudahkan mengerjakan amal-amal
ketaatan, maka hatinya akan putih bersih karena terkumpulnya cahaya iman.
Merekalah orang-orang yang beruntung…..
Siapapun yang menetapkan bahwa
amal/perbuatan termasuk bagian dari iman dan iman bisa bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan; maka ia berlepas diri dari ‘aqidah
Murji’ah dari awal hingga akhirnya.
Al-Imam Al-Barbahaariy rahimahullah berkata :
ومن قال الإيمان قول وعمل يزيد وينقص
فقد خرج من الإرجاء كلِّه، أوَّله وآخره.
“Barangsiapa yang berkata : ‘Iman
itu perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang’; sungguh ia telah
berlepas diri dari pemahaman irja’ secara keseluruhan, dari awal hingga
akhirnya” [Syarhus-Sunnah, hal. 129, tahqiq : ‘Abdurrahmaan bin Ahmad
Al-Jumaiziy; Maktabah Daaril-Minhaaj, Cet. 1/1426 H].
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang
orang yang mengatakan : ‘imanitu bisa
bertambah dan berkurang’ , maka beliau menjawab :
هذا برئَ من الإرجاء.
“Orang ini telah berlepas diri dari (bid’ah) irjaa’“
[As-Sunnah oleh Al-Khalaal 3/581 no.1009].
Selebihnya dari permasalahan
meninggalkan amal-amal dhaahir/jawaarih, maka itu termasuk khilaf yang terjadi
di kalangan ulama Ahlus-Sunnah.[17]
[1]Suraij bin An-Nu’maan bin Marwaan
Al-Jauhariy, Abul-Hasan (atau Abul-Husain) Al-Baghdaadiy; seorang yang tsiqah,
sedikit melakukan kekeliruan. Wafat tahun 117 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 366
no. 2231].
[2]‘Abdullah bin Naafi’ bin Abi Naafi’
Ash-Shaaigh Al-Makhzuumiy, Abu Muhammad Al-Madaniy; seorang yang tsiqah,
shahiihul-kitaab, namun pada hapalannya terdapat kelemahan (layyin). Wafat
tahun 206 H [idem, hal. 552, no. 3683].
[3]Salamah bin Syabiib Al-Mas’amiy An-Naisaabuuriy;
seorang yang tsiqah. Wafat tahun 240-an H [idem, hal. 400 no. 2507].
[4]‘Abdurrazzaaq bin Hammaam bin Naafi’
Al-Humairiy Al-Yamaaniy, Abu Bakr Ash-Shan’aaniy; seorang yang tsiqah lagi
haafidh, penulis terkenal, mengalami kebutaan di akhir umurnya sehingga
hapalannya berubah. Wafat tahun 211 H [idem, hal. 607 no. 4092].
[5]Ar-Rabii’ bin Sulaimaan bin Daawud
Al-Jiiziy, Abu Muhammad Al-Azdiy; seorang perawi yang tsiqah. Wafat tahun 256 H
[idem, hal. 320 no. 1903].
[6]QS. At-Taubah
: 11.
[7]QS. Al-Baqarah
: 43.
[8]‘Abdul-Malik
bin ‘Abdil-Hamiid bin ‘Abdil-Hamiid bin Maimuun bin Mihraan Al-Jazariy,
Abul-Hasan Al-Maimuuniy; seorang yang tsiqah lagi mempunyai keutamaan. Wafat
tahun 274 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 624 no. 4218].
[9]Sulaimaan bin Al-Asy’ats bin Ishaaq bin
Basyiir bin Syaddaad Al-Azdiy As-Sijistaaniy, Abu Daawud; seorang yang tsiqah,
haafidh, penulis kitab Sunan dan yang lainnya. Wafat tahun 275 H [idem, hal.
404, no. 2548].
[10]Harb bin
Ismaa’iil Al-Kirmaaniy, Abu Muhammad; seorang imam, al-‘allamah, dan faqiih.
Wafat tahun 280 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 13/244-245 no. 127].
[11]Ibnu Katsiir
rahimahullah saat mengomentari ayat ini berkata :
أي : أعمالكم الصالحة كانت سببا لشمول
رحمة الله إياكم، فإنه لا يدخل أحدًا عمله الجنة، ولكن بفضل من الله ورحمته. وإنما
الدرجات تفاوتها بحسب عمل الصالحات.
“Yaitu : amal-amal shaalih kalian
yang menjadi sebab kalian diliputi rahmat. Karena, tidak ada seorang pun yang
masuk surga karena amalnya semata, akan tetapi (ia masuk surga) karena rahmat
dan karunia Allah. Hanya saja perbedaan derajat dapat diperoleh berdasarkan
amal-amal shaalihnya” [Tafsir Ibni Katsiir, 7/239-240].
[12]Perkataan beliau ini menjelaskan kekeliruan
sebagian orang yang hanya mengartikan amal dalam iman adalah amal anggota
badan/jawaarih.
[13]Ibnu Katsiir
rahimahullah berkata :
وقد استدل البخاري وغيره من الأئمة
بهذه الآية وأشباهها، على زيادة الإيمان وتفاضله في القلوب، كما هو مذهب جمهور
الأمة، بل قد حكى الإجماع على ذلك غير واحد من الأئمة، كالشافعي، وأحمد بن حنبل،
وأبي عبيد، كما بينا ذلك مستقصى في أول الشرح البخاري، ولله الحمد والمنة.
“Al-Bukhaariy dn yang lainnya
dari kalangan imam telah berdalil dengan ayat ini dan yang semisalnya, akan
bertambahnya iman dan tingkatannya di dalam hati yang berbeda-beda –
sebagaimana madzhab jumhur umat. Bahkan telah dikatakan terjadi ijma’
(kesepakatan) atas hal itu oleh lebih dari seorang dari kalangan para imam,
seperti : Asy-Syaafi’iy, Ahmad bin Hanbal, dan Abu ‘Ubaid – sebagaimana telah
kami jelaskan secara panjang lebar di awal syarh Al-Bukhaariy. Wa
lillaahil-hamd wal-minnah” [Tafsiir Ibni Katsiir, 4/12].
[14]Yaziid bin Haaruun bin Zaadziy/Zaadzaan bin
Tsaabit As-Sulamiy Abu Khaalid Al-Waasithiy; seorang yang tsiqah, mutqin, lagi
‘aabid (117/118-206 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[Taqriibut-Tahdziib, hal. 1084 no. 7842].
[15]Ia adalah Sa’d bin Thaariq bin Usyaim Abu
Maalik Al-Asyja’iy; seorang yang tsiqah (w. akhir tahun 140 H). Dipakai oleh
Muslim dalam Shahih-nya [idem, 369 no. 2253].
[16]Rib’iy bin Khiraasy bin Jahsy bin ‘Amru bin
‘Abdillah Al-Ghaththafaaniy Abu Maryam Al-Kuufiy (); seorang yang tsiqah lagi
‘aabid (w. 100/101/104 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 318 no. 1889].
[17]Asy-Syaikh
Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut :
العُلماءُ الذينَ قَلوا بعدم كُفْرِ
مَنْ تَرَكَ أَعمالَ الْجوارح - مع تَلَفُّظِهِبالشهادتين، ووجودِ أصلِ الْإيمان القلبي؛ هل هم من المُرجئة ؟!
“Ulama yang berpendapat tidak
kafirnya orang yang meninggalkan amal-amal jawaarih (anggota badan) yang
bersamaan dengan orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan keberadaan
ashlul-iimaan di hatinya; apakah mereka (ulama tersebut) termasuk golongan
Murji’ah ?”.
Beliau menjawab :
هذا من أهل السنة والجماعة؛ فمن ترك
الصيام، أو الزكاة، أو الحج : لا شك أڽَّ ذلك كبيرة عند العلماء؛ ولكن على الصواب
: لا يكفر كفرا أكبر.
أما تركُ الصلاة : فالراجح : أنه كافر
كفرا أكبر إذا تعمد تركها.
وأما تركُ الزكاة والصيام والحج : فإنه
كفر دون كفر.
“Mereka
ini termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Barangsiapa yang meninggalkan puasa, zakat,
atau haji; maka tidak diragukan bahwa hal itu termasuk dosa besar menurut para
ulama. Akan tetapi yang benar dalam permasalahan ini : Tidak dikafirkan dengan
kufur akbar (murtad).
Adapun permasalahan meninggalkan
shalat, yang raajih : Ia dihukumi kafir akbar apabila sengaja meninggalkannya.
Sedangkan meninggalkan zakat, puasa, dan haji; maka ia adalah kufrun duuna
kufrin (kufur ashghar)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/144-145].