Rabu, 06 Oktober 2021

SEDEKAH

 

SEDEKAH DITAMPAKKAN ATAU DISEMBUNYIKAN ?

QS Al-Baqarah, 2:271

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَئَِّاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ  . (٢٧١)

271.Jika jkamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus Sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

ASBABUNNUZUL

Dari Amir Asy Sya'bi, pada suatu waktu Umar bin Khathab menyedekahkan separuh dari harta kekayaannya kepada Rasulullah untuk keperluan agama, Rasulullah bertanya kepadanya, "Apakah kamu memikirkan anak keturunanmu yang datang kemudian, wahai Umar!" la menjawab, "Aku menyisihkan setengah dari harta kekayaanku untuk mereka". Tapi kemudian Abu Bakar secara diam-diam telah menyedekahkan seluruh harta nya kepada Rasulullah untuk kepentingan agama, Rasulullah pun menanyakan hal yang sama kepadanya,Abu Bakar menjawab, "Yang akan mencukupi keluargaku adalah Allah dan RasulNya." Mendengar jawaban Abu Bakar, Umar menangis dan berkata, "Demi Allah! setiap aku berbuat kebajikan selalu saja kamu tandingi, wahai Abu Bakar!" Ayat ini pada dasarnya memuji Umar yang bersedekah secara terang-terangan agar dicontoh orang lain, juga memuji Abu Bakar yang bersedekah secara rahasia, dan kedua perbuatan itu patut dicontoh.(Asbabun Nuzul, Studi Pendalaman Al-Qur'an: 123).

TAFSIR AT-TABARI

Ayat ini menjelaskan tentang baiknya mengumumkan sedekah yang akan diberikan. Akan tetapi, jika menutupinya dan tidak mengumumkannya, yaitu memberikan sedekah kepada orang fakir secara sembunyi-sembunyi, maka hal itu lebih baik lagi.

Namun, hal ini hanya berlaku bagi sedekah yang sunat karena untuk ibadah wajib lebih utama diumumkan.

Maksud penggalan ayat (Dan Allah akan menghapus  sebagiam kesalahan- kesalahanmu ) ini mengandung berita dari Allah tentang Dzat-Nya, bahwa Dia akan memberikan balasan berupa dihapuskannya kesalahan kepada orang yang bersedekah (sunnat) secara sembunyi,Dan hanya mengharap ridhaNya. (Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu  kerjakan) yaitu berupa sedekah disembunyikarm dan ditampakkan, dirahasiakan dan yang disebutkan, dan hal-hal lain dari amalan kalian. (Mahateliti) yaitu mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahwa tidak akan ada yang 'tersembunyi dari-Nya sesuatu pun. Dia meliputi segala suatu, dan setiap hal diketahuiNya, sehingga Dia akan memenuhi balasan segala Dia akan memberikan balasan kepada yang sedikit dan kepada yang besar.(Tafsir At-Tabari Jilid V, 2001;14-18)

TAFSIR IBNU KASIR

Dalam ayat ini Allah Swt. menegaskan, sedekah yang dikeluarkan secara rahasia jauh lebih utama dibandingkan sedekah yang dikeluarkan secara terbuka

Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut,"Membaca Al-Qur’an dengan keras sama seperti mengeluarkan sedekah dengan terbuka. Membaca Al-Qur’an dengan pelan sama seperti bersedekah dengan cara tertutup."

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut. "Tujuh orang yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. di saat tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, yaitu (1) imam yang adil, (2) pemuda yang selalu beribadah kepada Allah Swt., (3) dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah atas dasar cinta kepada Allah Swt., (4) orang yang hatinya selalu bergantung kepada masjid (ahli masjid),(5) laki-laki yang didatangi dan dibujuk oleh seorang perempuan yang memiliki harta dan kekuasaan, tetapi ia mengatakan, 'Aku takut kepada Allah Swt., ' (6) orang yang bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui sedekah yang dikeluarkan tangan kanannya, dan (7) orang yang selalu berzikir kepada Allah Swt. sampai berlinang air mata. "

Di akhir ayat dijelaskan, bersedekah secara rahasia dapat meninggikan derajat di hadapan Allah Swts Semua dosanya pun akan diampuni oleh-Nya.

(Al-MisbahAl-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999:153)

HADIS SAHIH

Hadis riwayat Abu Masud ra.,ia berkataj "'Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami menjadi kuli angkut (dan kami bersedekah dari upah pekerjaan Abu Aqil bersedekah dengan setengah sha Seseorang membawa sedekah sedikit lebih banyak darinya, Orang-orang munafik berkata, 'Sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah orang init orang ini melakukan hal itu hanya untuk pamer.'Lalu turunlah ayat yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan selain sekadar jerih payahnya.” (HR Muslim, 1692)

KHAZANAH PENGETAHUAN

Hikmah Sedekah

Dalam ayat 271 tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam Al-Qur'an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surgaNya.

Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam Al-Qur'an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah.(Harun Yahya, Beberapa Rahasia Dalam Al-Qur'an, 2004)



 

Selasa, 05 Oktober 2021

AQIDAH

MAKNA SYIRIK


Tanya
: Dalam hadits disebutkan : ‘Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah berbuat kesyirikan’. Bukankah syirik itu maknanya menyekutukan Allah ? apakah orang yang tidak mengerjakan shalat itu artinya telah menyekutukan Allah ?. Terima kasih.

Jawab : Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa man waalah, wa ba’d. Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Hadits yang Anda maksud adalah sebagai berikut :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِرْكِ وَالكُفرِ تَرْكَ الصَّلاة

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 82, At-Tirmidziy no. 2618 & 2620, Abu Daawud no. 4678, dan yang lainnya - dari Jaabir radliyallaahu ‘anhu].

Dalam jalan lain dibawakan dengan lafadh :

لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالشِّرْكِ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةِ، فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Tidak ada penghalang antara seorang hamba dengan kesyirikan kecuali meninggalkan shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah berbuat kesyirikan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1080, Al-Marwaziy dalam Ta’dhiim Qadrish-Shalaah 1/572-573, Abul-‘Abbaas Al-Asham dalam Hadiits-nya no. 54 & 130, Duhaim dalam Al-Fawaaid no. 49 & 150, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 1/345, dan yang lainnya; shahih - dari Anas radliyallaahu ‘anhu].

Syirik secara istilah didefinisikan sebagai :

جَعْلُ شريك لله في حقه

“Menjadikan sekutu bagi Allah dalam hak-Nya” [Tahdziibul-Lughah 2/1865, An-Nihaayah fii Ghariibil-Hadiits hal. 476, dan Al-Kabaair hal. 38].

Namun para ulama menjelaskan bahwa kata syirik dalam sebagian nash kadang dimutlakkan untuk makna kekufuran. Abu Hilaal Al-‘Askariy rahimahullah berkata :

الْفرق بَين الْكفْر والشرك أَن الْكفْر خِصَال كَثِيرَة على مَا ذكرنَا ، وكل خصْلَة مِنْهَا تضَاد خصْلَة من الْإِيمَان ؛ لِأَن العَبْد إِذا فعل خصْلَة من الْكفْر فقد ضيع خصْلَة من الْإِيمَان . والشرك خصْلَة وَاحِدَة ، وَهُوَ إيجاد آلِهَة مَعَ الله ، أَو دون الله ، واشتقاقه ينبئ عَن هَذَا الْمَعْنى . ثمَّ كثر حَتَّى قيل لكل كفر شرك ، على وَجه التَّعْظِيم لَهُ وَالْمُبَالغَة فِي صفته

“Perbedaan antara kekufuran dan kesyirikan adalah : Bahwasannya kekufuran itu terdiri dari banyak cabang sebagaimana telah kami sebutkan, dimana setiap cabang kekafiran tersebut berlawanan dengan cabang iman. Hal itu dikarenakan jika seorang hamba melakukan salah satu cabang kekufuran, maka ia menghilangkan salah satu cabang iman. Adapun kesyirikan hanyalah mempunyai satu cabang saja, yaitu mengadakan sesembahan lain bersamaan dengan ia menyembah Allah, atau tanpa menyembah Allah. Dan asal katanya menunjukkan makna ini. Kemudian syirik ini menjadi bercabang banyak, hingga dikatakan bahwa kekufuran itu adalah kesyirikan untuk menunjukkan besarnya perkara dan membesarkan penggambaran sifatnya” [Al-Furuuq Al-Lughawiyyah, hal. 191].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

إن الشرك والكفر قد يطلقان بمعنى واحد، وهو الكفر بالله تعالى، وقد يفرق بينهما

“Sesungguhnya kesyirikan dan kekufuran kadang dimutlakkan pada satu makna, yaitu kekefuran pada Allah ta’ala. Dan kadang dibedakan maknanya antara keduanya” [Syarh Shahiih Muslim, 2/71].

Contohnya adalah sebagaimana hadits yang Anda tanyakan. Juga ada dalam ayat berikut :

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku" [QS. Al-Kahfiy : 42].

Kata ‘syirik’ dalam ayat di atas maknanya kufur. Ini ditunjukkan pada ayat sebelumnya :

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا * وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لأجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا * قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلا

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia dhalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu". Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [QS. Al-Kahfi : 35-37].

Mengomentari QS. Al-Kahfi ayat 42 di atas, Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

أي : يا ليتني عرفت نعم الله علي، وعرفت أنها كانت بقدرة الله، ولم أكفر به

“Maksudnya adalah : ‘Aduhai kiranya dulu aku mengakui kenikmatan yang telah Allah berikan kepadaku, mengakui hal itu terjadi karena kekuasaan Allah, dan aku tidak mengkufurinya” [Tafsiir Al-Qurthubiy, 10/419].

Jadi kesimpulannya, syirik dalam hadits yang ditanyakan maknanya adalah kekufuran.

Wallaahu a’lam.