Barang siapa berharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.(Qur'an Surah, Al-Kahfi :110)
Ka'bah adalah rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah (Yang Maha Suci dan Maha Tinggi) oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Rukun Islam lima terdiri dari bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Yang Maha Suci dan Yang Maha Tinggi) dan Nabi Muhammad (semoga damai dan berkah Allah besertanya) adalah Rasulullah (Yang Maha Suci dan Yang Maha Tinggi), mengerjakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, zakat, dan haji di bulan Dzulhijjah.
Masjid Nabawi yang berada di
Madinah adalah masjid tersuci kedua dan salah satu yang terbesar di dunia.
Salah satu dari dua keistimewaan yang paling penting dari masjid adalah bahwa
lokasi makam Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam , Khalifah Abu Bakar ra,
dan Khalifah Umar ra berada di dalam Kubah Hijau di tengah masjid. keistimewaan
penting lainnya dari masjid ini adalah bahwa pahala yang diberikan oleh Allah
(Maha Suci dan Ta'ala) untuk shalat yang dilakukan di masjid ini adalah 1.000
dari masjid lain di dunia, tidak termasuk Masjid Al-Haram di Mekah dan Masjid
Al-Aqsha di Yerusalem.
19. Atau seperti (orang yang ditimpa)
hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan,petir, dan kilat. Mereka
menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena
takut mati. Allah meliputi orang-orang kafir.
ASBABUNNUZUL
Dari Abdullah Ibnu 'Abbäs dan Abdullah Ibnu Mas'ud
diceritakan bahwa ada segolongan kaum munafik yang telah masuk Islam setelah hijrahnya
Rasulullah saw. Keadaan mereka seperti seseorang yang terjebak dalam kegelapan.
Lalu, mereka berusaha mencari pencahayaan dengan menyalakan api. Akan tetapi, setiap
kali dia menyalakannya, api itu padam.
Perumpamaan mereka juga seperti orang yang ditimpa
hujan lebat yang disertai kilat, petir, dan guruh. Mere$a pun berusaha
berlindung karena takut bahaya menimpa. Perumpamaan ini selaras dengan tabiat mereka,
yaitu suatu ketika mereka syirik, kemudian mereka beriman, kemudian kembali
sesat dan kafir. Mereka berada dalam kesamaran antara halal dan haram, antara
yang baik dan yang buruk. Dua perumpamaan ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang akan
terungkap perbuatan nifaknya. (Lubäbun Nuqül: 8)
TAFSIR AT-TABARI
Lafadzh AS-saibu sinonim dari kata Al-qatru, Al-mataru,
dan Al-gaisu, yang semuanya mempunyai arti yang sama yaitu hujan. Melalui
perumpamaan hujan, ayat ini memperjelas ciri orang-orang munafik yang pura-pura
masuk Islam padahal mereka tetap tenggelam dalam kekafiran.
Menurut At-Tabari , hujan adalah gambaran umum
keimanan orang-orang munafik. Mereka secara dzahir mengaku beriman padahal hati
mereka mendustakan, Suasana gelap saat hujan terjadi adalah ibarat kesesatan
mereka yang bersumber dari kebutaan dan kebodohan mereka. Secercah cahaya kilat
adalah ibarat cahaya keimanan mereka yang hanya sekelebat. Sedangkan takutnya
mereka terhadap suara petir dengan menutupkan jari jemari mereka ke telinga
adalah ibarat ketakutan atau paranoid mereka yang disebabkan hati mereka lemah
akibat penyakit ragu, Mereka ragu apakah ancaman yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad saw, itu benar atau tidak. Mereka khawatir bila ternyata ancaman itu
bohong. Namun, mereka juga takut jangan-jangan ancaman yang dikatakan oleh Nabi
Muhammad saw. itu benar, bahwa siksa Allah akan turun di halaman rumah mereka.
Akan tetapi, walaupun orang-orang munafik di dunia
ini pandai bersandiwara menyembunyikan kekafirannya Allah tetap meliputi mereka
(Wallahu muhitum bilkafirin). Adapun makna Allah meliputismereka menurut Mujahid
dan Ibnu 'Abbäs adalah bahwa Allah Swt. akan menyiksa dan mengumpulkan mereka
seluruhnya di neraka jahanam. (Tafsir At-Tabari Jilid l, 2001:373-378)
TAFSIR IBNU KASIR
Dalam ayat init Allah Swt. memberikan perumpamaan
lain untuk orang munafik. Berawal dari keraguan mereka akan kebenaran yang
hakiki, mereka pun digiring ke dalam kesesatan. Hal inilah yang menyebabkan
hati mereka selalu diliputi rasa takut, khawatir, dan ragu-ragu.
Menurut Ibnu 'Abbäs dan Ibnu Mas'ud, kata (Ash-Shaibu)
dalam ayat ini bermakna hujan lebat. Pendapat yang sama dikemukakan Abu Aliyah,
Mujahid, Safid bin Jubair, Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, Athiyyah Al- Aufi,
Atha Al-Khurasani, As-Saddi, dan Rabi bin Anas. Sementara itu, Dhahhak mengartikannya
sebagai mendung. Pendapat pertama merupakan pendapat yang lebih masyhur di kalangan
ulama ahli tafsir. Ayat ini bisa juga berarti hujan lebat yang turun dalam
kegelapan.
Perumpamaan ini bukan hanya berwujud hujan lebat,
melainkan hujan lebat yang disertai dengan kegelapan, petir, dan kilat. Dalam
keadaan genting seperti itu, hati mereka diliputi rasa takut dan gemetar serta
takut akan kematian. Bahkan, mereka menutup telinga karena gelegar suara petir
yang bersahut-sahutan. Kilatan-kilatan yang disertai hujan ini semakin membuat mereka panik. Begitulah
yang terjadi jika Allah Swt. berkehendak. Tidak ada seorang pun yang bisa
menghalangi kehendak-Nya. (Al-Misbäh Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999:
32-33)
HADIS SAHIH
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., "Bahwa
beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila
Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira dengan ketidakikutsertaan mereka
bersama Rasulullah saw. Lalu, apabila Nabi saw. telah kembali, mereka
mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian
dengan apa yang tidak mereka perbuat. Lalu, turunlah ayat, (Janganlah sekali-kali
kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka
kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka
kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa.)" (HR
Muslim, 4981)
KHAZANAH PENGETAHUAN
Menahan Diri dari Kemunafikan Seseorang yang
memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang sombong.
Dengan kehendak Allah,mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat seperti itu.
Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diber( pengetahuan yang ditanamkan
dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan mengetahui orang-orang
munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya dipikirkan dengan bersikap
munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari yang sebenarnya.
Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicara
dan penampilannya.Meskipun orangorang seperti ini tidak dapat dikenali oleh
mukmin sejati, Allah mengetahui kepura-puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha
Mendengar setiap ucapan dan kata-kata dan Dia Maha Melihat setiap tingkah lakunya.
Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam firman-Nya.
Oleh karena itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya.
la seharusnya menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang
mengarah pada kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan. (Harun Yahya, Keikhlasan
dalam Telaah Al-Qur'an, 2003)